Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___________________________________________
"Papa ini sudah kasih kamu uang loh," Papa Fiony berkacak pinggang kesal melihat kepulangan anaknya yang ngaret terlalu sore dengan struk panjang berisi rincian jenis pelayanan bengkel. "Semuanya habis?" Sekali lagi untuk memastikan, Papa Fiony membaca dengan teliti struk yang dibawa anaknya. Tidak ada daftar harga yang mencurigakan, siapa tahu Fiony menggelembungkan anggaran.
Ah, lagipula itu tidak akan terjadi. Delapan belas tahun Papa Fiony memperhatikan anaknya polos dan baik, tidak akan berani Fiony berbuat seperti itu. Juga, bengkel tempat anaknya itu menservis motor bukanlah bengkel ecek-ecek. Staff di sana kredibel dan tempatnya bersih sengaja disetel nyaman sesuai selera anak muda. Bengkel Oracle reputasinya tidak kaleng-kaleng.
"Ya, mau bagaimana lagi, Pa? Mobil aku kemarin kan sempet kena banjir."
Benar juga. Papa Fiony menghela napas sambil mengibaskan struk di tangannya, menyerah mengintrogasi anak perempuannya itu.
"Tumben Fiony betah sama bau oli, betah lama-lama di bengkel? Dulu dia males banget disuruh ngurus mobil ke bengkel komplek depan, kan? Jangan-jangan malah ngelayap main, Pa. Mentang-mentang udah jadi maba, nongkrong teruss" Viana menimpali dari pintu menuju ruang makan.
Papa Fiony mengamati perubahan wajah Fiony. Apa yang Viana katakan sedikit memberikan pengaruh. Gelagat kecil remaja itu menunjukkan dia menyembunyikan sesuatu, tapi takut untuk diutarakan. Apa itu? Sejak kecil, semua anaknya diajari untuk terbuka dengan orang tua.
Benarkah Fiony pergi bermain? Tidak. Ia paham betul kilometer yang tercatat di mobil. Angka-angkanya akurat menunjukkan jarak dari rumah ke bengkel Oracle bolak-balik tanpa mampir-mampir. Fiony tidak mungkin ngelayap seperti yang Viana katakan.
Lalu apa?
Papa Fiony mengibaskan tangannya. Meminta semua anaknya bersiap membersihkan diri dan mereka bisa memulai makan malam. Namun, matanya tidak serta merta lepas mengawasi Fiony. Kejanggalan ini harus ia pecahkan. Mungkin tidak bisa sekarang, tapi besok ia bertekad untuk mendapatkan jawabannya.
Apa yang Fiony sembunyikan?
----
Papa Fiony berakhir berdiri bersandar di depan sebuah toko yang tutup. Bajunya tertutup jaket kulit hitam, kacamata hitam menyamarkan rupanya, topi pelukis berwarna coklat sukses membuatnya memiliki identitas baru untuk misinya menguntit anaknya sendiri. Jaraknya dengan bengkel Oracle cukup jauh jika jalan kaki, tapi dia bisa melihat Fiony dengan jelas baru saja memarkirkan mobilnya untuk diservis, lagi. Untuk apa? Mobil itu baru kemarin masuk bengkel. Kenapa Fiony membawanya lagi ke sana? Papa Fiony memutuskan untuk mendekat, dia perlu mendengar percakapan Fiony di sana. Dugaan Fiony yang sedang kasmaran disimpan jauh di dalam lubuk hatinya, tapi dia juga tidak akan mengelak jika putrinya itu memang sedang kasmaran. Umurnya sudah delapan belas tahun, memang sudah waktunya.
Kalau memang begitu, lalu siapa orang yang sedang digandrungi Fiony?
"mobilnya kenapa, mbak?" Seorang karyawan keluar untuk menyambut Fiony. Baju seragamnya belum terkena oli, menandakan bahwa Fiony adalah pelanggan pertama di bengkel itu. Papa Fiony sempat ragu melihat rupa karyawan itu. Masa si perawakan manis, lemah lembut dan kulit putih cerah seperti itu kerja jadi montir bengkel? Papa Fiony berpikir mungkin karyawan itu adalah staf di bagian administrasi yang melayani Fiony lebih dulu sambil menunggu karyawan lapangannya muncul.
"Bocor. Roda belakang." Fiony menjawabnya dengan singkat. Detik berikutnya, Papa Fiony dibuat berkedip beberapa kali saat melihat betapa cekatan dan terampilnya karyawan dengan rambut diikat ke belakang itu menyiapkan segala keperluan untuk melepas ban belakang mobil milik anaknya. Lalu pengecekan di mana lokasi lubang yang membuat ban bocor.
perempuan muda itu hanya bekerja sendiri, tapi kinerjanya efisien, terampil, dan cepat. Pantas bengkel Oracle memiliki reputasi yang bagus. Satu pekerjanya saja memiliki kualitas setara lima pekerja di bengkel pinggir jalan. Tidak kaleng-kaleng.
"Sudah, Mbak-"
"Rem saya coba dicek."
"Kemarin saya sudah cek-"
"Cek aja lagi."
Papa Fiony mengerutkan dahi, begitu juga karyawan bengkel. Rem? Tidak ada masalah di bagian itu. Mobil jarang dipakai jarak jauh tidak akan membuat kampas rem cepat habis. Juga, servis yang kemarin itu tergolong lengkap. Kampas rem tidak diganti kemungkinan besar memang tidak ada kerusakan.
Karyawan itu tidak punya pilihan lain. Dia menuruti permintaan Fiony, kembali berjongkok untuk memastikan kampas rem dalam kondisi terbaik. Karyawan itu terlalu sibuk mengurus mobil, melewatkan bagaimana Fiony menutup mulutnya dan sebagian pipinya yang memerah. Sebuah senyuman janggal yang ditahan itu sudah cukup membuat Papa Fiony mengerti apa yang terjadi pada Fiony.
Anak itu sedang kasmaran kepada karyawan bengkel itu.
Papa Fiony tidak marah. Justru dia bahagia anaknya itu mau memberikan kesempatan hatinya terbuka untuk orang lain. Kepribadiannya yang kadang suka mengejutkan sempat membuat Papa Fiony khawatir Fiony harus menghabiskan sisa hidupnya sendiri menjomblo. Namun, melihat bagaimana sabarnya karyawan bengkel menanggapi permintaan Fiony, ia bisa lega. Kini yang tersisa hanyalah mau seberapa jauh Fiony mengejar itu karyawan? Mau seberapa lama karyawan itu tidak menyadari ada salah satu pelanggannya yang menaruh hati?
Papa Fiony menghela napas. Ya, asal jangan terlalu lama saja. Nanti dompetnya tekor uang habis hanya dipakai anaknya itu modus ngapelin ayang di bengkel berkedok minta servis mobil.
"Kampas remnya oke, Mbak."
Fiony berdecak. "Masa?"
"mbaknya ga percaya sama saya? Atau kamu lagi ngerjain saya?"
"Kenapa si kamu kalau kerja cepet banget? Sapa tau kan ga teliti."
Olla mengerutkan dahi. Untuk beberapa detik pertama dia mendengar Fiony mengatakan itu, jujur, dia sedikit kesal. Dia sedang bekerja sendiri karena rekannya di jadwal pagi ini sedang sakit. Lalu, pelanggan pertamanya ternyata menyebalkan seperti Fiony. Olla adalah lulusan terbaik jurusan teknisi kendaraan di sekolahnya. Orang biasa seperti Fiony tidak ada hak menuduhnya tidak kompeten tanpa menunjukkan bukti. Namun, gelagat Fiony lama-lama bisa dipahaminya.
Remaja itu ingin menghabiskan waktu dengannya lebih lama.
Itukah alasan sebenarnya Fiony memborong semua layanan bengkel kemarin? Ditambah hari ini kembali datang dan membuat perkara protes pekerjaan Olla terlalu cepat takut tidak teliti padahal maksud sebenarnya ingin berlama-lama memperhatikan Olla bekerja.
Jika memang iya, Olla tersenyum.
"Sudah-sudah, saya ga bisa marah sama kamu." Olla menyimpan kartu stafnya yang sepertinya sejak tadi diperhatikan oleh Fiony. Memergoki hal itu membuat Olla terkikik dalam hati. Fiony ingin mengetahui namanya dengan cara seperti itu? Olla tidak akan membiarkannya. Dia akan memaksa remaja itu frustasi memikirkan cara menanyakan namanya secara langsung.
"Cuma, kalau mau main di sini, saya ga akan melarang. Kamu datang ke sini pagi-pagi protes saya kerjanya cepat cuma karena ingin ketemu sama saya. Iya, kan? Mbak Fiony?"
Olla mengetahui nama Fiony dari formulir membership yang diisi oleh remaja itu kemarin. Satu untuk Olla dan kosong untuk Fiony membuat Olla dan Papa Fiony tersenyum geli dalam batin. Reaksi Fiony yang terkejut dengan pipi memerah juga tidak kalah berharga.
Papa Fiony meninggalkan tempatnya mengamati bengkel. Dalam hati, dia sudah memberi restu bagi Olla untuk mendekati Fiony.