Request Saweria Fiony-Chika

1.2K 87 0
                                        

Spesial request dari:

___________________________________________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

___________________________________________

Chika, siswa berkulit pucat yang hobi tersenyum. Apapun kejadiannya, ia hadapi dengan senyum. Suka maupun duka. Apalagi saat suka, termasuk saat menyapa setiap orang yang dijumpainya.

Tak heran, ada yang terpesona terhadapnya. Siapa lagi kalau bukan si Cantik, Fiony. Cewek manis ini menyukai Chika apa adanya. Ia selalu senang jika berada di dekat Chika.

Ternyata, Chika juga merasa nyaman dengan Fiony. Kesimpulannya, Chika dan Fiony saling suka. Tetapi, Chika belum berani nembak Fiony. Padahal, Fiony sudah sangat sabar menunggu. Banyak ‘kode’ yang dilempar oleh Fiony, banyak pula pancingan yang diberikannya. Namun semuanya belum juga ditangkap oleh Chika.

—Eh, bukan. Maksudnya, semua sudah tertangkap oleh Chika. Chika-nya aja yang belum berani mengungkapkan, bahwa semuanya sudah masuk ke hatinya.

Seperti di pagi ini, Chika dan Fiony berjalan bareng menuju kelasnya. Kemudian, Ashel menyapa Chika dan Fiony riang. Mereka berdua menyapa balik bersamaan. Seperti biasa, Chika tersenyum, bahkan saat Ashel sudah berlalu.

Karena itu, Fiony berceletuk, "Jangan kasih senyum kamu ke semua orang! Aku cemburu."

Chika tersadar, "Ah, maafin yaa, Fiony. Aku udah kebiasa kaya gitu." Ia menggaruk kepala.

"Tapi aku cemburu, tahu!" sahut Fiony lagi, dengan nada agak kesal.

Sambil berjalan, Chika tersenyum pada Fiony. “Fiony nggak perlu cemburu,” katanya menenangkan. “Aku juga bakal kasih senyuman paling baik ke kamu, kok. Tenang aja." Sahut Chika sambil memamerkan gummy smilenya.

"Hm."

---

Pada suatu hari saat jam istirahat, Chika berada di bangkunya. Ia terlihat seperti mengerjakan sesuatu. Ada beberapa buku yang ia lihat secara bergantian. Wajahnya tampak tenang, namun serius. Seakan keadaan ribut-ribut saat istirahat bisa dihiraukannya.

Fiony, yang awalnya mengobrol dengan Flora di ambang pintu, melihat Chika yang dianggapnya sok serius itu. Ia pun pamit pada Flora. Kebetulan, Flora juga ingin pergi ke kantin, karena diajak oleh Ashel juga.

Fiony menarik bangku dari samping kanan Chika. "Lagi apa, Chik?" tanyanya, duduk di bangku itu, lalu meliukkan kepala untuk melihat lebih dekat.

"Ngerjain tugas." jawab Chika santai, tangan dan matanya masih konsentrasi.

"Oh,” Fiony bertopang dagu di sisi meja Chika. “Kenapa nggak nanti malam aja?"

"Jadwal klub dance diundur jadi nanti malam,” Chika membalik halaman buku cetaknya. “Untungnya, cuma hari ini aja. Minggu depan udah kembali normal."

"Oh gituu,” Fiony mengangguk. “Kamu suka banget ngedance ya." pujinya karena kagum, lalu menyenderkan kepala di bahu Chika, tanpa diduga-duga.

Deg!

Wajah Chika memucat. Tubuhnya tegang. Tangannya bergetar, menciptakan kumpulan titik tak menentu di buku tulisnya. Bulu kuduknya berdiri. Terdapat rona merah juga di pipinya.

"F-Fiony!” Chika tergagap. “A-Ak-Aku suka kamu!"

Fiony menarik kepalanya dari bahu Chika. "E-eeh?" serunya kaget, menatap Chika dengan pandangan tak percaya. Matanya terbuka lebar. "Akhirnya kamu nyatain juga, Chika!"

"I-iya!" Chika mengangguk cepat, masih dengan getaran di seluruh tubuh.

Fiony menyadari itu. "Tapi... Kenapa tangan kamu gemeter?” tanyanya, memperhatikan Chika dari ujung rambut sampai tangannya. “Ada coretan juga di buku kamu." Jari telunjuknya mengarah pada kumpulan titik tak beraturan tadi.

Masih dengan suhu tubuh yang memanas, Chika ingin menjawab, "I-itu—"

"Chika! Muka kamu merah!” tukas Fiony tak mendengar kalimat dari Chika barusan, karena saking kagetnya. “Astagaaa! Bola mata kamu bergerak gak beraturan!” Fiony menjadi sangat panik melihat keadaan Chika. Ia berdiri, dan menggeser bangku yang didudukinya ke tempat semula. “kamu kenapa Chik? Astaga!" Fiony meneliti Chika dari berbagai sisi.

Chika menunduk, tak tahan akan rasa malunya. "A-aku gak apa-apa, Fiony!" Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Gadis cantik ini berpikir bahwa Chika nggak dalam keadaan baik. Ia mencari-cari botol minum Chika di kantung ranselnya. Diambilnya botol itu, lalu memberikannya pada Chika.

Glek! Glek! Glek!

Sambil meneguk, Fiony membantu memegang botolnya. Tangan Chika masih bergetar saat memegang botol berisi air mineral itu. Alhasil, saat meneguk tadi, air dari botol dan mulut Chika sedikit bertumpahan.

Selesai minum, Chika menghela nafas panjang. Tubuhnya mulai mendingin. Pikirannya mulai tenang. "Makasih." Ia tersenyum normal kembali pada Fiony.

"Sama-sama,” Fiony memasukkan botol Chika ke dalam kantung ranselnya. “Aku khawatir banget, lho,” ucapnya jujur, kali ini duduk di bangku yang ia pindahkan tadi tanpa menggesernya. “Tadi itu, kenapa? Kamu punya penyakit bawaan? Jantung kali ya?"

Hening.

Senyumnya menghilang. Chika merinding lagi. "Se-sebenarnya...” Ia membuang muka dari Fiony. Beralih memandang buku tulisnya. “Karena—Kalau aku kasih tau, kamu janji nggak marah atau ketawa, ya!" balasnya dengan rasa takut.

“Hm!” Fiony mengangguk.

Di tengah keheningan, Chika mengambil nafas untuk menjawab. Hei, ke mana semua teman-teman mereka? Mengapa kelas tiba-tiba menjadi kosong? Tak apalah. Hitung-hitung, hal itu menjadi sangat menguntungkan bagi Chika.

"A-aku tuh grogi soalnya kepala kamu tadi nyender di pundak aku,” Chika memutar tubuhnya, membelakangi Fiony. Jantungnya berdegup kencang, seolah sedang menghadapi tembakan-tembakan api dari musuh. “Rasanya... Asing. Tapi menyenangkan. Aku jadi kaget."

"Hooo gitu,” Fiony menaruh telunjuknya di dagu. “Maaf kalau begitu. Aku bikin kaget kamu, ya." Si rambut panjang menopang dagu dengan kedua tangannya, memandang punggung Chika—merasa sedikit bersalah—dengan raut wajah menyesal.

"nggak apa-apa. Hehehe,” Chika membalikkan tubuhnya, kembali menghadap Fiony. “Aku cuma belum terbiasa saja. Selanjutnya mungkin nggak akan seperti tadi lagi." Ia tersenyum normal kembali seperti biasa.

Fiony mendengus. Ia bangkit dari bangku. "Berarti,” Ia berdiri—mencondongkan tubuhnya sangat dekat ke arah Chika, tersenyum jahil. “Sekarang sudah bisa?"

Deg!

Bulu kuduk Chika berdiri, wajahnya kembali memerah, dan tubuhnya mematung.

"O-omg!” Chika menggeleng kuat dan mengibaskan tangannya. Matanya terpejam, takut hal memalukan tadi terjadi lagi. Lagi-lagi, wajah pucatnya berdalih dari tatapan Fiony. “Bukan berarti saat ini juga, Fiony..."

"Hahaha," Fiony tertawa sambil menggaruk kepalanya, merasa bersalah lagi.

"Maaf, maaf."

Mereka nggak sadar, keheningan itu memiliki makna tersembunyi. Teman-teman mereka bukanlah menghilang. Sebenarnya, mereka sedari tadi sudah mengintip dari balik jendela. Di akhir dialog, mereka terkekeh pelan melihat adegan Chika dan Fiony. Semuanya bekerja sama untuk melakukan itu secara diam-diam. Termasuk suara tawa, mereka redam dengan menutup mulut memakai telapak tangan.

-OneShoot-
Fiony-Chika.

48Universe (JKT48) 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang