Request Saweria Freya-Fiony

1.3K 102 3
                                        

Spesial request dari:

___________________________________________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

___________________________________________

Aneh rasanya melihat Freya masih terlelap dengan kepala terbenam dalam bantal sepenuhnya. Belakangan ini ada begitu banyak kegiatan yang harus dikerjakan Freya, dan itu membuat Fiony teramat bangga padanya, sungguh, tetapi konsekuensi yang tidak terelakkan adalah frekuensi pertemuan mereka yang nyaris terbabat habis. Freya akan tiba di apartemen sesaat setelah Fiony mematikan lampu kamar, kemudian sudah hilang lagi saat Fiony baru saja hendak membuatkan sarapan keesokan paginya. Mereka masih mengobrol lewat Line, kadang bertelepon juga jika waktu rehat mereka bersinggungan—tapi itu tidak lantas menjadikan keberadaan Freya tampak natural di kamar mereka.

Fiony berkacak pinggang di dekat ranjang, bertanya-tanya apakah dia boleh (atau bisa) membangunkan Freya. Jam digital di nakas menunjukkan pukul dua pagi ketika Fiony terbangun oleh lengan Freya yang merengkuhnya dari belakang, memeluknya erat-erat yang merupakan ritual sebelum tidur Freya selama dua tahun terakhir, jadi setidak-tidaknya perempuan itu baru tidur selama empat jam. Dan posisi tidurnya yang lebih mirip pohon tua yang baru saja roboh ditebang itu masih menggambarkan kelelahan yang amat sangat.

Mungkin nanti saja, pikir Fiony seraya membalikkan badan, menggigiti ujung kuku ibu jarinya selama melangkah ke dapur. Sekarang bahkan belum pukul tujuh. Kalau Freya memang tidak ada jadwal di pagi hari, biar saja dia tidur sampai puas. Freya menolak tawaran untuk dijemput saat syutingnya molor sampai larut malam, berdalih bahwa waktu istirahat Fiony sama penting dengan miliknya, padahal jarak antara lokasi syuting dan apartemen mereka bisa memanen waktu tidur yang lumayan jika dia duduk di bangku penumpang.

Mesin kopi bedesis dan bedeguk, cairan gelap mulai mengucur pelan-pelan ke dalam teko kaca. Fiony membuka lemari es, mencari sesuatu yang bisa diolah, tapi kemudian berpikir lebih baik dia berlari ke kedai terdekat untuk membeli sarapan. Kemampuan memasaknya belum mencapai taraf bisa menyulap bahan mentah tanpa ditemani kegaduhan, jadi Freya pasti terbangun karenanya. Di sisi lain, dia tidak ingin pergi keluar hanya untuk mendapati Freya sudah berangkat ketika dia kembali nantinya.

Pada akhirnya Fiony mempercayakan mesin perebus telur elektrik melakukan tugasnya, ditambah dengan beberapa lembar roti panggang. Ini sudah cukup. Terberkatilah inovasi-inovasi yang memudahkan pekerjaan masak-memasak.

Fiony sedang meletakkan piring-piring di meja saat mendengar nada dering yang sudah familier—dan tanpa sadar telah diasosiasikan dengan kekecewaan oleh Fiony. Tidak bertahan lama, hanya sekitar empat atau lima detik, sebelum suara Freya memberikan jawaban kepada pihak seberang. Konten percakapan itu tidak terdengar, terbelah oleh jarak serta dinding, tapi Fiony lebih tahu untuk mengambil kembali piring yang baru saja ditata di seberang miliknya dan alih-alih membuatkan teh susu untuk Freya. Satu sesap saja tidak memerlukan banyak waktu. 

Telinga Fiony tetap terpasang, mencoba menyimak kebiasaan pagi Freya: pintu lemari dibuka kasar, benda-benda berjatuhan dari gantungan yang disusul oleh sumpah serapah pelan, laci-laci ditarik untuk mencari kaus kaki atau malah aksesoris yang tidak pernah dilihat Fiony.

Semua itu, bagaimanapun, tidak terdengar pagi ini.

Fiony urung menuangkan kopi untuk dirinya sendiri dan berjalan kembali ke kamar. Freya belum beranjak dari posisi telungkup, meski bentuknya sedikit berbeda, dengan tangan yang masih menggenggam ponsel terkulai di sisi bantal. Kini Fiony tak lagi memperhatikan suara langkahnya dan praktis berderap ke sisi ranjang yang ditempati.

“Freya,” panggilnya seraya duduk di sebelah Freya, mengguncang punggungnya. Tidak ada pergerakan. “Freya, sekarang udah hampir setengah tujuh. Jam berapa kamu harus berangkat nanti?”

Freya menarik napas tajam, kemudian memutar leher ke arah Fiony. Matanya mengerjap satu kali, dua kali, sebelum menyipit, jelas-jelas tidak memahami makna pertanyaan barusan.

“Apa...?”

“Udah hampir setengah tujuh.” Fiony meletakkan telapak tangan di kening Freya, tapi merasakan suhunya normal-normal saja. Dia menyusuri tangan ke kepala Freya, menyisir rambutnya ke belakang. “kamu harus berangkat jam berapa? kamu gak demam, tapi aku bisa nganterin ke lokasi kalau kamu ngerasa kurang enak badan.”

Entah karena tangan yang berada di kulit kepalanya, atau justru karena perkataan Fiony, tatapan mata Freya akhirnya makin tajam. Kesadarannya sudah semakin terkumpul dan kini dia mengerling ke atas, mempelajari ekspresi wajah Fiony.

“Bagaimana kalau jam dua belas?”

“Oke, gak masalah, kegiatan aku masih jam enam sore nanti. Masih ada waktu untuk siap-siap.”

Freya meraih pergelangan tangan Fiony yang masih di kepalanya, meraba-raba untuk mencari celah jemarinya. “Bukan, maksud aku gimana kalau kita keluar jam dua belas? Kita udah lama banget gak makan di luar berdua.”

Fiony terdiam, lantas membalas tatapan Freya yang masih ditujukan padanya. “Sori,” dia berkata pada akhirnya. “Aku gak ngerti. Maksudnya?”

“Astaga Tantri, aku pasti udah menghilang lama banget ya sampai-sampai lupa caranya ngobrol sama kamu.” Freya terkekeh sembari mengangkat tubuhnya menjadi duduk. Tangan mereka, yang tadi disatukan Freya dengan menggenggam pucuk-pucuk jari Fiony, diletakkan di atas lututnya. Mengeluarkan cengirannya. “Hari ini aku kosong. kamu mau ngedate sama aku, fiony Alveria Tantri?”

“Kosong,” ulang Fiony. Freya mengangguk.

“Kosong.”

“Kenapa?”

Cengiran Freya hilang, digantikan kerutan dahi. “Apanya yang kenapa? Kebetulan ada sedikit kendala teknis di lokasi jadi take scene aku dituker jadi besok.”

“Begitu aja?”

“Begitu aja.” Freya mengangkat tangan mereka lalu mengecup punggung tangan Fiony. “Tapi terutama karena aku kangen kamu.”

Jantung Fiony serasa meleleh menjadi genangan merah muda yang kemudian dipompakan ke seluruh pembuluh darahnya, menyebarkan kehangatan sampai ke ujung-ujung saraf. Dia menyentakkan tangannya dari milik Freya. “Hii, jijik.”

“Jijik, katanya.” Freya tertawa dan sengaja menangkap Fiony menggunakan dua lengan, mendekapnya erat-erat seperti anak kecil yang memeluk boneka beruangnya tanpa ampun. “Coba kita lihat apa ini masih buat kamu jijik. Dasar anak sok tahu.”

Fiony tertawa, kemudian menggeliat kegelian saat Freya mulai menanamkan lusinan kecupan ringan di puncak kepala serta tengkuknya. Dia memukul kecil punggung Freya sebagai tanda menyerah. “Oke, oke. Aku kalah. Stop ya Wardana.”

Freya sudah tersenyum ketika Fiony berhasil memundurkan badan. Cahaya matahari pagi yang menyeruak melalui celah tirai jatuh ke sebagian wajah Freya terutama kerlip di matanya yang membentuk bulan sabit. Ekspresi yang sudah lama tidak dilihat Fiony, sampai-sampai dia merasakan dirinya kembali jatuh cinta pada perempuan di hadapannya.

“Jadi,” kata Freya. “Selamat pagi.”

Sungguh menakjubkan bagaimana sapaan yang sudah diterima Fiony dari ratusan manusia di luar sana menjadi sedemikian bermakna di tengah kamar tidur yang masih berantakan dan sedikit remang. Kata-kata itu begitu sederhana dan polos, tapi seakan mampu membayar semua hening dan sepi yang selama ini membuntuti pagi-pagi Fiony, ketika dia menggigit roti sendirian sambil memandang kursi kosong di seberang meja. Dia balas tersenyum.

“Selamat pagi.”



-OneShoot-
Freya-Fiony.

48Universe (JKT48) 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang