Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___________________________________________
Lia menghela napas begitu mendapati Lyn di sudut apartemen mereka sepulang kegiatan.
Lyn yang telah menjadi pacarnya dua tahun terakhir itu tengah duduk di sofa paling ujung. lututnya tertekuk, secangkir teh hangat dan biskuit terletak rapi di atas meja.
di tangannya ada sebuah novel tebal berbahasa inggris—yang belakangan ini memang tak pernah tersentuh karena sibuk urusi revisian skripsi.
sekilas, penampakkan sosok Lyn bukanlah sesuatu yang terlihat pantas untuk dipusingkan. sekilas.
tapi Lia telah mengenal Lyn cukup lama untuk memahami gerak-gerik tak mengenakkan dari si mungil itu.
Lyn, pacarnya yang sumpah demi manggis begitu manis itu, tengah merajuk. ngambek. marah.
buktinya, mata penuh kilau Lyn tidak bergerak mengikuti paduan kata dalam tiap alinea, tetapi hanya menatap kosong bacaan di depannya. bukti lainnya, Lyn sama sekali tidak menyapa Lia yang baru saja pulang.
padahal biasanya langsung peluk-peluk. padahal biasanya langsung cium pipi kanan pipi kiri.
setelah meletakkan tasnya, Lia melangkah mendekati Lyn, lantas duduk di sampingnya.
“kamu marah?” suara Lia memecah keheningan apartemen.
salah satu alis Lyn terangkat, “hah? enggak, tuh? perasaan kamu aja kali.”
Lia mencebik dalam hati. iya, memang perasaan Lia saja, benar, tidak salah. tapi perasaan Lia itu didasari fakta dan bukti-bukti konkrit.
“berarti bener, kamu marah,” simpul Lia.
“enggak, Li. ih, kan aku udah bilang,” Lyn menutup buku bacaannya, “aku nggak marah.”
Lyn makin tak paham dengan gelagat pacarnya. bisa-bisanya pulang latihan malah minta dimarahi.
apa jangan-jangan Lia habis nyusruk yang bikin otaknya agak somplak? tapi Lyn sama sekali tidak melihat luka lecet-lecet pada Lia.
“Kamu kenapa, sih? habis kejedot, ya?” tanya Lyn.
“kamu yang kenapa. marah kok ditahan-tahan,” omel Lia.
“habis, habis..” Lyn menunduk, memainkan jemarinya, “nanti kayak anak kecil. marah-marah nggak jelas. aku kan udah dewasa, harus bisa atasi semuanya dengan kepala dingin.”
tatapan mata Lia melembut. hilang sudah ketegasannya tadi. tangannya ia bawa meraih tubuh sang pacar, lantas memeluknya erat-erat.
“Lyn, pacarku yang paling cantik, paling kusayang, paling unyu-unyu kayak pikachu,” Lyn tenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Lia, tersipu atas semua pujian yang baru saja Lia lontarkan.
“kamu itu manusia, sayang. punya emosi. kalau marah ya marah aja. kalau sedih ya sedih aja. kalau mau nangis ya nangis aja. kamu lupa, kalau orang dewasa juga manusia,” Lia mengusap pelan surai Lyn, sekaligus hirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang bercampur dengan sabun aroma lavender.
“kalau kamu nggak tahu harus lampiasin ke siapa, inget, di sini ada aku. bentak aja aku, gapapa. marahi aja, nangis ke aku. gapapa,” lanjut Lia.