Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___________________________________________
Lampu ruangan mati, hanya ada cahaya dari layar komputer. Raisha masih serius mengerjakan tugasnya, mencoba-coba beberapa rumus, dan hitungannya.
Fokusnya terpecah ketika pintu ruangannya dibuka. Dia langsung menoleh dan mendapati pacarnya yang baru sampai dan tadi berada dilantai bawah bersama callie berdiri di pintu. Wajahnya datar, tidak ada senyum lucunya.
“masih sibuk ya? Aku boleh masuk?” Lulu bertanya, sopan sekali. Raisha mengangguk cepat, memundurkan kursinya sedikit agar Lulu bisa melihat wajahnya dengan jelas.
“Masuk aja sini. lagi nugas.” Raisha mengajak Lulu masuk. Lulu kemudian menutup pintu ruangan dan duduk dibelakang Raisha, memperhatikan apa yang sedang dilakukan kekasihnya.
“Sebentar ya sayang. Aku selesain ini dulu deh sedikit.” Raisha berkata tanpa melirik Lulu, berusaha bekerja secepat mungkin agar bisa memeluk kekasihnya itu.
Tidak ada balasan dari Lulu, tapi kemudian suara Lulu memecah fokus Raisha lagi.
“Rai, aku boleh dipangku nggak?” Raisha menengok lebih cepat dari yang dia bayangkan. Lulu memasang wajah paling innocent, dan siapalah Raisha bisa menolaknya.
Kursi dimundurkan sedikit oleh Raisha, memberikan ruang untuk Lulu duduk menghadapnya.
“Boleh, sini aku pangku.” Raisha memberikan satu senyuman hangat.
Lulu beranjak duduk ke pangkuan Raisha. Kedua tangan bertumpu di bahu Raisha. Mereka bertatapan beberapa saat, tapi memalingkan wajah ke arah lain karena malu.
Lulu mengubur wajahnya di bahu Raisha, membiarkan hidungnya menghirup aroma kekasihnya. Kedua tangannya melingkar di leher Raisha.
“Aku selesain ini dulu sebentar ya. Kamu ngantuk ya kak?” Raisha berbisik lembut. Dia merasakan ada gelengan dari Lulu, jadi satu tangannya menepuk-nepuk lembut pinggang Lulu.
“tadi ada latihan untuk setlist baru dan aku masuk line up. Berkali-kali. Badan aku sakit soalnya lumayan susah.” Lulu cemberut, kepalanya sekarang menghadap leher Raisha, membuat Raisha geli karena nafas Lulu mengenai lehernya.
“Gerakan baru ya?”
Satu anggukan antusias dari Lulu, walau kepalanya masih rebah di bahu Raisha.
“Keren gerakannya dari sensei! Aku langsung bisa tadi dua kali coba! Tapi capeeeeeekk.” Merengek. Satu kelemahan Raisha ketika Lulu dalam keadaan capek adalah rengekannya.
Raisha sudah pernah mendiskusikan ini dengan Lulu sebelumnya, dan dia bilang dia juga tidak sadar jika dia sering merengek ketika capek. Iya, itu respon alaminya.
“Udah makan belum kamu?” Raisha mengalihkan topik ke yang lain.
“Udah. Tadi makan ayam. kamu nih pasti yang belum makan.” Lulu menjauhkan wajahnya untuk melihat ke arah kekasihnya.
Raisha mengelak. “Aku udah kenyang tadi aku makan onigiri.”
Lulu menegakkan duduknya, menghalangi pandangan Raisha ke layar komputernya. Raisha pasrah saja, melepaskan mouse dan keyboard-nya sejenak.
Wajah Raisha sekarang ada ditangkupan tangan Lulu. Lulu memaku pandangannya ke arah Raisha. Dua tangan Raisha sekarang berpindah dan terkait di belakang pinggang Lulu. Raisha menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kamu harus makan biar tetep kuat gendong aku.” Lulu mengapit pipi Raisha. “Kalo aku capek, mau di gendong tapi kamu gak kuat, aku minta gendong ke siapa dong?”
Ini bujukan Lulu agar Raisha lebih memerhatikan kesehatannya. Tentunya dengan cara dimana hanya Lulu saja yang bisa melakukannya.
“Terus aku sukanya dipangku. Kalo kamu sakit karena kurang makan, aku dipangku siapa dong?”
Gemas. Raisha gemas sekali. Pinggang Lulu ditarik, membuatnya semakin menempel ke tubuh Raisha. Apitan tangan Lulu di pipi Raisha terlepas, tangannya kembali mengalung di leher Raisha.
“Iyaaa, sayang.” Raisha menurut. “Kamu lucu banget kalo lagi capek gini.” Raisha mengusal hidung Lulu.
“Kalo lagi gak capek, tetep lucu?” Pertanyaan retoris.
“Ya lucu dong.”
“Kalo lagi dance lucu gak?”
“Nggak lucu sih, tapi kamu cantik banget, aku suka.”
Dia senang dipuji. Kepala Raisha dibawanya kedalam pelukan. Lengkungan indah senyuman hiasi wajah Lulu, matanya ikut tersenyum lucu.
“Kalo nanti aku lagi dance, kamu harus liat koreo yang ini, kamu pasti suka!!”
“Pacar aku kerja keras buat ini, aku pasti suka sama hasilnya.” Raisha mengiyakan dengan senyuman lebar di wajahnya.
“Karena aku kerja keras hari ini, aku dapet reward dipangku.” Bisik Lulu di telinga Raisha.
“Hmmm. Iya.” Raisha mengangguk mengiyakan.
“Aku berat nggak? pegel nggak?”
“Nggak dong, aku kan kuat, udah makan, jadi kuat pangku kamu.” Raisha mengembalikan ucapan Lulu tadi.
“Rai, aku mau cium boleh nggak....” Satu request yang ditunggu-tunggu sejujurnya oleh Raisha—
“Disini sempit, kalo lanjutnya dikasur aja gimana?”
—tapi dia tau, satu ciuman saja tidak akan cukup dan pasti berlanjut. Apalagi dengan posisi pangku seperti ini.
”......kalo gitu ayo cepet selesain tugas kamu....” Lulu berkata pelan, masih dipangkuan Raisha, seolah mengetes sampai mana fokus Raisha bertahan.