Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___________________________________________
Flora kini sedang sibuk berguling di kasurnya. siapa yang tidak kaget setelah mendapat pernyataan suka tiba-tiba dari sahabatnya? Ia pikir, selama ini Ia saja yang miliki perasaan lebih pada si member generasi 7 bersurai hitam itu. Sudah sepuluh menit Ia sembunyikan wajahnya di balik selimut coklat susu miliknya. Ponselnya Ia lempar entah kemana.
"Emang kalo disayang sama orang tuh dianggurin gini ya?"
Suara familiar menginterupsi kegiatan Flora. Kepalanya menyembul lucu, mengintip sedikit sumber suara dari celah-celah selimut—masih belum siap bertemu dengan Jessi, kelihatannya.
Jessi menggelengkan kepalanya pelan, seolah tak peka, Ia berjalan mendekati Flora yang sedang sibuk menutupi wajahnya, bibirnya membentuk kurva melengkung ke atas melihat gelungan selimut lucu yang bergerak-gerak gelisah tepat di depannya. Gemas.
Telapak tangannya Ia letakkan di kepala yang lebih mungil, menepuk-nepuknya pelan, "kenapa sih? Berantakan banget ... kalo ada tamu harusnya disambut yang bener dong. Mana mukanya?"
"Kan gue bilang nggak usah nyamper!" Gerutu Flora, badannya bergerak ke sana ke mari berusaha menyingkirkan tangan Jessi dari kepalanya.
Jessi tertawa pelan, mendudukkan dirinya di tepi ranjang, netranya tak lepas pandangi Flora yang sekarang sedang sibuk melepas selimut dari tubuhnya.
"Oh? Ya udah, gue keluar lagi aja ya?"
Mendengar kalimat retoris yang keluar dari bibir perempuan di depannya membuat Flora mengerlingkan netranya malas.
"Bukan gitu..." Flora mendesah pelan, "gue masih mikir aja."
Jessi mengangkat satu alisnya, bibirnya menggumam ‘apa?’ tak bersuara.
"Itu … yang tadi." Flora mengusap wajahnya frustrasi, Ia menggigit bagian dalam pipinya pelan, menahan diri agar tidak menaikkan suaranya kepada Jessi yang kini dengan wajah tanpa dosanya sedang merebahkan diri di atas kasur miliknya.
"Kenapa? Nyesel ya?"
Menyebalkan, benar-benar menyebalkan. Flora mengerucutkan bibirnya, mengalihkan wajahnya dari si surai hitam yang kini sedang memandangnya dengan satu alis terangkat, "nggak nyesel, tapi ngerasa aneh aja."
Suara kekehan pelan terdengar oleh telinganya. Lantas, Flora kembali memberikan–sedikit–atensi kepada Jessi. Tangan mungilnya mengambil bantal, lalu Ia lempar ke wajah cantik perempuan yang sedang duduk di depannya.
"Aduh!" Jessi mengaduh sembari mengusap pipinya kala sebuah bantal dilayangkan yang lebih pendek ke wajahnya.
"Tiba-tiba banget? Sakit nih…." Keluhnya.
Flora memicingkan matanya sambil melemparkan tatapan sinis ke arah perempuan menyebalkan yang kini sedang memanyunkan bibir guna mencari perhatiannya.
"Kalo sakit gini obatnya dicium nggak, sih?"
"Itu maunya lo nggak, sih?" Ujarnya, meniru gaya bicara menyebalkan Jessi.
Bukannya mengelak, Jessi anggukkan kepalanya semangat, kini Ia miringkan wajahnya, memberikan pipinya pada Flora yang sedang memandangnya kesal. "Mana, cepet cium."
Menghela nafas, Flora ragu-ragu memajukan badannya mendekati Jessi, Ia tatap lamat-lamat rupa sahabatnya yang entah sudah berapa lama Ia kagumi dalam diam itu. Dalam sekali kedipan mata, bibirnya kini mendarat pada bibir … eh?