Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___________________________________________
Manik Shani menatap Flora yang kini sedang bercanda dengan Adel dan Lulu di sofa kantor jeketi, memperhatikan bagaimana raut wajah Flora yang sedang tertawa lebar akibat dikelitiki habis-habisan oleh kedua temannya tersebut. Shani menajamkan pandangannya pada Flora, memperhatikan bagaimana surai hitamnya yang acak-acakan, wajahnya yang memerah, dan mulutnya yang terus terbuka untuk tertawa. Pemandangan manis itu tanpa disadari membuat senyum terulas dari bibirnya, membuat Shani semakin gemas akan kekasihnya yang imut.
"Hahaha! Weh, stop!" Flora masih asyik tertawa, mencoba menjauhkan tangan Adel dan Lulu yang masih seru mengelitiki pinggangnya.
Tawa Flora candu untuk Shani. Shani dapat mendengarkan tawanya seharian penuh tanpa rasa bosan. Sesuka itu.
"Ci Shanii!" panggilan Flora padanya membuat Shani sedikit tersentak. Ia segera menatap Flora yang masih berusaha kabur dari Adel, tangannya bergerak meminta tolong. "Cici, bantu aku!"
Ia memperhatikan Flora sekali lagi, melihat bagaimana merahnya wajah Flora akibat terlalu banyak tertawa, yang disertai dengan rambut hitamnya yang acak-acakan ke seluruh arah. Pemandangan tersebut membuat Shani tertawa sekali lagi, sebelum bergerak untuk membantu kekasihnya yang membutuhkan pertolongan.
Dengan ringan ia pun melangkahkan diri ke sofa, menjauhkan tubuh Adel dan Lulu dengan mudah dari tubuh kekasihnya yang kecil.
Flora masih tertawa saat Shani menyelamatkannya. Wajahnya yang masih memerah kini menatap Shani dengan gembira, memberikan Shani kehangatan dalam hati. Senyum Flora candu, menenangkan hati Shani.
Tanpa membuang waktu Flora segera melingkarkan tubuhnya pada Shani, kedua tangannya memeluk pinggang Shani erat dengan kepalanya yang disandarkan pada pundak yang lebih tua. Shani hanya tertawa, tangannya dengan lembut menyurai surai hitam Flora yang berantakan.
"Dasar duo bucin." Ia mendengar suara Adel yang sedang mengejek mereka. Namun Shani tidak peduli, dirinya terlalu sibuk merasakan kehangatan tubuh Flora padanya.
"Cici," Flora tiba-tiba berbicara. Ia mendongakkan sedikit wajahnya untuk dapat bertatap-tatapan dengan Shani yang lebih tinggi. Hal ini membuat Shani yang tidak terbiasa dengan kedekatan seperti ini mundur selangkah akibat kaget. Namun Flora tidak terlihat peduli. Ia terus mendekatkan wajahnya pada Shani, sebelum berkata, "Kangen."
Dan ucapannya membuat Shani kaget. Ia tertawa, lalu menyuraikan poni Flora yang sudah panjang dan mulai menutupi kedua matanya. "Aku dari tadi di sini loh?"
"Hum... Bener sih." Flora masih menatapnya, pancaran kedua matanya bersinar terang, sangat berbinar-binar. Ia menatap Shani layaknya bintang, miliknya yang paling berharga, manusia kesayangannya di seluruh semesta. Dan jujur saja, hal itu membuat Shani ikut melembut. "Tapi aku tetep kangen."
"Hoek, dasar bucin!" kini terdengar suara Olla yang sedang pergi meninggalkan ruangan. Disusul dengan Adel dan Lulu yang juga ikut meninggalkan kedua insan yang sedang dimabuk asmara.
"Biarin, wek!" Flora menengok ke belakang, menjulurkan lidahnya jahil pada ketiga temannya yang sedang pergi. "Bilang saja jealous karena gak punya pacar!"
Pemandangan tersebut membuat Shani terkekeh. Ia menatap Flora yang kini sudah kembali memfokuskan dirinya pada sang kekasih. Sebuah ide jahil memasuki pikiran yang lebih tua, membuatnya bertanya secara iseng pada Flora.
"Loh, kata siapa aku pacarnya Flora?"
Candaan tersebut ia lakukan semata-mata untuk mendapatkan ekspresi berlebih dari si manis Flora. Dan benar saja, sedetik begitu Shani melontarkan pertanyaan tersebut, kekasihnya segera melotot, wajahnya terlihat tidak terima dengan ucapan Shani barusan.
"Kan aku sudah confess! Dan Cici udah menerima aku!"
"Cuma menerima, kan? Bagian mana aku bilang setuju jadi pacar Flora, hmm?" tangan Shani untuk menyisir surai hitam Flora dengan lembut. Senyum tidak pernah lepas dari wajahnya yang bahagia.
Dan wajah Flora yang berubah panik membuatnya tertawa. perempuan itu mengeratkan pelukannya pada pinggangnya, bibirnya mulai dikerucutkan, tanda ia sedang kesal dengan kejahilan Shani. Lagipula, bukan salahnya jika ekspresi Flora semenggemaskan ini.
"Biarin, aku ngga peduli. Ci Shani udah menerima aku, berarti tandanya udah fix menjadi pacar aku!"
Senyum manis kembali membuncah dari wajah yang lebih muda. Senyumannya yang membutakan dikeluarkan, membuat seluruh ruangan tampak bersinar akibat tawa berseri-seri dari Flora.
Tangan Shani bergerak untuk menangkup wajah yang lebih muda. Keduanya bertatap-tatapan sejenak sebelum bergerak mendekat, menautkan bibir satu sama lain dalam ciuman manis. Tangan Flora dilingkarkan pada punggung Shani.
Keduanya terus memberikan kecupan, sampai pintu ruangan mereka dibuka, menampilkan jeritan kaget dari Gracia.
Shani hanya tertawa kecil mendengar jeritan kaget tersebut. Ia tahu, Gracia nanti akan mengomeli dirinya dan Flora karena berciuman di ruang tengah seperti ini. Namun, biarlah hal itu terjadi, Shani terlalu mabuk cinta akan Flora, ia tidak akan melepaskan ciuman mereka semudah itu.
Ciuman mereka berakhir tidak lama kemudian, terengah-engah dalam pasokan oksigen yang menipis. Shani menatap Flora lembut, kedua tangannya masih berada pada pipi Flora. Yang lebih muda juga ikut menatapnya lembut, dengan kedua tangannya yang kini dikalungkan pada leher Shani.
"I love you, Cici." Flora mengakui, yang membuat senyum Shani merekah. Rasa senang menjalar dari seluruh tubuhnya, membuatnya seperti berada di atas awan akibat rasa bahagia yang tidak bisa digambarkannya.
Shani pun mengecup bibir Flora dengan lembut sekali lagi, "Love you too. Forever."