Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___________________________________________
kepala Shani rasanya mau pecah.
saat ini suasana hatinya jelek luar biasa dan sepertinya semua orang yang melihatnya sadar akan hal itu. bagaimana tidak, orang raut muka Shani saja sudah seperti siap menerkam siapa saja yang mengganggunya saat itu juga. wajah yang selalu anggun cantik sempurna kini ditekuk kesal dan langkah kaki gontai Shani cukup membuat teman-temannya mengurungkan niat untuk menyapa perempuan itu.
segala macam bentuk makian sudah Shani keluarkan dalam hati saat dia berjalan menuju parkiran. makiannya semakin menjadi saat mendapati ada mobil yang parkir di depan miliknya hingga menghalangi mobilnya keluar. orang goblok mana sih yang parkir di sini, rutuk Shani. alhasil dia harus menunggu beberapa saat hanya untuk bisa pulang. mana sore ini panas banget lagi, Shani kayak lagi dikasih ujian bertubi-tubi banget.
Shani berakhir nangis di perjalanan pulang.
perempuan itu sesenggukan sambil menghabiskan roti bantal sisa sarapannya yang tak habis saat buru-buru ke kantor tadi pagi. satu-satunya yang Shani syukuri hari itu adalah kelancaran lalu lintas yang membuatnya bisa cepat-cepat sampai apartemen dan langsung berlari ke arah sang pacar yang sedang duduk santai di ruang tengah.
tanpa aba-aba Shani merangsek duduk di atas pangkuan sang kekasih lalu memeluknya erat sambil menenggelamkan wajah di ceruk lehernya.
“Chika… sayang… huhuhu…”
seolah tak cukup dikagetkan oleh Shani yang tiba-tiba memeluknya, kini perempuan yang dipanggil Chika itu kembali dikagetkan oleh Shani yang tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
“Cani, kamu kenapa sayang?”
Chika akhirnya bersuara setelah memproses semua yang terjadi sembari tangannya mengelus lembut punggung Shani.
biarkan yang lebih tua lanjut menangis selama beberapa saat sementara dia terus menenangkannya. setelah merasa lebih tenang akhirnya Shani memundurkan badan hingga maniknya bertemu dengan milik Chika yang menatapnya teduh.
“Sayang…”
“iya sayang, kamu mau cerita sekarang?”
“nggak,” Shani menggeleng cepat dengan bibir setengah manyun. “kalo aku cerita sekarang berarti aku harus inget ulang semua kejadian jelek hari ini. aku nggak mau, males mikirinnya, mual.”
celotehan panjang Shani membuat Chika tertawa kecil, dia meraih wajah sang kekasih lalu mengelus pipinya sebelum menahan wajah Shani agar tetap berhadapan dengannya.
“jadi sekarang, Cani mau apa?”
senyuman tipis tersungging di wajah Chika saat rasakan lengan Shani yang memeluk lehernya semakin erat, tak lupa dengan tatapan sayu dari matanya yang masih berkaca-kaca.
“kamu tau aku maunya apa.”
tentu saja dia tau.
karena sedetik setelahnya bibir Chika sudah berlabuh pada bibir yang lebih tua. menciumnya lembut namun tetap menyapa birai bibirnya satu persatu dengan lihai. membuai. sentuhan Chika selalu bisa bikin Shani terbuai, selalu bisa bikin Shani lupa dunia.
namun kali ini Shani butuh lebih.
segala perlakuan lembut yang diberikan oleh Chika padanya saat mereka memadu kasih selama ini bukanlah hal yang diinginkan Shani sekarang. perempuan itu ingin sesuatu yang baru, sesuatu yang bisa memberikan dia distraksi total dari segala hiruk pikuk yang masih memenuhi kepalanya.
maka Shani balas pagutan Chika kasar. ciumannya berantakan, tangan Shani meremat kuat rambut sang kekasih sembari melumat bibirnya seolah tak ada hari esok. badannya bergerak agresif, menekan pinggulnya di atas badan Chika yang kini sudah bersandar sempurna di punggung sofa dengan Shani menempel erat padanya.
kaget, tentu Chika kaget.
mereka bukan pasangan yang lugu dan tak pernah berbuat hal dewasa. tapi kali ini kekasihnya tampak berbeda, seperti punya ambisi lebih yang Chika tak yakin apa. namun dia tidak menolak. Shani yang agresif seperti ini tampak begitu seksi, membuat Chika tak mau kalah dan ikut menyamai tempo permainan Shani.
tengkuk Shani dia tarik untuk memperdalam ciumannya. lidah Chika menerobos masuk dari celah bibir Shani yang membuka, menyapa milik Shani dan bergerak lihai dalam sana. kepala yang lebih tua dimiringkan, memberi jalan untuk Chika memperdalam pagutan mereka.
lidah dibalas lidah. liur dibalas liur.
basah dan berantakan.
ciuman itu lepas dengan saliva yang menjuntai di antara kedua bibir yang sama sama membengkak. Shani melingkarkan tangannya di bahu Chika, melempar tatapan sayu kepada sang kekasih.
“Chika… i want more, i need more. ”
perempuan dalam pangkuan Chika itu menggigit bibirnya. sementara sang empunya paha hanya menatapnya clueless.
“mau apa sayang? coba ngomongnya lebih jelas biar aku ngerti.”
tentu Chika tidak sepenuhnya bodoh untuk tidak mengerti kalau Shani sedang mengajaknya untuk make love.
“be rough on me. ruin me, devour me.”
hanya saja dia tak menyangka kalau hal lebih yang diinginkan Shani adalah rough on sex. jelas ini bukan sesuatu yang biasa mereka lakukan, tapi bukan berarti Chika tak bisa mengabulkan.
maka tubuh Shani dibawa dengan mudah ke dalam kamar lalu dibanting begitu saja ke atas ranjang hingga Shani meringis. Chika sendiri hanya berdiri di pinggir sambil bersedekap, menatap remeh ke arah Shani yang meringkuk mundur hingga punggungnya menabrak kepala kasur.
“let's play baby.”
Suara Chika. suaranya dibuat rendah, cukup buat Shani bergetar dan terbakar. Malam panjang bagi mereka baru saja dimulai.
-------
bunyi nafas teratur dan dengkuran halus terdengar seiring dengan tubuh Shani melemas di atas ranjang. melihat kekasihnya yang langsung tertidur tak ayal membuat Chika tertawa kecil.
imut banget.
isi kepala Chika yang sebelumnya liar total selama kegiatan mereka langsung hilang begitu saja digantikan dengan rasa ingin sayang-sayang Shani.
maka perempuan yang lebih muda langsung beberes kasur dan membersihkan badan mereka sebelum bergabung membaringkan badannya di atas kasur bersama Shani. Chika menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya lalu menarik Shani ke dalam pelukannya.
kening Shani dia cium lama.
berharap segala ingatan jelek akan hal buruk yang terjadi pada kekasih sempurnanya hari ini lenyap dari sana.