Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___________________________________________
Freya bukan orang yang mudah terpancing. Sungguh, ia hebat dalam pengendalian diri. Freya bisa diam saja saat berhadapan dengan pekerjaan atau urusan yang membuatnya naik darah, ia pun bisa hanya menunduk tegar saat dihadapkan dengan momen menyedihkan atau memalukan.
Sejak kecil, Freya sudah diajari untuk berpikir sebelum bicara atau bertindak, maka tak sulit baginya untuk merespon tiap hal dengan baik dan benar.
Namun, semua tak ada artinya saat Freya dihadapkan dengan situasi ini; Marsha yang terkungkung di bawahnya dengan wajah cantik tanpa polesan make up apapun, Marsha yang begitu seksi dengan balutan piyama merah maroon.
Sejak mereka berada di posisi ini, Marsha hanya menatap, seolah menantang dan menunggu apa yang akan dilakukan Freya di atasnya. Dan sesaat kemudian, Marsha tersenyum tipis, menatap, membelai pipi kekasihnya dengan lembut.
Sudah sepuluh detik Freya menahan napas, sejak ia dan Marsha tak sengaja saling bersenggolan dan berakhir terkunci dalam jarak yang amat dekat. Dan pada detik ke sebelas, Freya menghela napas.
Lima sentimeter, jarak di antara Freya dan kekasihnya, ia hanya butuh satu dorongan lemah untuk membuat kedua bibir mereka bertemu dan mungkin berciuman. Freya hanya butuh satu pergerakan yang bahkan tidak memerlukan banyak tenaga untuk membuat tubuhnya dan Marsha berhimpitan tanpa jarak sedikit pun—atas bawah.
Freya tak lemah iman, tapi apa daya dirinya sekarang?
Freya orang yang selalu berpikir jernih, tapi bagaimana bisa ia menyingkirkan setitik noda di pikirannya sekarang?
"Aku harap kamu tau secantik apa wajah kamu sekarang."
"Oh? Gak perlu. Aku udah tau dari cara kak Freya tatap aku."
Oh.
Rupanya dorongan lemah itu dilakukan oleh Marsha, jari-jemarinya lentik yang semula berada di pipi Freya itu tiba-tiba menarik kerah baju kekasihnya, membuat jarak lima sentimeter itu terkikis, tergantikan oleh ciuman hangat yang mesra.
Dan malam itu—tiba-tiba saja menjadi—malam yang panjang.