Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___________________________________________
wajar jika Flora bertanya-tanya, “apa bedanya?” di hari pertama mereka berkencan sebagai sepasang kekasih. Adel masih memperlakukannya seperti bocah; memanggilnya dengan nama-nama aneh, mencubit pipi dan hidungnya dengan gemas, mendekapnya erat dan mendadak menggendong tubuhnya tanpa peduli sekitar. things like that. hal-hal yang membuat teman-teman mereka salah paham dan menduga hubungan mereka sudah lama diresmikan. padahal nyatanya, butuh waktu berbulan-bulan sampai Flora berani menodong Adel, menyuruhnya berhenti memainkan hati orang bila enggan mengaku sayang.
Flora kira setelah Adel luluh dan mengungkapkan perasaannya secara jujur, ia akan bertingkah lebih kalem di sekitar Flora. malu-malu bila tak sengaja bersentuhan, mengalihkan muka bila tak sengaja bertatapan, seperti komik komedi romantis yang Flora baca di saat senggang. tapi boro-boro kalem, Adel malah menggandeng tangannya dengan semangat, dan mengambil kesempatan ndusel tiap mereka duduk berdampingan. ck, waktu mereka liburan bersama teman-teman lain juga sering begini. Flora jadi merasa jatah tersipunya karena Adel sudah habis. debaran senangnya juga hampir kedaluwarsa.
meski begitu, rasa sayang Flora pada Adel bukannya ikut berkurang. ada maupun tidak adanya status, Flora pikir yang terpenting adalah mereka nyaman dengan satu sama lain. Adel tetaplah Adel yang sabar mendengarkan celotehnya, bahkan menimpalinya dengan celoteh yang tak kalah heboh. Adel tetaplah Adel yang mendukungnya tanpa pamrih; ikut senang saat ia berhasil meraih sesuatu, ikut sedih saat ia kehilangan, dan ikut marah bila ia diperlakukan secara tidak adil. sebaliknya, Flora juga tetaplah Flora yang tak ragu mengajaknya bertemu di saat suntuk, menawarinya pundak untuk bersandar dan menghiburnya dengan cara yang berbeda-beda.
barangkali Flora memang tidak butuh perubahan yang cepat dan signifikan dari Adel. bisa menghabiskan waktu bersamanya saja sudah lebih dari cukup. apa mereka butuh bertengkar dan berjauhan dulu untuk melihat perbedaan sebelum dan sesudah berpacaran? merepotkan sekali.
---
“Nona Flo, es krim itu biar aku makan, deh. kamu ngelamun terus.”
“oops. udah habis dua es krim masih kurang, kah? katanya mau diet. Inget pipi.”
“plis. jangan bawa-bawa diet pas kita lagi pacaran.” Adel mengetuk-ngetuk mejanya kesal. bibirnya merengut, dan itu malah membuat Flora semakin ingin menggodanya. siapa bilang di antara mereka Flora melulu yang jadi korban? tidak, posisi mereka setara, bahkan Flora berencana menguasai tahta agar Adel mau menuruti semua keinginannya.
(spoiler: jika saja Flora tahu, Adel sejak awal sudah jadi budak cintanya.)
sambil melahap sesendok es krim di hadapannya, Flora menopang dagu. kembali memandangi area bermain yang dipenuhi pengunjung berusia muda hingga paruh baya. mereka sibuk bercengkerama dan mengabadikan momen. ada pasangan suami istri yang tak malu mempertontonkan kemesraan, ada sepasang remaja yang bergandengan dengan canggung, ada juga orang seusianya yang terlihat lelah, tapi tetap tenang menanti kawan-kawannya. lama mengamati dinamika yang beragam, di kepala Flora muncul lagi pertanyaan aneh: apa saat ia berjalan bersama Adel dan saling mengambil foto, orang lain akan mengasumsikan mereka sebagai pasangan? sebagai teman dekat? atau malah kakak-adik?
“Tumbuhan,” begitu menoleh, muka Adel tiba-tiba jadi dekat sekali dengan mukanya. kalau ini baru pertama kali terjadi, Flora pasti sudah mengomel dan menonjok hidungnya keras-keras. karena sudah biasa, ia cukup menaikkan alis, menunggu apapun yang akan Adel sampaikan dengan ekspresi seserius itu. awas saja sampai ia tiba-tiba bilang kebelet buang air atau kebelet pup.
“apa?”
“ada es krim di pipi kamu, tuh.”
hah?
belum sempat Flora membawa tangannya untuk mengecek, Adel lebih dulu maju menjilat pipi sekaligus memberinya kecupan. Flora langsung diam di tempat dan menatap Adel dengan mata terbelalak.
???
?????
“jorok, Del!”
“haha. mau lagi?”
itu bukan pertanyaan, karena tanpa Flora jawab pun, Adel tetap meraih rahang dan memberinya kecupan-kecupan singkat. di pipi, di ujung bibir, di bawah bibir — berkali-kali sampai Flora menepuk-nepuk pundak dan memintanya mundur teratur. padahal ciuman Adel bukan ciuman intens yang membuatnya kesulitan bernapas, namun Flora langsung terengah, dan haha, mukanya merah padam. semerah stroberi yang ada di ujung gelas Adel.
itu bukan ciuman pertama mereka. tapi bisa dibilang, baru kali ini Adel menciumnya di ruang publik. meski posisi mereka duduk jauh dari kerumunan, tetap ada kemungkinan orang lain lewat dan memergoki mereka terjebak dunia milik berdua. ya, itu kalau Flora masih mau dicium sampai tubuh mereka ikut berimpitan.
“kamu … suka ciuman nggak tahu tempat, ya?” Flora menyeringai, mengusap bibirnya dengan lidah. tidak bermaksud menantang, murni bertanya sebagai antisipasi. walaupun Flora yakin Adel tak akan berani curi-curi ciuman ketika mereka masuk rumah hantu atau bersiap naik roller coaster. masih ada kemungkinan ia melakukannya saat mereka sedang berjalan santai dari satu area ke area yang lain.
that's it.
Flora akhirnya menemukan satu perbedaan kecil sebelum dan sesudah mereka berkencan. Adel dulu mana berani mencium bibirnya. berkali-kali mendekap dan mencium pipi sepertinya tak cukup untuk membuatnya melangkah maju. dengan adanya status resmi, ia tak perlu berpikir terlalu panjang untuk membuat anak orang kalang kabut. sial. dia tahu Flora tak akan menolak. dia tahu Flora diam-diam berharap.
“udah lama pengen, jangan tahan aku.” gerutu Adel.
“oh, ya?” kali ini Flora terkekeh geli. tidak salah. baik ia dan Adel sama-sama memendam banyak keinginan selama berstatus sebagai teman baik. juga menahan diri saking khawatirnya melewati batas. Flora jadi makin paham mengapa teman-teman mereka kesal bercampur gemas begitu tahu mereka tak kunjung menyatakan perasaan satu sama lain.
“sabar, nanti juga kamu bisa cium aku sepuasnya.”
itu bukan janji kosong. Flora mengedipkan mata, lantas mengelus lembut punggung tangan Adel. “sepulang dari tempat ini, terserah mau bawa aku ke mana.”