Bab 38

29 0 0
                                    

Hera tersenyum lebar, menatap dirinya dicermin besar. Kemudian Hera menghiasi bibir dengan lipstik berwarna merah. Ia kembali menatap cermin itu, memperhatikan wajahnya lagi, untuk memastikan tak ada yang kurang.

Setelah dirasa cukup, ia keluar dari kamar mandi sekolah. Menghampiri Rakhan yang seperti biasa berada dikantin.

Sesampainya dikantin, matanya mulai menyusuri setiap sudut. Hingga terhenti pada Rakhan, orang yang ia cari. "Rakhan..." panggilnya, sembari menepuk pundak Rakhan.

Laki-laki itu menoleh ke belakang, menatap Hera yang dirasa berbeda dari sebelumnya. "Hera?"
"loe cantik banget."

Senyum Hera semakin lebar, ditambah jantungnya yang berdetak tak karuan. "Gombal."

"Enggak, her."
"Gue gak bohong, loe cantik tahu kalau dandan."
"Gue suka."

Waktu seakan berhenti, ketika Rakhan mengucapkan kalimat terakhir. "Rakhan juga suka sama aku?" batinnya.

"Her, kok diem?"
"Jangan salting gitu atuh."

"Idih, siapa juga yang salting." ujar Hera, menyangkal.

"Kalau gak salting, kenapa pipinya merah?"

Seketika Hera memegang kedua pipinya. Hingga suatu hal membuat nya tersadar, "ini bukan salting, ini namanya pakai maskara." ucapnya, mencoba menjelaskan apa yang membuat pipinya merah.

"Blush on her, Blush on."

"Kamu sok tau banget sih jadi cowok."

"Lha, emang gue tau."

Hera menghela napas kasar. "Aku cewek, lebih tahu soal make up."

"Loe aja make up, baru satu kali ini." sindir Rakhan.

"Walaupun begitu, aku tahu lho rak, soal make up."

"Iya-iya gue percaya." jawabnya, memilih mengalah.

Seketika tak ada obrolan setelahnya. Rakhan lebih fokus pada makanannya, karena sebentar lagi jam istirahat berakhir.

Sedangkan Hera, hanya mengaduk-aduk bakso yang dipesankan Rakhan. Ada hal yang ingin Hera utarakan, setelah beberapa pertimbangan, ia memutuskan untuk mengutarakan sekarang. "Rak, aku mau ngomong sesuatu."

"Ngomong aja, her." ujarnya yang masih berfokus pada makanan.

Hera menarik napas dalam. "Aku suka rak, sama kamu."

Seketika Rakhan menghentikan suapannya. Ia menatap Hera, yang tampak tertunduk malu. "Loe tadi bilang apa her?"

Hera mengangkat kepalanya, merasa kesal dengan Rakhan yang tiba-tiba budeg. "Aku..."

"Her, cepet dimakan baksonya, ini mau masuk lho." potong, Rakhan.

Rakhan menunjukkan jam ditangannya. "Udah jam segini." ucapnya, lalu melanjutkan makan.

Hera tampak kecewa, pernyataan perasaan nya kali ini gagal. Dengan terpaksa Hera memakan bakso itu, walau rasa kecewa masih menyelemuti.

Disisi lain diam-diam Rakhan memperhatikan Hera, menatap wajahnya dalam. Berharap Hera, tak sakit hati.

Flashback off

"Sebenarnya loe cantik, her."
"Gue suka, gue sayang sama loe."
"Gue suka sifat loe, gue nyaman sama loe."
"Tapi..." gerutu Rakhan, yang mulai menyandarkan punggung ke kursi. Seketika ia mengingat kejadian yang lalu, ketika Hera menembaknya.

"Rak..."

Rakhan sedikit terkejut, mendengar suara lirih didepannya. Ia mulai mendekati sumber suara, menatap pemilik suara itu. "Akhirnya loe sadar juga, mor."

Mata Amora menyusuri ruangan ini, seakan mencari seseorang yang ia harapkan.

"Seorang Hera udah biasa sendiri, mor."
"Dia cuma punya gue." ucap Rakhan, yang tahu pikiran Amora.

"Gue janji, bakal ada buat loe." ucap Rakhan lagi.

Tentu ucapan tersebut membuat Amora sedikit senang, tampak senyum tipis menghiasi mulutnya.

"Loe haus gak?"
"Gue ambilin minum ya?"

"Enggak rak,udah kembung, gara-gara minum air kolam renang." jawabnya dengan suara yang masih lemas.

Mendengar jawaban Amora, Rakhan langsung mengaruk kepalanya yang tak gatal.

***

Disisi lain Hera menaiki angkot, sembari memegang pipi bekas tamparan Rakhan. Ia tak menyangka Rakhan bisa setega itu pada dirinya. Padahal sebelumnya Rakhan tak pernah rela jika ada yang melukainya sedikit pun. Tapi sekarang? Justru Rakhan lah yang melukai hati dan raganya.

Hera menatap diluar jendela, menatap pemandangan yang tak asing. Di angkot ini, Hera berusaha kuat agar tidak menumpahkan air matanya, sebelum ia sampai pada tempat itu.

Lima belas menit kemudian, angkot itu berhenti. Dengan segera Hera turun. "Ini ya pak uangnya."

"Makasih neng."

"Iya pak, Sama-sama."

Hera mulai menatap tempat didepannya, setelah sekian lama ia tak berkunjung disini, akhirnya Hera mengunjungi nya lagi.

Hera melangkah kan kaki, mulai mencari sebuah nama yang tertulis dibatu. Membaca satu persatu nama yang tertera, berharap segera menemukan yang ia cari.

Hingga nama yang ia cari ditemukan, tertulis dibatu nisan yang sudah berlumut, dengan gumpalan tanah yang diihiasi rumput panjang.

Hera terduduk lemas, tangisnya mulai meledak. Sebuah pelukan yang tak pernah ia dapatkan, kini Hera dapatkan pada batu nisan didepannya.

Awan UntukmuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang