23 - Follow her everywhere

555 33 5
                                        

Mohon memberikan dukungannya.......








"Kalau gue liat di CCTV emang lo nolongin tuh cewek duluan si Ling tapi melihat power Aldebaran lo tetap kudu waspada, dia tajir mampus soalnya gak kayak lo yang cuma model kere!"

Saat malam tiba Lingga mendatangi rumah orang tua Theo karena pria itu sedang bermalam disana. Lingga ingin berkonsultasi dengan Theo karena sahabatnya itu yang akan menjadi pengacaranya. Tadinya Theo ingin menolak untuk membantu Lingga tapi melihat sahabatnya itu sedih dia jadi tak tega. Lagipula Theo tidak mau jadi tempat penampungan saat Lingga menjadi gembel nantinya sehingga mau tak mau Theo harus membantu Lingga saat ini juga.

"Anjir jadi maksud lo gimana? Gue bakal menang sidang gak nih? Omongan lo malah bikin gue pesimis" Lingga mulai takut menjadi seorang tahanan saat Theo berbicara seperti itu.

"Gue itu cuma pengacara bukan dewa penyelamat makanya gue selalu bilang ada kemungkinan untuk kalah di sidang tapi sebisa mungkin kita harus meminimalisirnya"

"Hmm... ternyata lo bisa bijak juga ya gue pikir lo dungu hahahah" ucap Lingga mengejek.

"Sinting lo!"

Lingga malah tertawa terbahak-bahak melihat Theo misuh-misuh. Pria hitam manis itu mencoba santai dan tidak mau memikirkan hal yang rumit. Kalaupun harus masuk penjara ya sudah saja dia akan menghadapinya dengan hati yang lapang. Lingga tak mau stres dalam menghadapi hidup yang sulit ini. Dia tak mau cepat-cepat mati apalagi ada adik yang harus dia nafkahi karena Lingga sendiri yatim piatu.

"Apapun yang terjadi gue minta bantuan lo ya Theo..."

Mimik muka Lingga kembali serius dan berharap pada Theo sahabatnya. Sedangkan sang pengacara hanya sibuk memikirkan sebuah cara supaya menang. Sebenarnya tak sulit sama sekali memenangkan kasus Lingga hanya saja Theo tak suka jika lawannya saat ini menggunakan uang dan kekuasaan untuk menang. Theo harus mengalahkan lawan dengan cara yang apik dan bijak hingga seringai mulai muncul di bibirnya karena mendapatkan ide yang cemerlang.

"Lo gak usah khawatir karena gue udah punya cara yang keren dalam menghadapi Aldebaran!"




*************





"Eh ini bener gak sih caranya begini?"

Sesuai yang direncanakan saat malam Vero mulai memasak di kediamannya. Azka juga berusaha membantu padahal Vero sebenarnya tak butuh bantuan pria itu. Apalagi ternyata kemampuan masak Azka sangat payah sehingga bukannya terbantu yang ada Vero menjadi repot. Tapi menolak pun Vero tak enak hati.

"Mas kamu duduk aja ya biar aku yang masak..."

"Kamu gak suka ya aku bantu?" Azka terlihat sedih.

"Oh ya ampun mas bukan begitu.... aku cuma mau cepet-cepet masak takutnya kamu lapar!"

Vero segera menarik tangan Azka supaya pria itu segera duduk di meja makan. Vero ingin cepat-cepet menyelesaikan acara memasaknya apalagi perut dia sudah mulai keroncongan. Lagipula dia memasak hal yang tak sulit yaitu steak sapi lada hitam dan corn soup yang tentu Vero tak butuh bantuan Azka.

Azka terus memperhatikan Vero yang amat lincah nan lucu. Wanita itu ternyata memiliki bakat memasak, bukan cuma sekedar mempercantik dirinya sendiri. Banyak sekali yang Azka tak ketahui tentang Vero dan pria itu bertekad akan mencari tahu segalanya mulai sekarang.

"Here you are.... aku harap kamu suka masakanku"

"Thanks baby..."

Mereka makan malam dengan tenang apalagi Vero sedang lapar. Azka tak menyangka jika Vero jago memasak, makanan yang dibuat kekasihnya itu sangat enak. Hingga pria itu membayangkan betapa beruntungnya kalau menikahi wanita yang sedang duduk di depannya ini. Azka tersenyum bahagia, baru membayangkan saja jantung pria itu sudah berdetak dengan kencang. Ternyata seorang CEO bisa halu juga ya....

"Kenapa mas masakannya gak enak ya?" Vero bertanya dengan sedikit takut.

"Ini sangat enak.... bahkan restoran mewah pun tak seenak ini sayang..."

Wajah Vero yang tadinya mendung jadi sumringah kembali berkat pujian Azka. Dia jadi bersemangat untuk memasak lagi di kemudian hari, akhirnya mereka tertawa bersama dan menyelesaikan makan malamnya yang hangat. Bahkan Azka membantu Vero mencuci piring, boyfriend material sekali kan?

Selepas makan malam keduanya berpelukan dengan erat bahkan tanpa sadar Vero jadi mengantuk. Azka begitu membuatnya nyaman dan tenang... Vero tak pernah merasa seperti ini. Urusan cinta biarlah Vero tak peduli bahkan hatinya saja sudah mati rasa karena cinta. Dia lebih butuh seseorang yang bisa memperlakukannya dengan baik dan itu semua ada pada diri Azka. Vero tak mau lagi bertemu pria yang hanya menginginkan tubuhnya, dia membutuhkan seseorang yang memberinya banyak cinta.

"Tidurlah aku gak kemana-mana...."

Vero memandang wajah Azka dengan syahdu, lalu wanita itu mencium pipi Azka hingga sang pria merasa terharu. Azka membalas wanita itu dengan ciuman mesra. Dia menghisap bibir bawah Vero dan memasukan lidahnya begitu lembut nan memabukan. Tanpa sadar Vero sudah terlentang dan Azka ada di atasnya terus berciuman tanpa ampun sampai vero merasakan area dadanya dikecup mesra begitu lembut. Azka mengusakan wajahnya didada wanita itu dan menghembuskan nafas hinga Vero mulai memejamkan matanya.

"Kamu terlalu menggoda baby... aku bahkan gak sanggup menahannya lagi"

"Kalau begitu cobalah.... aku mau melakukannya denganmu" Vero membalas ucapan Azka penuh godaan.

"Are you sure?"

"Of course..."

Azka berpikir sesaat namun setelah itu dia tersenyum. Dia membetulkan baju tidur Vero dan kembali memeluk wanita itu. Lagi-lagi Azka berhenti di tengah jalan... entahlah rasanya saat ini Azka belum bisa karena Vero saja belum jatuh hati padanya.

"Aku gak akan menyentuh kamu lebih jauh sebelum membuatmu jatuh cinta sama aku..."

"Kamu yakin mas? Aku sama sekali gak keberatan jika kamu mau...."

Azka mengecup bibir wanita itu dan memeluknya kembali. Vero terdiam namun setelah itu dia menerima keputusan Azka, cinta memang tidak melulu soal seks ada cinta yang murni dan tak semua orang bisa merasakannya.




***********





Setelah saling bertukar nomer ponsel, Theo jadi tahu pergi kemana saja Vero. Pria itu jadi stalker akut dan mengawasi Vero hingga mengetahui semua agenda wanita itu. Biarlah dia jadi penguntit asalkan bisa bertemu Vero kapanpun dia mau mau. Theo memang definisi pria yang lain di mulut lain di hati, dia bilang tak menyukai Vero tapi semua aktivitas wanita itu dipantaunya terus.

Saat ini Theo memutuskan untuk pergi ke gym dekat rumah orang tuanya karena Vero juga pergi kesana bersama Azka. Theo akan membuat skenario palsu berpura-pura tak disengaja bertemu Vero disana. Sebut saja Theo gila karena semenjak bertemu Vero dia merasakan sesuatu. Vero membuat hidupnya yang monoton dan memuakan menjadi penuh warna. Wanita itu memiliki andil yang besar untuk gairahnya dalam hidup.

Theo melihat Vero tertawa bersama Azka dan mereka olahraga bersama dengan bantuan treadmill. Tak lama Theo pun menggunakan alat yang sama dan posisinya tepat di sebelah Vero. Pria itu tak sabar melihat wajah panik dan kaget Vero, sungguh menggemaskan sekali pikirnya.

"Ayolah lebih kencang masa kamu lari segitu aja?"

"Iya iya ih Mas Azka bawel!!" Ucap Vero sambil cemberut.

Vero berusaha mengimbangi kecepatannya dengan Azka namun tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu hingga dia jatuh. Dengan sigap Theo membawa wanita itu dalam pelukannya hingga kini Vero terkaget-kaget karena lagi-lagi bertemu dengan Theo.

"Halo kita ketemu lagi...." ucap Theo sambil menyeringai dan mengedipkan matanya.


Bersambung.....





Ayo pembaca komen dong kok pada pendiam banget dah 🤭🤭

Mr Lawyer Wants MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang