chapter 36

105 32 0
                                        

WELCOME
-----------------------------

WELCOME✨-----------------------------

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*************

"kamu dari mana aja? kemarin aku ke rumah kamu tapi kamu nya gaada". ucap ana menatap lion dengan tatapan bertanya.

lion menatap ana sekilas, lalu berlalu begitu saja dari hadapan ana.

ana terdiam saat melihat perilaku lion padanya, mengapa pria itu mendiamkan nya? apakah dirinya mempunyai salah?

gadis itu lalu berjalan dengan langkah kecil nya, mencoba menyamai langkah miliknya dengan langkah lebar milik pria di depannya.

"Lion! tunggu dulu bentar, kamu kenapa?".

"gue lagi mau sendiri, bisa Lo lepasin tangan gue?". ucap lion menatap wajah ana yang terlihat murung.

ana tersentak saat mendengar ucapan lion, gue? sejak kapan pria itu menggunakan kata itu?

"kenapa ngomong nya gitu? kan kamu dulu pernah bilang kalo kita gaboleh pake lo-gue!".

lion terdiam saat mendengar ucapan ana, ia baru ingat jika gadis di hadapannya ini sedang mengalami amnesia. persetan dengan semua itu, ia sekarang hanya butuh ketenangan.

ana menatap kepergian lion dengan tatapan yang sulit di artikan, mengapa pria itu berubah? apakah dirinya mempunyai salah sehingga sifat nya berubah secepat itu?

lamunan ana seketika buyar saat seseorang dari arah belakang menepuk pundak nya pelan.

"si bos kayanya lagi banyak masalah, tenang aja! nanti juga tuh orang balik lagi kaya semula". ucap Radit dengan menepuk pundak ana beberapa kali.

"ah? iya gue ngerti". ucap ana dengan menampilkan senyum kaku nya.

" btw Bu bos liat dara ga? gue nyariin dia dari tadi gak ketemu-ketemu anjir!". ucap Egi dengan mengusap keringat di dahinya dengan pelan.

"mau ngapain Lo?! kalo mau cari mainan jangan sama temen gue deh, cari yang lain aja! gue duluan ya". ucap ana melengos pergi dari hadapan kedua pria tersebut dengan sedikit berlari. ia juga tidak menyadari jika personil sekumpulan pria tersebut kurang satu.

"lah? dia kalo sama orang lain sikap nya sama anjir kaya si bos! ya gak?". ucap Egi menatap ke arah samping, dimana Radit berada. namun bukannya Radit yang berada disana, melainkan seorang pria paruh baya dengan kacamata yang bertengger pada hidung nya.

"eh? pak Imron! gimana kabar nya pak? saya abis dari toilet dulu pak barusan, ini mau masuk". ucap Egi menjelaskan, seolah tau yang akan di ucapkan oleh pria paruh baya di hadapannya.

Lotus {on going}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang