MURNI HASIL KARYA SENDIRI!
jangan promosi cerita lain di lapak ini!
........
Ashana Arawinda Teratai
seorang gadis cantik yang berusaha mengejar cinta nya yang hilang karena suatu kesalah pahaman saat masa kecil nya yang kelam.
Adelion...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**********************
"AAKHHHH!".
Bruk!
Barang yang berada di genggaman Renata jatuh kebawah, semua isi di dalam kotak itu tumpah pada ubin berwarna kecoklatan itu.
Renata mengatur nafas nya pelan, kembali melihat ke bawah, dimana sebuah kotak dengan beberapa kertas yang sudah terlumuri cairan merah, terlihat pula pada ubin itu percikan darah yang lumayan banyak.
Ini masih pagi, bahkan Dirga suaminya baru keluar dari kawasan rumah untuk pergi ke kantor, serta Lion baru saja berangkat sekolah beberapa menit lalu.
Namun tanpa di sangka, di pagi yang seharusnya baik-baik saja, Renata malah menemukan sebuah kotak di depan pintu rumah nya.
Seingatnya, saat dirinya mengantarkan Dirga ke depan halaman rumah untuk mengantar pria itu kerja, tidak ada kotak misterius itu di depan pintu rumah mereka.
Namun saat Renata kembali keluar untuk menyiram tanaman, kotak itu sudah berada di depan rumah dengan secarik kertas di atas nya.
Di atas kertas itu tertulis sebuah alamat, Renata juga tidak mengetahui ada apa dengan alamat yang tertera dalam kertas tersebut, namun saat wanita itu membuka kotak itu, Renata di buat kaget saat netra nya melihat sebuah foto keluarga yang berlumuran darah.
Dan yang lebih mengejutkan nya lagi adalah foto tersebut adalah foto keluarga kecil Dirga, yang tak lain di dalam foto tersebut ada Renata, Dirga, serta kedua anak nya yang tak lain Lion dan Gibran.
"Apa apaan ini?!". Renata masih menatap kotak itu dengan teliti, serta terus mencoba mengatur nafas nya yang sempat berhenti beberapa saat, perlu diketahui jika Renata memiliki penyakit Asma bawaan dari ibunya.
Tanpa memikir panjang, Renata mengambil kertas yang tidak ada bercak darah sedikit pun, yang tak lain adalah kertas yang berisi sebuah alamat.
"Siapa yang melakukan semua ini? Apa keluarga ku memiliki kesalahan?". Tanya Renata pada dirinya sendiri.
Lalu wanita itu berjalan memasuki rumah nya dengan pelan, dengan membawa kertas tadi di genggaman nya, rencananya ia akan memberi tahu suami nya nanti saat pria itu telah pulang dari Kantor.
"Pak Darman!".
Saat Renata meneriaki sebuah nama, keluarlah seorang lelaki paruh baya dari arah dapur, berjalan ke arah Renata dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Iya Nyonya? Ada yang bisa saya bantu?".
"Tolong bersihkan kekacauan di depan rumah, kamu bersihkan semuanya hingga tidak ada lagi noda di ubin itu".