"Pertama, Saya minta maaf karena telah menyinggung sikap buruk yang sejujurnya berpotensi dapat membahayakan wilayah Anda Marquess."
Victoria berucap dengan langkah kakinya yang berjalan mengitari tubuh Marquess Etiro. Pria itu bersimpuh penuh kegelisahan. Bulir demi bulir keringat mengalir membasahi wajah Marquess Etiro. Pria itu tegang.
Ia tak tahu mengapa gadis kecil yang belum memulai debutante-nya, bahkan wajahnya pun masih dirahasiakan sampai sekarang, mampu memberikan tekanan yang luar biasa seperti halnya Duke Neville. Apakah karena mereka Ayah dan Anak?
"Anda sangat ceroboh," Victoria berhenti. Gadis itu mensejajarkan tubuhnya dengan pria itu. Menatap dengan senyum yang mengembang di wajahnya. "Bagaimana bisa Anda baru memberikan penawar racun... Pada Yang Mulia Selir ketika beliau sudah terbangun. Jika memang Anda punya penawarnya, seharusnya sejak awal Anda memberikan itu tanpa harus dipanggil oleh Yang Mulia Kaisar terlebih dahulu!"
"I-itu karena... Ada Pasukan Kesatria Malam yang menahan seluruh bangsawan di Aula pesta semalam!"
"Bedebah ini," geram Sevaro. "Jadi sekarang Anda mau menyalahkan Pasukan Kesatria Malam?"
Victoria mengangkat tangannya, ia menggeleng pelan,
"Tenanglah Grand Duke. Biarkan Saya yang mengurusnya."
Sevaro terdiam. Semula ia ingin diam-diam mencekik leher Marquess Etiro dengan kekuatannya, namun karena si kucing liar memintanya untuk tidak ikut campur. Baiklah, Sevaro akan menghargai keputusannya.
Sial. Tahu begitu ia menunggu saja di tempat latihan. Entah apa yang mendorongnya sehingga begitu penasaran dengan apa yang terjadi di kamar Selir. Tentu saja ia mendengar kabar bahwa Victoria juga ada di sana. Tapi, tidak mungkin kan gadis itu alasannya?
"Jadi Anda lebih takut pada kesatria malam ketimbang keselamatan Selir? Saya yakin jika Anda menjelaskannya dengan baik para kesatria itu akan dengan senang hati membuka jalan untuk Marquess," Victoria kembali berdiri dengan kedua tangan yang terlipat di dada. "Kalau dilihat seperti ini, rasanya Marquess tidak memiliki otoritas yang tinggi, ya?"
"K-kau!"
"Lady Neville, sudah cukup. Saya rasa Marquess juga kebingungan saat itu," Selir berucap dengan suara parau.
Oh lihat!
Bahkan meski tersudut pun, Selir masih berniat membela Marquess Etiro. Baiklah, kita lihat sampai mana niat membelanya itu.
"Yang Mulia, maaf. Saya tidak ingin ikut campur hubungan pribadi antara Anda dan Marquess, tetapi... Izinkan Saya menyelesaikan penjelasan Saya terlebih dahulu karena ini menyangkut keselamatan nyawa keluarga Kaisar dan karena Saya sudah sampai sejauh ini. Setelah itu Saya serahkan semua keputusannya pada Yang Mulia, Saya tidak akan mengganggu lagi."
Permaisuri mengangkat sudut bibir, tangannya melambai pelan,
"Lanjutkan lah Lady."
Victoria menunduk singkat. Kemudian ia kembali menoleh, memperhatikan Marquess Etiro dengan saksama. Haruskah ia cepat mengakhiri semua sandiwara ini sekarang atau masih perlu diperpanjang. Yah, apapun itu, tergantung bagaimana Marquess akan menjawab pertanyaannya kali ini.
"Marquess..."
"U-ukh.."
"Jawab satu pertanyaan ini dengan baik," Victoria menajamkan matanya. Menusuk ke dalam mata kelam penuh kegelisahan milik Marquess Etiro. "Bagaimana Anda tahu kalau Yang Mulia Selir... Terkena racun bunga Rigel?"
Hening.
Kaisar tak menyangka pertanyaan itu akan keluar.
Bukankah itu pertanyaan yang simpel? Sepertinya Kaisar Tistan terlalu memandang tinggi Victoria selama ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Duchess Ellworth
FantasyVictoria Neville, Putri seorang Duke yang telah disembunyikan selama hampir delapan belas tahun. Untuk yang pertama kalinya, ia akan muncul dalam sebuah pesta di Istana kekaisaran. Banyak hal yang terjadi, tak peduli baik ataupun buruk diikuti denga...
