Victoria Neville, Putri seorang Duke yang telah disembunyikan selama hampir delapan belas tahun. Untuk yang pertama kalinya, ia akan muncul dalam sebuah pesta di Istana kekaisaran. Banyak hal yang terjadi, tak peduli baik ataupun buruk diikuti denga...
Di sinilah Victoria sekarang. Duduk di sofa ruang kerja milik penyihir menara. Catat, penyihir.menara. Penyihir yang dikatakan memiliki kekuatan luar biasa, berhasil memecahkan beberapa kode sihir, ditakuti oleh penyihir lainnya bahkan penyihir negara seberang, dan keberadaannya yang tidak diketahui.
Penyihir yang digadang gadang hebat itu tidak lain dan tidak bukan adalah—
"Jadi... Ada yang ingin Anda jelaskan Tuan Penyihir? Ah, haruskah Saya sebut.. Penyihir menara?"
Henry merasa tenggorokannya tercekik. Senyum paksaan menghiasi wajahnya. Jujur, ia bingung harus menjelaskan bagaimana sekarang.
"Anu.. Lady. Sebelum itu, maukah Anda berjanji pada Saya satu hal?" Pinta pria itu yang sukses mendapatkan tatapan bingung dari sang Putri Duke. "Identitas Saya sebagai penyihir menara... Tolong rahasiakan dari Seva—"
"Tidak."
"Tunggu, Lady! Bukan tanpa alasan Saya meminta hal seperti ini. Masalahnya adalah, Sevaro hanya mengetahui bahwa Saya seorang penyihir. Dia menganggap Saya sebagai temannya, Saya hanya tidak ingin, lelaki bodoh itu menjadi merasa bersalah setelah mengetahui identitas asli Saya."
"Merasa bersalah?"
"Haaahh," Henry menghela napasnya panjang. "Coba pikirkan ini Lady, Wilayah Zest sedang mengalami krisis, Saya lah yang mengambil alih masalah tersebut. Tapi apa Anda pikir tugas Saya begitu santai hingga Saya tidak memiliki tugas lainnya? Jika penyihir biasa ya. Tetapi tidak dengan penyihir menara. Jika Grand Duke jelek itu tahu, Saya yakin ia akan merasa bersalah karena telah menyerahkan masalah Wilayah Zest pada Saya."
Victoria terdiam mendengar penjelasan panjang Henry. Benar. Sevaro itu, tampangnya saja yang menyeramkan padahal sejatinya lelaki itu adalah orang yang mudah merasa bersalah.
"Lady... Kemarin adalah pertama kalinya Saya melihat.. Sevaro begitu terpuruk," Henry mengusap wajahnya kasar. Bohong jika ia bilang tidak lelah. Ia saja terburu-buru datang ke menara sihir dari wilayah Zest karena mengetahui sang Lady es itu akan membekukan menaranya. "Hanya ini yang dapat Saya lakukan untuk membantunya. Oleh karena itu, tolong rahasiakan identitas Saya. Setidaknya sampai masalah yang ia hadapi selesai. Setelah semua itu, Saya tidak akan mempermasalahkan jika Anda ingin mengatakan identitas Saya yang sebenarnya pada Sevaro."
Victoria memejamkan matanya singkat. Ia tersenyum tipis. Senang rasanya mengetahui bahwa Sevaro memiliki orang-orang yang begitu tulus di sampingnya. Kecurigaanya pada Henry sepenuhnya sirna.
Kalau boleh jujur, gadis itu sempat ragu dengan Henry. Ia hanya takut, dengan status lelaki itu yang merupakan seorang penyihir, justru membahayakan bagi Sevaro. Tapi siapa sangka, setelah melihat ke dalam manik mata kelam Henry saat lelaki itu bercerita, Victoria tak menemukan sedikitpun kebohongan. Henry berkata begitu tulus dan murni, seolah lelaki itu sangat menghargai persahabatannya dengan Sevaro. Yah, meski harus Victoria akui sifat Henry sedikit brengsek tapi.. Sevaro sungguh beruntung memiliki James dan Hendy di sisinya. Andai saja lelaki itu tau bahwa ia tidak pernah sendiri.
"Saya setuju, dengan satu syarat," Victoria melemparkan sebuah gulungan kertas ke atas meja kayu. "Apapun kesepakatan yang kita lakukan hari ini... Hanya Anda dan Saya yang tahu."
Henry menatap gulungan kertas itu dengan saksama, matanya membulat saat menyadari sesuatu. Ia menatap Victoria dan gulungan tersebut bergantian.
"Ini Lady... Apa sebenarnya yang Anda inginkan?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.