Victoria Neville, Putri seorang Duke yang telah disembunyikan selama hampir delapan belas tahun. Untuk yang pertama kalinya, ia akan muncul dalam sebuah pesta di Istana kekaisaran. Banyak hal yang terjadi, tak peduli baik ataupun buruk diikuti denga...
"Tidak Yang Mulia. Itu benar, Saya adalah seorang Morrow."
Permaisuri segera meletakkan kembali cangkir teh yang ia pegang. Tangannya bergerak halus menutup bibir Putri Duke Neville.
"Sssttt... Jangan berbicara terlalu keras," tegur Permaisuri, "Masalah ini bukanlah hal sepele. Kalau Kaisar sampai dengar maka—"
"Saya tahu Yang Mulia. Itu lah sebabnya Saya butuh bantuan Anda."
"Bantuan?"
"Iya. Saya masih punya satu imbalan kan? Saya ingin meminta sesuatu."
"Baiklah."
"Yang Mulia, Anda adalah Morrow berlian. Saya butuh sebuah berlian berisi kekuatan air untuk digunakan saat pesta debutante Saya."
Tanpa menunggu lebih lanjut. Permaisuri sudah paham tujuan Victoria. Gadis itu pasti ingin menyembunyikan kekuatannya dengan cara apapun. Salah satunya dengan berlian pengganti. Cukup pintar.
"Saya sempat terpikir, jangan-jangan Anda dari awal telah merencanakan semua ini. Termasuk dengan meminta Saya untuk menjadi sekutu."
Tidak bisa dipungkiri. Yang dikatakan Permaisuri barusan adalah kenyataan. Victoria tidak menduga wanita itu akan sadar secepat ini.
"Bagaimana jika Saya katakan bahwa itu benar?"
Permaisuri diam beberapa saat, "Aku sedikit tersinggung tapi... Sayang sekali kalau kehilangan orang seperti mu di pihakku. Jadi, Kau akan ku ampuni."
"Senang mendengarnya. Terima kasih Yang Mulia."
"Mengenai berlian yang Kau minta," Permaisuri menyentuh tangan Victoria yang berada di atas meja. Menggenggam dengan pelan. Ia yakin dengan keputusannya untuk mempercayai Putri Duke Neville itu, "Serahkan padaku."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Misi sukses. Dengan begini, satu masalah lagi terselesaikan. Waahhh, senangnya~. Kalau begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama pesta debutante-nya. Victoria tanpa sadar terkikik jahat.
"Lihat itu. Wajahmu jelek sekali, kucing liar."
UAAKHH! SE–SEJAK KAPAN SEVARO ADA DI SANA?
Dengan cepat Victoria mengatur kembali ekspresinya. Ia berjalan mendekat seolah tidak terjadi apapun.
"Aku baru akan pergi menemui mu di lapangan kesatria."