Dansa Pertama

2.6K 276 126
                                        

Pesta Dansa Kedewasaan Putri Neville begitu meriah. Duke dan Duchess menggunakan kekuatan mereka untuk membuat hujan kecil, dimana air yang turun tidak akan membuat baju atau gaun mereka basah.

Victoria dan Sevaro berada di tengah aula. Mereka menari dengan langkah yang senada, anggun dan ringan. Benar-benar indah untuk dipandang.

Setidaknya itulah yang dilihat oleh orang-orang. Pada kenyataanya, Victoria beberapa kali hampir tersandung dan melewatkan ketukan, tetapi Sevaro dengan teliti memandunya. Menahan tubuh gadis itu yang hampir jatuh beberapa kali. Membuatnya nampak natural.

Victoria bersyukur dalam hati. Ia benar-benar merasa senang karena Sevaro adalah pasangannya. Lelaki itu bahkan tidak berkomentar tentang tariannya yang buruk. Hanya terus membimbingnya agar tidak keluar dari ketukan.


"Terima kasih," bisik Victoria pelan.


Satu sudut bibir Sevaro terangkat. Lelaki itu tidak menjawab perkataan Victoria, hanya membiarkan gadis itu menunduk malu.

Di sela-sela dansa, matanya tak sengaja melihat seorang lelaki di sudut ruangan berdiri menatap mereka dengan raut wajah masam. Sevaro semakin melebarkan senyum, Ia sengaja menarik Victoria untuk semakin mendekat, membuat Putri Duke Neville itu mengerutkan kening bingung.


"Ada apa?"


Sevaro menggeleng pelan,
"Tidak. Hanya menyingkirkan seekor lalat."


Hah?
Seekor lalat?
Siapapun tolong ingatkan Victoria. Lain kali sebelum membuat pesta. Ia harus membasmi serangga serangga yang dapat mengganggu kenyamanan para tamu.

Yah, meski sedari tadi ia tidak merasa ada lalat, tapi kalau Sevaro sudah melihat. Setidaknya satu serangga menjengkelkan itu telah berhasil lolos masuk ke kediamannya.

Sevaro mengulum senyum. Ia geli melihat Victoria yang tampak berpikir keras. Sepertinya gadis itu mengartikan lalat yang ia katakan tadi sebagai lalat sesungguhnya. Biarkan saja. Tidak ada untungnya juga jika gadis itu tau yang sebenarnya. Justru sekarang ia merasa sangat senang melihat wajah Kesatria Kyle yang mengerut kesal.


Ya. Lihatlah sepuasmu. Lihat sampai Kau sadar dengan posisimu.


"Ah, Aku benci melihatnya," ucap Victoria tiba-tiba.


"Siapa?"


Sevaro menjauhkan tubuh mereka dengan kedua tangan yang masih saling bertaut. Memutar tubuh Victoria sebelum kembali memeluk erat. Meletakkan tangannya di pinggang sang gadis, sedang tangan yang lain saling menggenggam.


"Lady Poxc."


"Maksudmu Lady yang tadi memberi sapu tangan padaku?"


"Mhm."


Sevaro terkekeh,
"Kenapa? Menurutku dia cukup imut."


Kata-kata Sevaro seketika membuat Victoria menatap tidak senang,
"Oh, kalau begitu berdansa saja dengannya. Lepaskan Aku!"


"Heyyy sssttt. Aku hanya bercanda," Sevaro berbisik. Ia memelankan suaranya, mengingatkan Victoria bahwa mereka berdua masih menjadi pusat perhatian, "Jangan terlalu marah. Kau terlihat semakin cantik."


"Dasar lelaki. Kalian semua memang bermulut manis."


"Mulutku lebih manis jika bersamamu. Mau coba?"



Haaaa, bajingan gila!


Victoria mendecak malas, sedangkan Sevaro tersenyum puas. Ia senang melihat Victoria salah tingkah. Gadis itu bahkan menghindari kontak mata dengannya sekarang.


Duchess EllworthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang