Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Yang Rumit

22 17 0
                                        

Air hujan yang deras mengguyur mobil Bisma, menciptakan suara berirama yang terdengar konstan di atap dan jendela. Bisma mengemudikan mobilnya dengan hati yang berat. Matanya menatap lurus ke jalan, namun pikirannya melayang jauh. Rasa sedih dan kecewa menghantui setiap hembusan napasnya. Fakta bahwa Daisy Aurellia Najela, gadis yang selama ini ia kagumi diam-diam, ternyata adalah adik perempuan dari ayah yang sama membuatnya merasa hancur.

Bisma sudah lama mengetahui bahwa ayahnya memiliki dua istri. Istri pertama adalah Wina, ibu dari Nana, sedangkan istri kedua adalah Yuli, ibu kandungnya. Pernikahan poligami itu dimulai karena Wina tidak kunjung memiliki anak setelah bertahun-tahun menikah. Ayah Bisma, yang sangat menginginkan keturunan, akhirnya menikah lagi dengan Yuli. Ironisnya, setelah Yuli mengandung Bisma, Wina juga menyusul hamil enam bulan kemudian. Hal itu menciptakan situasi yang rumit dan menyakitkan bagi semua pihak. Meski begitu, Wina dan Yuli memilih untuk tetap mempertahankan pernikahan ini, demi anak-anak mereka.

Sambil mengingat semua itu, Bisma menepikan mobilnya ke halaman rumah. Hujan semakin deras, tapi ia sengaja tidak mengambil payung. Saat keluar dari mobil, tubuhnya langsung basah kuyup. Setiap tetes air yang jatuh seakan meresap ke dalam kulitnya, menutupi rasa sakit yang lebih dalam di dalam hatinya. Bisma sengaja membiarkan dirinya basah. Rasa dingin dari hujan mungkin bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari kenyataan pahit yang baru saja dia temukan.

Bisma masuk ke rumah lewat pintu bagasi, melewati mobil yang terparkir. Dia bisa mendengar suara tawa dari ruang televisi, datang dari arah dapur. Ayahnya, Yuli, dan Gita sedang duduk bersama di sana. Mereka terlihat begitu bahagia, tertawa bersama sambil menonton acara televisi favorit mereka. Bisma hanya melirik mereka sekilas, tidak ingin terlibat dalam kebahagiaan yang tampak palsu baginya. Rasanya seperti luka yang menyayat hatinya semakin dalam.

"Ya ampun, kenapa basah gini?" Suara Yuli terdengar dari belakang, penuh kekhawatiran. Bisma berhenti sejenak, tapi tidak berbalik. Dia tahu Yuli mengkhawatirkannya, tapi saat ini, dia merasa tidak punya energi untuk menjawab.

"Lain kali kamu pake payung kalau turun dari mobil ya, biar enggak sakit," Yuli menasihati dengan lembut. Dia berjalan mendekati Bisma, mencoba meraih bahunya, tapi Bisma mundur selangkah, menghindari sentuhan itu.

"Perasaan mama udah nyediain payung di mobil papa," lanjut Yuli, suaranya terdengar sedikit jengkel namun tetap lembut.

"Iya," jawab Bisma singkat, tanpa melihat Yuli.

Dia tahu ibunya sedang berusaha peduli, tapi Bisma merasa tidak sanggup menghadapi perhatian itu sekarang. Kepalanya masih penuh dengan fakta bahwa Nana adalah adik tirinya. Betapa rumitnya hubungan ini, dan betapa dekatnya mereka dengan kenyataan yang bisa menghancurkan kedekatannya dengan Nana.

Bisma melangkah masuk lebih dalam ke rumah, melewati Yuli tanpa berkata apa-apa lagi. Dia tahu itu mungkin menyakiti hati ibunya, tapi dia terlalu lelah untuk peduli. Hatinya yang hancur membuatnya ingin sendirian, jauh dari keramaian dan canda tawa yang saat ini terasa seperti ejekan baginya.

Saat Bisma berjalan menuju kamarnya, tawa dari ruang televisi masih terdengar. Gita sedang menceritakan sesuatu yang lucu, membuat ayah tertawa keras. Bisma berhenti sejenak, mendengarkan suara itu. Betapa kontrasnya dunia mereka dengan apa yang dirasakannya saat ini.

Di dalam kamar, Bisma menutup pintu dengan perlahan. Dia menanggalkan pakaian basahnya, menggantinya dengan baju tidur yang hangat. Tubuhnya gemetar, baik karena dingin maupun emosi yang memuncak. Dia duduk di tepi tempat tidur, memandangi lantai. Air matanya mulai mengalir, tak mampu ditahannya lagi. Tangannya terangkat untuk menyeka wajahnya, tetapi air mata terus saja mengalir.

"Kenapa harus sekompleks ini?" pikir Bisma dalam hati, merasa putus asa. Hubungan keluarga ini begitu rumit, dan ia tidak tahu harus berbuat apa. Satu hal yang dia tahu pasti: dia harus berbicara dengan Nana. Mereka harus menyelesaikan ini, sebelum semuanya menjadi lebih buruk.

Tetapi untuk saat ini, Bisma membiarkan air mata itu mengalir, berharap hujan di luar sana bisa menyamarkan suara tangisannya. Hanya suara hujan yang menemaninya malam itu, saat dia tenggelam dalam lautan pikirannya sendiri.

"Kenapa harus Nana," gumam Bisma pelan, suaranya hampir tak terdengar, tenggelam dalam derasnya hujan di luar. Hatinya terasa seperti diremas, sakit dan bingung. Fakta bahwa Nana adalah adik tirinya membuat segalanya terasa lebih rumit dan kacau. Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa perasaannya yang tulus dan hangat terhadap Nana justru harus terbungkus dalam hubungan darah yang tak terduga?

Ponselnya berdering beberapa kali, menandakan pesan masuk. Bisma meraih ponsel dari atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Layarnya menampilkan nama yang sudah sangat dikenalinya. Nana.

Pesan-pesan itu terpampang jelas di layar:

Nana anak Ips:
Bisma udah nyampe belum?
Udah sejam loh kamu enggak ada kabar.
Udah nyampe kan?
Enggak ada apa-apa kan?

Bisma menatap layar ponselnya dengan perasaan sesak yang mendalam. Nana, dengan perhatian dan kasih sayangnya yang tulus, selalu khawatir tentang dirinya. Kebaikan hati Nana seakan menambah beban di hati Bisma. Bagaimana mungkin dia bisa terus dekat dengan Nana, sementara mereka berbagi ayah yang sama? Bagaimana mungkin dia bisa terus memendam perasaan ini ketika kenyataannya mereka terikat oleh darah?

Nana tak pernah tahu, dan Bisma berharap dia tak perlu tahu. Mungkin, jika mereka tetap menjaga jarak, semuanya bisa berjalan seperti biasa. Tapi Bisma tahu, sekeras apapun ia mencoba, ia tak akan bisa mengabaikan perasaannya. Nana adalah bagian dari hidupnya yang tak bisa ia abaikan begitu saja.

Dengan tangan gemetar, Bisma mengetik balasan:

Bisma (Ayah):
Iya udah nyampe.
Istirahat dulu ya Na.
Goodnight.

Setelah mengirim pesan itu, Bisma meletakkan ponselnya kembali di meja. Ia menatap langit-langit kamarnya, mencoba menenangkan pikiran yang berkecamuk. Bagaimana jika Nana suatu hari tahu? Bagaimana jika kenyataan ini terungkap dan menghancurkan segala kedekatan yang mereka miliki?

Bisma memejamkan matanya, mencoba membayangkan wajah Nana. Wajah yang selalu tersenyum cerah, penuh semangat dan keceriaan. Bagaimana mungkin dia bisa menyakiti gadis itu? Namun, semakin dia mencoba melindungi Nana dari kenyataan, semakin terjerat dirinya dalam jaring perasaan yang rumit.

Dia mengambil napas panjang, berusaha meredakan kecamuk di dadanya. Esok hari akan datang dengan masalahnya sendiri. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah mencoba tidur dan berharap mendapatkan sedikit kedamaian dalam mimpi. Mungkin dalam tidurnya, semua ini bisa terasa lebih ringan, meski hanya untuk sementara.

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang