Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Cerita Bisma

22 13 0
                                        

Nana menghela napas berat, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdebar-debar. Ia melangkah mendekati Bisma yang sejak tadi duduk menghadap televisi. Deg! Sejenak, Nana merasa seperti sedang berada dalam adegan drama romantis, seolah-olah mereka adalah sepasang suami istri yang sedang menikmati waktu bersama di rumah. Pikiran itu membuat wajah Nana memerah, campuran antara malu dan rasa hangat yang menjalar di hatinya.

Mendengar langkah kaki Nana, Bisma menoleh ke belakang dan melihat Nana berdiri dengan ragu-ragu, seperti malu-malu untuk mendekat. Senyum tipis terukir di bibir Bisma. Ia bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekati Nana, lalu menggenggam tangannya dengan lembut.

"Ayo duduk, aku mau cerita sesuatu," kata Bisma, seraya menuntun Nana untuk duduk di sofa.

Nana menuruti ajakan Bisma, meskipun hatinya diliputi kegelisahan. Ada perasaan yang mengganjal, membuatnya penasaran sekaligus cemas dengan apa yang akan Bisma katakan. Matanya memandang Bisma dengan penuh harap, menunggu cerita yang akan keluar dari bibir lelaki itu. Menyadari tatapan penuh rasa ingin tahu dari Nana, Bisma tersenyum dan mengelus kepala Nana dengan lembut, memberikan rasa nyaman.

"Waktu aku SMP kelas 3 sampai kelas 1 SMA semester 1, ada seorang perempuan yang sangat aku sayangi," mulai Bisma. Suaranya terdengar pelan namun tegas, seolah-olah kata-kata itu membawa beban yang berat.

Deg! Jantung Nana berdegup kencang. Perempuan? Perasaan cemburu dan kekhawatiran mulai menguasai pikirannya. Pertanyaan-pertanyaan tentang siapa perempuan itu dan apa hubungan mereka muncul di benaknya, tetapi sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, kata-kata spontan keluar dari mulutnya, "Siapa?"

Bisma menatap Nana dengan senyum sabar. "Dengerin dulu, aku mau cerita," katanya lembut.

Nana mengangguk, berusaha menahan rasa penasarannya. Ia menunggu dengan saksama, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Bisma.

"Dia adalah gadis yang menemani aku ketika dunia aku sedang hancur-hancurnya. Waktu itu, papa meninggal, dan mama... mama menikah lagi dengan Om Noval. Kehidupan keluargaku berubah total. Mama mulai tidak peduli denganku, seolah-olah aku bukan anaknya lagi. Ternyata aku baru tahu kalau aku adalah anak dari perselingkuhan papa," jelas Bisma, suaranya terdengar berat saat mengucapkan kata-kata terakhir.

Nana terdiam, wajahnya membeku dalam keterkejutan. Selama ini, ia selalu membayangkan keluarga Bisma sebagai potret keharmonisan yang sempurna. Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa di balik senyum tenang dan sikap dewasa Bisma, tersembunyi luka-luka lama dan kisah kelam tentang keluarganya. Pengakuan Bisma mengguncang batinnya—ada getar halus yang menjalar di dada Nana. Ia merasakan getir yang mendalam, seolah ikut menanggung beban yang selama ini disembunyikan Bisma rapat-rapat di balik sorot mata yang tenang.

"Jadi, perempuan itu... dia yang selalu ada untukmu?" tanya Nana pelan, suaranya bergetar sedikit.

Bisma mengangguk pelan. "Ya, dia yang selalu ada di saat aku merasa sendirian. Dia membuatku merasa berarti, membuatku yakin kalau aku masih punya alasan untuk bertahan. Tapi..." Bisma menghela napas panjang, tatapannya menerawang ke luar jendela. "Kami akhirnya berpisah. Ada hal-hal yang tidak bisa kami atasi, dan hubungan kami berakhir begitu saja."

Nana merasakan air mata hampir menetes dari matanya. Dia mengerti perasaan kehilangan yang dirasakan Bisma.

"Aku... aku nggak tahu kalau kamu punya masa lalu seberat itu," bisiknya.

Bisma menatap Nana, tersenyum tipis. "Kamu tahu, Na? Kadang kita nggak bisa memilih dari mana kita berasal atau situasi apa yang menimpa kita. Tapi kita bisa memilih bagaimana kita menjalaninya, kan?" katanya sambil menyentuh pipi Nana dengan lembut.

Nana merasakan sentuhan hangat Bisma di pipinya, membuat hatinya terasa lebih tenang. Ia mengangguk pelan. "Iya, kamu benar, Bisma." jawabnya dengan suara lembut.

Bisma menatap Nana dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, dan melanjutkan ceritanya, "Tapi, Na, walaupun begitu, aku tetap sangat menyayangi mereka semua, terutama adikku dari papa."

Nana menatap Bisma dengan bingung, pikirannya langsung tertuju pada satu nama. "Gita?" tanyanya ragu.

Bisma tersenyum tipis, lalu menggeleng. "No. Gita itu anaknya Om Noval dan mama. Dia adik tiriku. Aku bicara tentang adikku yang lain, yang seayah denganku."

Nana mengerutkan kening, merasa kebingungan. Ia mencoba mencerna apa yang dikatakan Bisma. Baginya, cerita ini mulai terasa rumit. Namun, sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, Bisma melanjutkan.

"Andai saja aku masih bersama Sinda, aku mungkin akan bisa menceritakan semua ini dan menemukan cara untuk menghadapi perasaan ini." Bisma berhenti sejenak, seolah berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk melanjutkan. "Sinda adalah gadis yang aku maksud tadi, Na."

Nana mengangguk pelan, berpura-pura mengerti, meski hatinya terasa sedikit sesak. Nama Sinda membawa beban tersendiri, bayangan seseorang yang begitu berarti bagi Bisma di masa lalu. "Emang Sinda kemana? Dan kenapa kalian bisa udahan?" tanyanya hati-hati.

Bisma menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Aku dan Sinda punya kecintaan yang sama pada gunung. Kami sering mendaki bersama. Mendaki membuatku merasa bebas, begitu juga dia. Tapi, suatu hari, dia memutuskan untuk solo hiking. Dia bilang ingin mencari ketenangan sendiri di atas gunung. Cuaca hari itu tidak menentu, badai tiba-tiba datang, dan... dan dia hilang di gunung Salak," suara Bisma bergetar, matanya kini benar-benar basah.

Nana terdiam, terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia sangat tahu berita tentang gadis yang hilang di Gunung Salak, berita itu sempat ramai beberapa waktu lalu. Tak disangka, gadis itu adalah kekasih Bisma, Sinda. Seketika Nana mengingat foto yang pernah ia lihat di kamar Bisma, foto seorang gadis yang tersenyum ceria. Itu pasti Sinda, pikirnya. Hati Nana terasa nyeri membayangkan perasaan Bisma yang ditinggalkan dengan cara yang begitu mendadak dan tragis.

Deg! Sorotan mata Nana menangkap Bisma yang meneteskan air mata. Tanpa berpikir panjang, Nana bergerak mendekat, memeluk Bisma erat-erat, membiarkan kepala Bisma bersandar di pundaknya. Ia ingin Bisma tahu bahwa ada seseorang di sini yang peduli padanya, yang siap mendengarkan dan menenangkannya.

"Gak apa-apa, Bisma," bisik Nana pelan, tangannya menepuk-nepuk punggung Bisma dengan lembut. "Nana ngerti banget rasanya ditinggalkan orang yang kita sayangi. Nana tahu bagaimana perihnya kehilangan itu."

Bisma memejamkan mata, merasakan pelukan Nana yang hangat. Pelukan itu memberikan sedikit ketenangan dalam kekacauan perasaannya. "Orang lain sering bilang supaya kita ikhlas merelakan kepergian seseorang," lanjut Nana dengan suara lembut, "tapi buat orang yang mengalaminya, itu gak semudah yang mereka pikirkan. Merelakan kepergian seseorang gak bisa instan, ada luka yang butuh waktu untuk sembuh."

Nana perlahan melepaskan pelukannya, menatap mata Bisma yang kini tampak lebih tenang meski masih menyisakan kesedihan. Hatinya terasa berat melihat Bisma dalam keadaan seperti ini. Ia tahu betapa dalamnya luka Bisma, dan ia ingin sekali bisa membantu menyembuhkannya.

Bisma menatap Nana dengan tatapan penuh terima kasih, meskipun di matanya masih ada bayang-bayang kesedihan. "Terima kasih, Na," ucapnya lirih. "Aku gak tahu kalau aku bisa bercerita seperti ini ke orang lain, tapi sama kamu, aku merasa nyaman."

Nana tersenyum tipis, meski hatinya merasakan beban berat. Ia menyadari bahwa mencintai Bisma berarti harus menerima masa lalunya, dan itu bukanlah hal yang mudah. Ternyata, mencintai seseorang yang punya kenangan indah dengan orang lain bisa terasa lebih menyakitkan daripada mencintai seseorang yang telah pergi dari kehidupannya.

Namun, di saat yang sama, Nana juga tahu bahwa ia tidak ingin melepaskan Bisma. Perasaan yang ia miliki untuk Bisma sudah terlalu dalam, dan ia siap menghadapi apapun untuk tetap bersama Bisma, bahkan jika itu berarti harus bersaing dengan bayang-bayang masa lalu Bisma yang masih menghantuinya.

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang