Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Kecewa

24 18 0
                                        

Cafe adalah tempat kedua laut untuk menenangkan diri. Di akhir pekan ini Nana pergi sendiri ke sebuah cafe yang cukup sepi dan hanya terlihat tiga perempuan dan dirinya. Lalu Nana memilih duduk di ujung cafe, menikmati coffeelatte dan sepotong cake agar hatinya lebih damai.

Terlihat dua perempuan yang terduduk ke arah Nana menatap dengan rasa ibanya. Nana tahu pasti mereka bertiga sedang membicarakan dirinya, karena salah satu dari mereka Nana mengenali walau terlihat dari punggungnya saja.

Tiga perempuan itu berdiri, membawa minumannya. Tetapi dengan sengaja perempuan yang berambut pink itu menumpahkan minuman kepada rambut Nana. Nana yang sedang melamun dengan tatapan kosongnya itu terpelonjat kaget mendapatkannya.

"Maksudnya apa, ya?" Wajah Nana yang cukup memerah karena kesal.

Mereka berdua menarik Nana ke arah keluar, Nana memberontak tetapi tetap dipaksa oleh perempuan yang tak ia kenali ini.

"Ini nih cewek yang godain, Bisma," ujar Tesya.

Nana tersenyum kecut, ternyata segerombolan wanita yang fans pada kakaknya.

"Emang siapa orang yang suka Bisma atau enggak pacarnya?" tanya Nana.

Cika cukup kesal dengan tingkah Nana yang menurutnya tak tahu diri itu. Dan Amel berbicara, memberitahu bahwa ia adalah sang kekasih dari Bisma dan menyuruh Nana untuk menjauhinya saja.

"Gue udah muak liat lo yang selalu berduaan sama Bisma, maksud lo apaan begitu, ha?!" cerocos Tesya.

Nana tersenyum kecut dan bersabar dengan situasi yang ia hadapi saat ini agar tak terpancing oleh sebuah emosi. Walau saat ini Nana sedang dimaki-maki sebagai pelakor yang tak tahu diri. Tangan Amel meremas rambut Nana. Nana yang meringis kesakitan itu membalas dengan tangannya. Tetapi ini tak adil karena lawan satu banding tiga.

"Ngakak, simulasi jadi pelakor."

"Pelakor?" lirih Nana.

"Terus maksud lo apa deketin Bisma? Lo puas gue putus lo jadian," gertak Amel.

Fiuh, memang berantem dengan perempuan yang seperti tiga perempuan ini membuat Nana capek. Hanya karena laki-laki mereka berani sekali mem-bully orang lain. Nana ingin memberitahu, tetapi situasi ini tak mengizinkan Nana untuk berbicara. Karena yang bernama Cika terus-menerus mengoceh dan melemparkan makian kepada Nana.

Jika Bisma memang bukan kakak pun, Nana pasti tak akan sudi untuk mendekati laki-laki yang sudah mempunyai kekasih dan Nana tak akan pernah masuk ke dunia seseorang jika tak di izinkan, Nana tak akan mengganggu jika seseorang itu tak ingin di ganggu. Nana tak akan pernah bersifat egois sendiri jika sudah bersangkut paut dengan masalah percintaan. Mungkin saja karena Bisma tahu bahwa Nana adalah adiknya, Bisma tetap merespon Nana dengan baik. Karena ia adalah adiknya.

"Nggak habis pikir gua, sih, cewek ada yang kaya begini, nggak ada malu deketin cowok yang udah punya cewek," ucap Amel kembali dengan nada tinggi.

"Aduh, bentar, deh. Beri gue kesempatan buat ngomong napa," dengus Nana kesal.

"Nggak usah ngomong lo basi!"

"Basi."

"Munafik."

"Nggak usah ganggu cowok gua lagi paham!"

"Gara-gara lo bisma jadi berubah," ucap Amel kembali.

Nana tersenyum kecut, membuat semakin kesal tiga perempuan ini.

"Lo prik gila."

"Mikir! Punya otakkan!"

"Gue adik tirinya, Bangsat!" bentak Nana karena saking kesalnya akan rundungan yang ia dapat.

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang