Berdua denganmu seperti ini adalah kebahagiaan
Yang mungkin akan abadi dalam ingatan
~Daisy Aurellia Najela~
Nana membuka pintu utama rumahnya, sedikit kesal karena laki-laki yang sudah menekan tombol bel berkali-kali itu tak sabar menunggu. Bisma, yang berdiri di depan pintu, tersenyum saat melihat Nana. Matanya mengamati penampilan Nana yang berbeda dari biasanya—jaket hitam yang menonjolkan sisi kasual, celana jeans yang pas di kaki, makeup tipis yang mempercantik wajahnya, dan rambut yang diikat cepol. Ada sesuatu yang lain dari Nana hari ini, sesuatu yang membuat Bisma tersenyum tanpa sadar.
"Ada apa kok liatinnya gitu?" tanya Nana dengan nada sedikit tak percaya diri, menyadari pandangan Bisma yang terpaku padanya.
Bisma hanya melemparkan senyum tipis, berusaha menenangkan hati Nana. "Enggak apa-apa, kok. Kamu cantik banget, Na. Sampai bikin aku pangling, soalnya beda dari biasanya."
Ucapan Bisma membuat jantung Nana berdetak lebih cepat. Pipinya memerah malu, semburat merah muda terlihat jelas di wajahnya. Perasaan yang aneh mengalir di dadanya, antara bahagia dan gugup. Senyum malu-malu mengembang di bibir Nana, saat ia mengucapkan terima kasih pelan.
Setelah berpamitan pada Wina, ibu Nana, Bisma dengan lembut menggenggam tangan Nana, membawanya menuju motor vespa birunya yang terparkir di depan pagar. Dengan cekatan, Bisma mengambil helm yang tergantung di kaca spion dan memasangnya di kepala Nana. Sentuhan Bisma saat mengencangkan tali helm membuat Nana merasakan getaran lembut, hatinya semakin berdebar.
"Yuk, naik," Bisma berkata sambil mengusap-usap kepala Nana dengan lembut, seperti seorang kakak yang sayang pada adiknya. Nana hanya bisa tersenyum, menutupi kegugupannya dengan menundukkan kepala. Ia melangkah naik ke atas motor, berpegangan erat pada Bisma.
Dalam diam, mereka berdua menikmati momen itu, perasaan nyaman dan hangat menyelimuti. Udara sore yang sejuk menyapa mereka saat Bisma mulai mengendarai motornya, meninggalkan halaman rumah Nana. Rasanya dunia menjadi milik mereka berdua, di atas vespa yang melaju pelan, dengan senyum yang terus mengembang di wajah mereka.
˖°𓇼🌊⋆
Setelah berjuang melawan kemacetan kota, akhirnya mereka berhasil mencapai jalan yang lebih lengang. Motor vespa Bisma kini melaju di antara gunung-gunung yang menjulang tinggi, dengan pemandangan persawahan hijau yang terbentang luas. Udara pegunungan yang sejuk terasa begitu menyegarkan bagi Nana, yang duduk membonceng di belakang Bisma. Angin yang menerpa wajahnya membawa aroma segar dari tumbuhan dan tanah, membuat Nana merasa bebas dan bahagia. Ternyata, pengalaman riding menggunakan motor tak seburuk yang ia bayangkan. Malahan, ia menikmatinya.
Bisma melirik kaca spion, melihat Nana yang tampak terpesona memandangi pemandangan sekitar dengan senyuman kecil terukir di bibirnya. Genggaman tangan Nana yang melingkari pinggangnya semakin erat, membuat Bisma merasa hangat.
"Na," panggil Bisma untuk memecah keheningan.
Nana langsung mengalihkan pandangannya dari pemandangan sekitar ke arah Bisma. "Apa?"
"Senang enggak?" tanya Bisma dengan nada ceria.
Nana tersenyum lebar. "Iya, senang dong! Pemandangannya indah banget."
Bisma tersenyum puas mendengar jawaban itu. "Asyikan pake motor, kan?" tanyanya lagi, ingin tahu lebih lanjut apa yang Nana pikirkan.
Mendengar pertanyaan itu, senyuman di wajah Nana memudar sedikit. Ia menatap pantulan wajah Bisma di kaca spion dengan ragu. Bisma, menyadari perubahan ekspresi Nana, merasa seolah-olah dia telah salah bicara.
Namun, Nana kembali tersenyum, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Iya, senang kok. Baru kali ini ngerasain pake motor gini. Biasanya kalau jalan sama Dea atau Gara, eh, biasanya pake mobil. Jadi, nggak bisa lihat pemandangan kayak gini," ujarnya, hampir keceplosan menyebut nama yang lain.
Bisma menangkap perubahan nada suara Nana dan menatapnya dari spion, wajahnya menunjukkan sedikit rasa ingin tahu. "Gara pasti cowok, ya?" tebak Bisma dengan nada datar.
Nana mulai merasa bingung, takut jika topik ini akan membawa masalah. "Maksudnya, temen cowok yang suka bareng Diki itu, kan? Namanya Gara?" Bisma mencoba meluruskan dugaannya.
Nana tersenyum lega, berpikir bahwa Bisma mengira Adul sebagai Gara. Tapi dia tahu Bisma sebenarnya sudah tahu lebih dari itu. "Bukan, itu namanya Adul," Nana menjelaskan.
"Lalu Gara siapa?" tanya Bisma, kali ini suaranya lebih lembut, seolah-olah dia berusaha menggali sesuatu yang lebih dalam.
Nana menghela napas pelan. "Hm, Gara itu... temen masa kecil Nana. Kita dulu sering main bareng, tapi sekarang dia udah entah ke mana."
Bisma mengangguk mengerti. "Oh, gitu ya. Namanya Gara, ya?" tanya Bisma lagi, memastikan.
Nana hanya mengangguk-angguk pelan, kemudian memejamkan mata sejenak, berusaha menghindari pertanyaan yang lebih jauh. Meski udara dingin pegunungan terasa menyegarkan, ada sesuatu di dalam hati Nana yang terasa mengganjal. Ia berharap Bisma tak lagi bertanya lebih jauh tentang Gara, setidaknya untuk saat ini.
Nana hanya mengangguk-angguk, lalu ia memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak ingin ia jawab. Seolah-olah bayangan masa lalunya kembali menghantui setiap waktu yang ia habiskan bersama Bisma. Namun, ia berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlihat canggung di hadapan Bisma, yang sedang fokus menyetir motor di jalanan berkelok menuju villa.
˖°𓇼🌊⋆
Setelah beberapa saat, Vespa milik Bisma akhirnya terparkir di halaman depan sebuah villa sederhana. Malam itu, villa tersebut akan menjadi tempat mereka menginap. Nana turun dari motor dengan sedikit kaku, kemudian mengambil dua ranselnya dan tersenyum kecil ke arah villa itu. Bangunan berwarna krem dengan teras kayu dan tanaman rambat di dindingnya, terlihat cukup nyaman dan intim untuk ditempati dua orang. Villa tersebut bukanlah tempat mewah, tapi cukup hangat dan menyenangkan bagi Nana.
"Ayo, Na. Masuk," ajak Bisma sambil membuka gerbang villa yang terbuat dari kayu. Suara engsel yang berdecit pelan menambah kesan hangat tempat itu.
Nana mengikuti langkah Bisma, melewati teras kayu yang diterangi lampu temaram. Begitu pintu utama villa terbuka, mereka disambut oleh ruangan sederhana dengan perabotan kayu dan aroma bunga segar yang menyenangkan. Kamar yang akan mereka tempati terletak di lantai atas, dengan jendela besar menghadap ke pemandangan pegunungan. Nana bisa merasakan angin malam yang dingin menyelinap masuk, membuatnya merinding sejenak.
Sesampainya di kamar, Nana duduk di pinggir ranjang, menatap keluar jendela dengan perasaan yang campur aduk. Rasa bahagia karena bisa bersama Bisma, menikmati momen tenang di tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada gelisah yang muncul, mengingatkannya pada sahabat masa kecilnya, Segara. Nana sudah berusaha melupakan Segara, tetapi kenangan akan dirinya seakan selalu muncul tanpa bisa ia kendalikan.
"Gara..." bisik Nana pelan, matanya menatap jauh ke arah pegunungan yang gelap. "Nana sudah menemukan seseorang yang menggantikanmu."
Perkataan itu terlontar dari bibirnya, seakan-akan berbicara langsung kepada bayangan masa lalu yang tak pernah sepenuhnya menghilang. Ada rasa bersalah yang menyelinap di hati Nana, seolah-olah ia mengkhianati janji masa kecil mereka. Gara adalah sahabat terbaiknya, seseorang yang selalu ada di sampingnya dalam segala situasi. Tapi hidup terus berjalan, dan sekarang, ada Bisma yang membuatnya merasa diperhatikan dan disayangi.
Nana teringat saat-saat dia dan Segara berlari di pantai, berteriak-teriak mengejar ombak sambil tertawa. Mereka berjanji untuk selalu bersama, saling menjaga satu sama lain. Tapi, ketika dewasa, mereka terpisah oleh keadaan. Segara pergi tanpa banyak penjelasan, meninggalkan Nana dengan pertanyaan dan kerinduan yang tak terjawab. Selama bertahun-tahun, Nana mencoba melupakan Segara, namun selalu ada bagian dari dirinya yang berharap suatu hari Gara akan kembali, memberikan jawaban atas semua pertanyaannya.
Malam itu, Nana merasa harus melepaskan perasaannya terhadap Segara, mengikhlaskan kenangan yang masih menggantung di hatinya. Ia menyadari, mungkin sudah waktunya untuk benar-benar melangkah maju dan membiarkan Bisma masuk ke dalam hidupnya. Bisma yang selalu ada, Bisma yang selalu perhatian dan membuatnya merasa istimewa.
Nana menghela napas panjang, berusaha menenangkan hatinya. Ia tahu, malam ini mungkin bukan saatnya untuk sepenuhnya melupakan Segara, tapi setidaknya, ia bisa mulai dengan membuka hatinya lebih lebar untuk Bisma.
KAMU SEDANG MEMBACA
OMBAK BERSORAK
RomanceSetelah kehilangan kali ini, selanjutnya kehilangan apa lagi? Seolah semesta tak pernah mengizinkanku untuk merasakan kasih sayang yang utuh-baik disayangi maupun menyayangi. Semua yang datang terasa singkat, seperti angin yang berlalu tanpa pernah...
