Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Segara & Nana

19 12 0
                                        

Maaf...
Aku terlalu lambat memahami isyarat hatimu,
terlambat menyadari bahwa rasa itu telah lama menanti.

~ Daisy Aurellia Najela~

Segara menghela napas panjang saat mobilnya melaju menyusuri jalan menuju rumah. Pikirannya dipenuhi bayangan wajah Nana, gadis yang dulu begitu dekat dengannya. Rasa rindu yang telah lama dipendam, kini kembali menguak, membuat hatinya terasa sesak. Dulu, mereka bisa berbicara tentang apa saja, saling berbagi mimpi dan rahasia. Namun sekarang, semua itu hanya tinggal kenangan yang tampak semakin jauh dari jangkauan.

Segara memejamkan matanya sejenak, berusaha menenangkan perasaannya yang sedang berkecamuk. Ia sangat merindukan masa-masa saat mereka bisa duduk berdua tanpa beban, saat Nana akan tertawa mendengar lelucon-leluconnya yang kadang garing, atau saat mereka bisa saling menghabiskan waktu dengan berbicara tentang impian-impian mereka. Namun, sebuah kejadian di masa lalu telah merusak semuanya, membuat hubungan mereka menjadi rumit dan berjarak.

Kilas balik, bertahun-tahun yang lalu...

Di sebuah perpustakaan yang tenang, suara desing kipas angin terdengar halus, menciptakan suasana yang nyaman. Meja kayu tempat Segara dan Nana duduk berhadapan dipenuhi buku-buku dan kertas-kertas tugas. Mereka tengah berada di kelas 8, semester kedua, dan sore itu mereka memutuskan untuk mengerjakan tugas sekolah bersama di perpustakaan. Meskipun begitu, Segara merasa pikirannya teralihkan. Sejak awal, tatapannya tak pernah lepas dari Nana.

Dia memperhatikan bagaimana Nana dengan serius menulis, alisnya yang sedikit berkerut saat berusaha memahami materi pelajaran, dan sesekali dia menggigit ujung pulpennya saat berpikir. Segara tidak bisa menahan diri. Sementara Nana sibuk dengan tugas, tangannya justru sibuk menggoreskan pensil di atas kertas, menggambar wajah Nana dengan detail. Garis-garis wajah Nana yang lembut, rambutnya yang tergerai, dan senyum kecil yang terkadang muncul di bibirnya ketika dia menemukan jawabannya sendiri. Semuanya tergambar jelas di kertas milik Segara.

Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati Segara. Sesuatu yang membuatnya gelisah. Rasa takut bahwa perasaannya tidak akan pernah terbalas, bahwa Nana tidak pernah melihatnya lebih dari sekadar teman. Dan semakin dia menatap Nana, semakin dalam perasaan itu menghujam hatinya.

"Jela, lihat aku dulu," pinta Segara dengan nada yang mendesak.

Nana yang masih fokus pada buku catatannya, menjawab tanpa menoleh, "Iya, Gara, ada apa?"

Segara merasa frustasi. Dia ingin Nana benar-benar melihatnya, tidak hanya sekadar menanggapi sambil lalu. Ia ingin Nana menyadari bahwa ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, sesuatu yang penting. "Jela, aku minta kamu lihat aku dulu," pintanya sekali lagi, kali ini suaranya terdengar lebih tegas.

Nana akhirnya menaruh pulpen di atas bukunya dan mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu, dan untuk sesaat waktu seolah berhenti. Segara menatap Nana dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara harapan, keraguan, dan keputusasaan. Sedangkan Nana, meski sedikit terkejut dengan ekspresi Segara, hanya menatap balik dengan bingung.

"Ada apa, Gara?" tanya Nana, nada suaranya lembut namun sedikit cemas. Dia tidak pernah melihat Segara segelisah ini sebelumnya.

Di perpustakaan yang sunyi, Nana dan Segara sedang duduk di meja yang terletak di sudut ruangan. Segara tampak sangat tertekan, kepalanya menempel di meja, seolah-olah dunia di sekelilingnya telah membebaninya. Nana yang duduk di hadapannya berusaha membantu semaksimal mungkin, berharap bisa membuat Segara merasa lebih baik.

"Pentas seni kan udah selesai, emang ada tugas yang ngebuat Gara susah?" tanya Nana dengan harapan bisa memberikan bantuan.

Segara hanya menggelengkan kepalanya, tetap menunduk tanpa mengangkat wajahnya. Ia jelas-jelas tidak bisa fokus pada tugasnya, dan meskipun Nana sudah beberapa kali menawarkan bantuan, Segara tampak enggan.

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang