Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Perempuan Lain

31 18 0
                                        

"Segara," panggil Nana sedikit sebal dengan keberadaan Segara yang tiba-tiba berada di depan rumahnya. Ia membawa koper berwarna biru dan membawa tas kecil yang ia soren di pundaknya. Nana berpikir bahwa Segara lagi-lagi bolos sekolah, karena libur sekolah memang belum mendatang

"Bukannya di suruh masuk, malah lihatin terus," ucapSegara.

Nana menghela napas pelan meraih koper Segara dan membawanya masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh langkah kaki laki-laki tersebut.

"Lo ngapain, sih? 'Kan belum libur?" tanya Nana.

"Bolos, ya?" tanya Nana menyakinkan.

Segara terdiam, ia tak mungkin menceritakan perihal ia bertengkar lagi dengan sang Ayah. Wina yang datang dari arah dapur, kebetulan jam makan siang sudah Wina sediakan.

"Segara ini 'kan belum waktunya libur?" tanya Nana kembali.

"Udah makan dulu," ucap wina sembari menatap wajah Nana.

Nana mengehala napas pelan ia pun menuruti perkataan dari Wina, sang Bunda.

Wina menyelesaikan makananya, meninggalkan Segara dan Nana berdua di ruang makan, Wina mengerti dengan situasi yang ada. Kedua bola mata Nana melirik ke arah Segara. Nana tahu dari wajah sahabatnya yang tampak murung sepertinya Segara lagi mempunyai masalah dalam hidupnya.

"Segara cerita ada apa?" tanya Nana kembali.

Segara menghentikan sendok yang berisi nasi dan lauk yang akan tersuap ke dalam mulutnya. Segara menghela napas pelan, ia menggelengkan kepalanya, ia berbohong kepada Nana saat ini dan memilih minum air putih itu.

"Ada apa, sih, Segara? Nana tahu Segara lagi ada masalah, kelihatan dari wajahnya," kesal Nana.

"Cerita aja Gara, Nana pasti dengerin, kok. Walausekarang kenyataannya kita sudah seberantakan ini, bukan Nana bermaksud menerima Segara kembali menjadi lebih dari sahabat, Nana ingin kita berdua baik-baik saja," jelas Nana.

Nana berpikir, ini kah hidup? Kita di pertemukan untuk saling belajar dari seseorang yang bertemu dengan kita. Dari pertemuan pasti ada juga perpisahan, gadis yang bernama Daisy Aurellia Najela alias Nana, sungguh ia tak menerima perpisahan, apalagi jika seseorang tak bisa kembali dalam pelukannya, rasanya seperti hidup ini terasa hampa sekali.

Nana selalu berharap jika seseorang datang menyapa dan memberi kebahagiaan, ia akan tetap tinggal untuk selamanya, tak meninggalkannya ketika dirinya sudah terjatuh. Apakah semua hidup seperti ini? Ketika sudah merasa takut kehilangan seseorang, tapi seseorang malah pergi dari kehidupan.

"Makasih dan Maaf, Na, aku kembali tanpa ada rasa malu sedikit pun. Aku hanya tak ingin kehilangan kamu untuk kedua kalinya, aku ingin kamu tetap ada di samping aku. Aku bakal nerima keputasan kamu, apapun itu," aku Segara.

Air mata yang mengalir begitu saja mendengar ucapan yang Segara lontarkan kepadanya. Sungguh ini apakah mimpi? Masih ada seseorang yang datang dan takut kehilangan dirinya.

"Kalau kamu nggak ingin kehilangan aku, kenapa dulu kamu menghilang begitu saja?"

Segara menghela napas pelan, sebanarnya ia menahan air mata di pelupuknya agar tak terjatuh dan mengalir di pipi. "Kalau aku jujur, aku tak ingin menyakiti perasaan kamu, Na."

"Segara, sebuah ke jujuran itu lebih baik di banding kita memendamnya sendiri. Masalah hidup memang selalu ada, aku nerima itu walau itu menyakitkan perasaan aku. Dan kamu tahu itu bukan? Aku lebih baik mendengar sebuah ke jujur. Walau kejujuran itu menyakitkan, di banding aku menerima sebuah kebohongan dari seseorang. Seolah-olah dia mencintai aku, tetapi sebenarnya tidak. Dan sebaliknya, seolah-olah orang itu tak suka kepadaku, padahal ia sangat menyayangi. Artinya ia melukai keduanya, melukai perasaan orang lain dan perasaan dirinya sendiri."

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang