Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Kebingungan

23 19 0
                                        

Nana berdiri di depan cermin, bibirnya melantunkan lagu favorit dengan lembut. Rambutnya yang masih basah perlahan mengering di bawah hembusan hangat hair dryer berwarna merah muda. Suara alat itu berpadu dengan gemericik hujan di luar jendela, menciptakan harmoni nyaman di kamarnya yang tenang. Tiba-tiba, ponselnya bergetar, memecah suasana. Nama Bisma muncul di layar, membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Dengan tergesa, ia meraih ponsel dan membuka pesan itu. Namun, seiring kata-kata di layar terurai di matanya, senyum hangat yang menghiasi wajahnya perlahan memudar.

Bisma (Ayah):
Nana, sorry ya, soal ajakan tadi kamu di taman. Aku bukannya nolak jalan-jalan. Aku sakit, jadi sabtu depan ya.

Nana menarik napas panjang, keningnya berkerut dalam. Dengan perasaan campur aduk—sedikit kesal, namun terselip rasa khawatir dan lega—ia mulai mengetik balasan.

Nana anak IPS:
Tuh kan, kata Nana juga nginep aja. Jadi sakit karena hujan kan?

Sementara itu, Bisma baru saja keluar dari kamar mandi. Kamar mandinya yang langsung terhubung dengan kamar tidur memudahkannya untuk segera berganti pakaian dan merebahkan diri. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di saku seragam sekolah di atas kursi, lalu matanya segera tertuju pada pesan dari Nana yang terpampang di layar. Sebuah senyum getir menghiasi wajahnya, mencerminkan kerumitan yang bergelut di hatinya.

Bisma tahu, alasan sakit yang ia berikan hanyalah dusta. Tubuhnya sehat, tetapi hatinya kacau, dilanda kebimbangan yang tak kunjung reda. Ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, meresapi perasaannya yang bergejolak, dan menghadapi kenyataan yang selama ini menghimpit pikirannya. Bisma sadar, ia harus menemukan cara terbaik untuk mengungkapkan kebenaran kepada Nana—bahwa ikatan di antara mereka jauh lebih rumit daripada yang terlihat, karena mereka ternyata adalah saudara.

Ia pun berpikir, mungkin menangis adalah hal yang wajar bagi anak laki-laki. Meskipun selama ini ia berusaha keras untuk tidak menunjukkan kesedihannya, terkadang perasaan itu terlalu berat untuk dipendam. Lagipula, anak laki-laki juga manusia yang memiliki perasaan, bukan? Mungkin tidak apa-apa jika ia bersedih dan menangis, selama tidak ada yang melihat.

Bisma mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Rasa sedih dan kecewa pada dunia masih menyelimuti hatinya, tapi ia berharap, suatu hari nanti, kebahagiaan yang diimpikannya akan terwujud. Meski saat ini semuanya terasa rumit dan membingungkan, Bisma tetap percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia hanya perlu waktu untuk merenung dan menerima kenyataan, serta mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Nana. Dengan harapan, Nana bisa mengerti dan menerima kenyataan ini dengan lapang dada.

Pukul 23:01, Nana dengan cemas terus memeriksa ponselnya, khawatir karena balasan dari Bisma belum juga datang. Setiap detik rasanya seperti menit, dan setiap menit seperti jam. Rasa gelisahnya semakin menjadi-jadi. Ia berharap Bisma bisa memberikan balasan, meski singkat, agar tidak membuatnya berpikir hal-hal buruk tentang situasi mereka.

Nana anak IPS:
Bisma, udah tidur? Besok aku jenguk ya ke rumah ya.

Sementara itu, Bisma sedang larut dalam permainan Mobile Legends di kamarnya. Bagi Bisma, bermain game adalah pelarian dari stres dan masalah hidup. Ia merasa bermain game dan mendaki gunung adalah cara terbaik untuk merasa tenang dan melupakan beban yang ada. Dengan fokus penuh pada layar ponsel, ia tidak memperhatikan ponselnya yang bergetar berulang kali.

Setelah beberapa waktu, Bisma akhirnya menyelesaikan permainan dan memutuskan untuk memeriksa ponselnya. Layarnya dipenuhi dengan berbagai notifikasi, termasuk pesan dari Nana yang sudah lama ditunggu-tunggu.

Memutuskan untuk segera membalas, Bisma terlebih dahulu merespons pesan dari adiknya, Daisy Aurellia Najela, yang merupakan prioritas baginya. Dengan cepat, ia mengetik balasan tanpa memikirkan bahwa panggilan "sayang" mungkin bisa membingungkan bagi orang lain.

Bisma (Ayah):
Iya sayang, dateng aja.

Tanpa menyadari bahwa panggilan tersebut bisa membingungkan Nana, Bisma merasa lega akhirnya bisa merespons pesan, meskipun hanya secara singkat. Dalam pikirannya, ia hanya berusaha menjaga hubungan baik dengan adiknya dan mengabaikan detail yang mungkin tampak penting bagi orang lain.

Sementara itu, Nana yang sudah sangat mengantuk dan frustrasi menunggu balasan, akhirnya tertidur di atas tempat tidur dengan ponsel masih di tangan. Dalam tidurnya, ia tidak menyadari bahwa ia baru saja berbalas pesan dengan seseorang yang sebenarnya adalah kakaknya, Bisma.

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang