Nana melangkah melalui koridor sekolah dengan tujuan yang jelas: mencari Bisma. Dua hari telah berlalu sejak pesan terakhirnya, dan hari ini Bisma belum juga membalas, bahkan Nana tidak melihatnya di sekolah.
Ketika Nana tiba di depan kelas Bisma, ia menarik perhatian semua orang di sekeliling. Terasa seperti semua mata tertuju padanya saat ia berdiri ragu di ambang pintu. Nana tidak mengenal siapa pun di kelas ini selain Bisma, dan suasana di dalam kelas terasa canggung.
Ia mencari-cari sosok Bisma di antara murid-murid yang sedang duduk, lalu matanya beralih ke seorang perempuan yang memakai bando dan duduk di barisan depan. Perempuan itu menatap Nana dengan ekspresi tidak suka. Tanpa basa-basi, Nana melambaikan tangannya kepada Tesya, yang duduk di depan. Tesya, yang merasa dipanggil, menatap Nana dengan rasa ingin tahu.
"Mau nanya, Bisma kemana ya?" tanya Nana dengan nada cemas saat Tesya mendekat dan duduk di kursi depan.
"Sakit," jawab Tesya singkat, sambil memeriksa kukunya yang baru saja dilapisi kutek.
Nana menjabat tangan Tesya dengan sopan. "Gue Najela."
Tesya menilai Nana dengan tatapan sinis dari ujung kaki hingga kepala. "Gue Tesya. Dan lo belum liat kutek gue, belum kering," ujarnya dengan nada dingin.
Nana mengangguk, menurunkan tangannya, dan berkata, "Okey, thanks ya."
Ketika Nana berbalik untuk meninggalkan kelas, Tesya menambahkan dengan nada yang sama, "Lo nggak secantik itu, tapi berani-beraninya centil sama Bisma."
Nana menahan senyumannya meskipun jelas terlihat bahwa perempuan di hadapannya, Tesya, tidak menyukainya. Tesya secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya dengan tingkah laku dan ucapan yang tajam.
"Iya, makasih banyak ya," ujar Nana, berusaha tetap sopan sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan kelas dengan langkah cepat.
Setelah Nana pergi, Tesya kembali duduk di kursinya. Febri, yang sejak tadi memperhatikan dari luar, menepak pundak Tesya. Tesya menoleh ke arah Febri dengan ekspresi penasaran.
"Itu kan Daisy Aurellia Najela dari anak IPS, kan? Lo ngapain dipanggil sama dia?" tanya Febri penuh rasa ingin tahu.
"Nyariin Bisma dia," jawab Tesya singkat.
"Bukannya Bisma udah punya cewek ya?" tanya Febri lagi, mencoba mencari klarifikasi.
"Bukan urusan gue, lagian," jawab Tesya sambil mengetik di ponselnya, memberi tahu Amel tentang kejadian tersebut.
˖°𓇼🌊⋆
Sesampai di kelas, Nana langsung melihat Dea yang dari pagi tampak tidak bersemangat. Dea hanya menelungkupkan kepalanya di meja, tampak sangat lesu. Nana memutuskan untuk duduk di samping Dea dan menelungkupkan kepalanya seperti yang dilakukan Dea.
Diki, yang duduk di dekat mereka, menghela napas gusar melihat dua temannya yang sedari pagi terlihat tidak mood. Dengan nada agak keras, Diki bertanya, "Kalian berdua kenapa sih?" Namun, tidak ada jawaban dari keduanya.
Nana tenggelam dalam pikirannya, mencoba memahami sikap Tesya yang dingin terhadapnya. Ia merenungkan kesalahan apa yang mungkin telah ia buat hingga Tesya bersikap seperti itu. Di tengah perenungannya, Nana mendengar suara isakan halus. Ia menoleh dan menyadari bahwa suara tersebut berasal dari arah Dea.
"Dea, kenapa?" tanya Nana dengan lembut sambil mengusap punggung Dea, mencoba memberikan sedikit kenyamanan. Namun, isakan Dea masih terdengar.
Diki dan Adul yang menyadari situasi segera menghampiri Dea. Diki berusaha membangunkan Dea dengan sedikit kekuatan ekstra yang dimilikinya.
"Lo nangis kenapa?" tanya Diki setelah berhasil membuat Dea terbangun dari telungkupnya.
Dea, dengan mata merah dan wajah masih basah karena air mata, mengusap pipinya dan menjawab dengan lantang, "Cowok kemarin punya pacar."
Teman-teman Dea terkejut mendengar ucapannya. Kabar ini ternyata membuat suasana semakin tegang di dalam kelas, dan Nana merasa cemas mendengar cerita Dea.
HA
COWOK MEMANG BRENGSEK
GAK CUKUP SATU CEWEK
SAMA AJA!!! GUA MAKIN ENGGAK SUKA SAMA COWOK.
PLATAK!!!!
Nana meringis kesakitan saat Adul memberikan jitakan keras di kepalanya. Adul tampak marah karena Nana mengatakan hal yang tidak tepat mengenai laki-laki, sementara Nana sendiri juga sedang terjebak dalam perasaan terhadap seseorang.
"Sungguh sangat berani sekali Nana mengatakan perihal laki-laki seperti itu! Padahal dirinya sendiri pun sedang tergila-gila kepada seseorang, sungguh tidak bercermin terlebih dahulu," kata Adul dengan nada penuh drama.
"Enak aja lo bilang gitu," balas Nana dengan rasa tidak terima.
"Emang iya kan," jelas Nana dengan nada tak sabar.
"ENGGAK SEMUANYA!" seru Diki dan Adul bersamaan, mencoba meluruskan pendapat Nana.
Nana terus menggerutu, mengulang-ulang apa yang dikatakan Diki dan Adul. Sementara itu, Dea masih meneteskan air matanya di pipi.
"Udah Dea, cowok masih banyak kok," ucap Nana berusaha menenangkan Dea.
"Cowok modelan pulu-pulu aja sok laga nyakitin, mending kayak modelan Ari Irham sih, it's okey," tambah Nana dengan nada kesal, tetapi malah mendapatkan pukulan lain dari Adul.
"PLATAK!!! Sakit tau," keluh Nana dengan tajam.
"Lo juga cowok banyak, Na, kenapa harus Bisma? Nanti Bisma sama aja, nangis juga," ledek Adul, yang membuat Nana semakin kesal.
"Gila ya lo kalau ngomong, enggak disaring dulu!!!" Nana berteriak kesal.
"Ya memang," timpal Adul dengan tegas, yang semakin membuat Nana marah sejadi-jadinya. Suasana di kelas menjadi semakin tegang, dengan ketegangan antara Nana dan teman-temannya yang kian memuncak.
Dengan tatapan sinis, Nana menatap Adul. Tanpa berkata sepatah kata pun, Nana berdiri dan keluar dari tempatnya, memukul-mukul badan Adul dengan keras.
"Emang ya, lu sialan banget," ujar Nana, suaranya penuh amarah.
Adul terkejut dan mencoba melarikan diri ke arah luar, namun Nana tetap mengejarnya dengan tekad bulat. Setiap kali Adul mencoba menyelinap ke samping atau membelok, Nana selalu ada di belakangnya, tidak memberi ampun.
Di sudut ruangan, Dea hanya bisa mengamati dengan ekspresi bingung dan frustrasi. Situasi yang awalnya diharapkan akan mereda malah semakin kacau dengan pertengkaran yang tak berujung. Dea mencoba mengatur napas, merasa semakin pusing dengan kekacauan ini.
"Kenapa mereka harus membuat semuanya jadi rumit?" pikir Dea. "Seharusnya aku bisa menikmati waktu istirahatku tanpa semua drama ini."
Nana akhirnya berhasil menjebak Adul di sudut ruangan, membuatnya tak bisa bergerak lagi. Dea, yang merasa tidak tahan melihat kekacauan ini, berusaha mendekati mereka.
"Nana, udah!" ujar Dea dengan nada tegas, berusaha meredakan ketegangan.
Nana berhenti sejenak, memandang Dea dengan tatapan yang masih penuh amarah. "Dia perlu tahu apa yang dia lakukan salah," jawab Nana, suara masih keras.
Dea mendekati Adul dan Nana, berusaha meredakan situasi. "Adul, apa pun masalahnya, kita bicarakan dengan tenang. Nana, kita bisa menyelesaikan ini tanpa harus menggunakan kekerasan."
Adul, yang terlihat terengah-engah dan ketakutan, mengangguk pelan, sementara Nana memandangnya dengan tatapan tajam. Meskipun masih marah, Nana akhirnya menyadari bahwa melanjutkan pertengkaran hanya akan memperburuk keadaan.
Dea kemudian menyuruh mereka berdua duduk dan mulai menjelaskan dengan sabar, berharap bahwa dialog yang lebih baik akan mengakhiri konflik ini. Meskipun suasana masih tegang, Dea merasa sedikit lega melihat Nana dan Adul akhirnya duduk dan mencoba untuk berbicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
OMBAK BERSORAK
RomanceSetelah kehilangan kali ini, selanjutnya kehilangan apa lagi? Seolah semesta tak pernah mengizinkanku untuk merasakan kasih sayang yang utuh-baik disayangi maupun menyayangi. Semua yang datang terasa singkat, seperti angin yang berlalu tanpa pernah...
