"Na..." Bisma berbisik lirih, suaranya serak namun hangat, sambil mengelus lembut kepala Nana.
Nana membuka matanya perlahan. Pandangannya menangkap sosok Bisma yang telah terjaga dari lelapnya. Tak jauh dari sana, Yuli, Noval, dan Gita melangkah mendekat, wajah mereka dipenuhi kekhawatiran.
"Bisma..." ujar Nana dengan suara bergetar, tangannya menggenggam erat jemari Bisma yang terasa hangat meski lemah.
Bisma melemparkan senyum kecil kepada mereka yang mengelilinginya, tetapi dahinya sedikit berkerut saat melihat Nana yang menangis deras, bahunya terguncang pelan.
"Kenapa Nana nangis?" tanyanya lembut, nada suaranya penuh keprihatinan.
"Enggak papa," jawab Nana, memaksakan senyumnya meski air matanya belum juga berhenti mengalir.
Bisma mencoba menggerakkan kakinya, tetapi rasa nyeri yang menyengat menghentikannya. Dengan penasaran, ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Pemandangan itu menyakitkan—kakinya dibalut perban tebal, dengan alat penyangga yang menjaga posisi tulangnya tetap lurus.
"Aku... aku masih bisa mendaki gunung, kan?" tanyanya. Bukan tentang sekadar berjalan lagi, melainkan tentang mimpi yang selalu ia genggam erat.
Noval, dengan suara tenang namun tegas, menjelaskan kondisi Bisma. "Luka di kakimu bisa sembuh, tapi prosesnya akan memakan waktu. Kamu harus sabar, Bisma."
Nana menghela napas panjang, rasa lega perlahan mengalir di dadanya mendengar penjelasan itu. "Syukurlah..." bisiknya, nyaris tak terdengar.
Bisma tersenyum, menatap Nana dengan tatapan penuh kasih. Tangannya terangkat, mengusap lembut kepala gadis itu. "Kamu bukannya istirahat? Kenapa malah duduk di sini, temenin aku?"
Nana menunduk, senyumnya kali ini lebih tulus. "Karena aku nggak akan pergi ke mana pun kalau kamu masih butuh aku."
"Aku khawatir banget, tahu. Takut Bisma nggak bangun..." ungkap Nana, suaranya bergetar, mencerminkan kekhawatiran yang masih menggantung di hatinya.
Deg! Bisma terdiam sejenak sebelum tertawa kecil, tawa ringan yang seolah ingin meredakan suasana. Orang-orang di sekitarnya ikut tersenyum mendengar candanya.
"Masa sih aku nggak bangun, Na?" ujar Bisma dengan nada bercanda, senyumnya masih terpancar.
Di sisi lain, ponsel Bisma yang dipegang Gita mulai bergetar berkali-kali. Nama Amel tertera di layar, membuat Gita melirik sekilas sebelum mendekati kakaknya untuk menyerahkan ponsel tersebut.
Bisma menghela napas panjang, pandangannya bergeser ke arah Nana yang masih menatapnya tanpa berkata apa-apa.
"Angkat aja," ucap Nana lembut, seolah mendorongnya untuk menjawab panggilan itu.
Bisma akhirnya menerima telepon tersebut. Dari seberang sana, suara perempuan terdengar, penuh rasa khawatir. "Kamu nggak apa-apa, Bisma?" tanyanya dengan nada yang hampir mendesak.
"Iya, nggak papa," jawab Bisma singkat, nadanya datar.
"Gimana sih kamu bisa tabrakan kayak gitu? Emangnya lagi apa di Bandung?" lanjut Amel, nada suaranya mulai berubah, mencampurkan rasa penasaran dengan kecemasan.
"Kenapa kamu nggak bilang ada di Bandung? Kita kan bisa ketemu. Kenapa harus diam-diam kayak gini, Bisma?" desaknya lagi, suaranya semakin lirih namun sarat emosi.
Bisma menutup matanya sejenak, lalu berkata, "Udah, aku mau istirahat."
Namun sebelum ia sempat menutup telepon, Amel kembali berbicara, "Iya deh, tapi aku bakal ke sana jenguk kamu bareng teman-teman. Tunggu ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
OMBAK BERSORAK
RomanceSetelah kehilangan kali ini, selanjutnya kehilangan apa lagi? Seolah semesta tak pernah mengizinkanku untuk merasakan kasih sayang yang utuh-baik disayangi maupun menyayangi. Semua yang datang terasa singkat, seperti angin yang berlalu tanpa pernah...
