Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Kesedihan Nana

21 15 0
                                        

Bukan kamu yang kucari di puncak itu,
Namun ternyata, aku yang membawamu ke sana.
~Bisma~

Hanya alunan lembut musik yang mengalun melalui earphone, menemani pagi Nana yang sunyi. Hujan turun dengan deras, menggema di luar sana, seolah meresapi setiap sudut ruang dengan suaranya yang menenangkan. Angin sesekali mengusik melalui celah-celah jendela, membawa kesejukan yang kontras dengan rasa hangat di dalam ruangan. Tangan Nana sibuk mengoleskan selai stroberi ke sepotong roti tawar, matanya sesekali terhenti pada foto bersama Bisma, yang diambil selama liburan mereka di Bandung. Bibirnya merengut sedih, hatinya seolah berat menanggung kesendirian yang datang begitu tiba-tiba. Tanpa terasa, ia kembali melirik layar ponsel, berharap ada balasan dari Bisma, namun yang ditunggu-tunggu itu tak kunjung datang.

Sial, pikirnya. Nana tidak punya nomor Gita, jadi ia tak bisa bertanya langsung kabar Bisma melalui orang terdekatnya. Sejak kepulangannya dari rumah sakit, Bisma seolah menghilang begitu saja. Pesan-pesan yang ia kirimkan tak pernah mendapatkan balasan, meski Nana tak pernah menyerah, terus mengirimkan pesan tanpa putus asa.

Suara bel pintu depan memecah keheningan. Deringnya berulang kali, memaksa Nana untuk menghampiri tamu yang datang. Dengan langkah berat, ia membuka pintu. Dan di sana, berdiri seorang pria dengan kulit pucat dan senyum yang berkilau, Segara. Sebuah kejutan yang tak terduga.

Mata Segara melirik ke sekeliling, menilai bahwa rumah ini tak banyak berubah, masih tetap sama seperti yang ia ingat, dengan setiap detail yang tetap membekas dalam ingatannya.

"Ada apa sih kesini?" tanya Nana dengan sedikit kebingungan, suaranya tegas, seolah mencoba menyembunyikan perasaan yang mulai menggelora. Sorot mata Segara langsung tertuju padanya, seolah menyadari keberadaannya dengan penuh perhatian.

"Mau main," jawab Segara dengan polos, seolah tak ada beban yang menghalangi kata-katanya.

Nana menatapnya dengan tatapan tajam. "Lo nggak lihat apa matahari, lo juga nggak lihat apa gue pake baju apa?!" suaranya sedikit meninggi, kesal dengan kedatangan Segara yang tak terduga.

Segara hanya tersenyum tipis, tampaknya tak terpengaruh oleh nada tinggi Nana. "Matahari? Sekarang lagi hujan," ujarnya dengan nada santai, yang langsung membuat Nana terhenti sejenak, bingung.

Nana menatap Segara dengan pandangan yang sedikit terkejut. "Hah? Eh, iya juga ya." Lalu, Segara kembali melanjutkan dengan suara lembut, namun penuh perhatian.

"Nana, mau diantar sekolah sama aku?" tawar Segara, memberikan senyum yang sedikit nakal. "Biar hujan nggak bikin kamu basah kuyup," lanjutnya, matanya berkilat dengan niat baik yang tak terbantahkan.

˖°𓇼🌊⋆

Wina yang tengah berdiri di ambang ruang tamu sontak merasa gelisah saat melihat Nana terpaku di depan pintu. Hujan mengguyur deras, dan gadis itu baru saja keluar dari rumah sakit. Kekhawatiran menyelinap di benak Wina—jika Nana terus membiarkan dirinya terguyur, bukan tak mungkin ia akan kembali sakit.

"Na," panggil Wina dengan suara selembut angin sore.

Namun, belum sempat Nana merespons, mata Wina menangkap sosok lain yang muncul di balik derasnya hujan. Segara datang dengan koper biru di tangan dan perlengkapan melukis tergantung di bahunya. Melihat rintik hujan yang kian lebat, Wina segera mempersilakan Segara masuk, sembari mengomeli Nana karena tak segera mempersilakan tamunya berteduh.

"Kalau Segara yang datang, langsung dimanja, ya!" gerutu Nana, kesal.

Dengan gerakan cepat, ia mengambil ranselnya dan menyampirkannya ke bahu, bersiap pergi ke sekolah. Namun, Segara lebih sigap—ia menarik tali tas Nana, membuat gadis itu menoleh tajam, alisnya melengkung naik.

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang