Matahari yang mulai terbit dari arah barat menyinari permukaan kolam renang tempat Nana sedang merenung. Air kolam yang dingin membungkus tubuhnya, mengalirkan rasa tenang yang aneh namun menyakitkan. Saat Nana memandang pohon-pohon tinggi di kejauhan dan pemandangan gunung yang diselimuti kabut tipis, pikirannya dipenuhi oleh perasaan campur aduk. Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan, membasahi kedua pipinya, meski air kolam di sekitarnya sudah cukup untuk menyembunyikan jejak kesedihannya.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki mendekat. Langkah kaki yang familiar, tapi anehnya membuat jantung Nana berdebar lebih kencang. Tanpa melihat pun, Nana sudah bisa menebak siapa yang datang. Bisma, pikirnya. Tapi ketika ia mengangkat wajahnya dan mengucek-ngucek matanya untuk memastikan, yang dilihatnya adalah sosok lain. Sosok yang membuat waktu seolah berhenti.
Segara.
Keduanya berdiri terpaku, mata mereka saling bertemu dalam kebisuan yang penuh makna. Nana mengucek-ucek matanya, meyakinkan diri bahwa ini bukanlah halusinasi. Namun, sosok di depannya tetap berdiri di sana, semakin jelas, semakin nyata. Segara, teman masa kecil yang sudah lama hilang. Ia ada di sini, nyata di hadapannya.
Segara menatap Nana dengan ekspresi bingung, namun ada juga rasa senang di matanya. Ia melangkah lebih dekat ke tepi kolam, memastikan bahwa yang dilihatnya memang Nana. "Gara..." bisik Nana dengan suara parau, seolah tak percaya.
"Jela..." sahut Segara, menyebut nama panggilan masa kecil Nana. Suara mereka bergetar, memecah keheningan pagi itu.
Tanpa menunggu lebih lama, Nana bergegas menuju tangga kolam, memanjat keluar, tubuhnya masih basah oleh air. Ia tak ingin berada di dekat Segara, tak ingin membiarkan kenangan lama kembali menghantui pikirannya. Namun, saat Nana mencoba berjalan menjauh, Segara dengan cepat meraih pergelangan tangannya, menghentikan langkahnya.
"Nana, tunggu," kata Segara, suaranya lembut tapi tegas. Mata Nana terpejam, air matanya mengalir lebih deras. Situasi ini terasa terlalu berat baginya. "Jela, temennya Bisma juga?" tanya Segara, berusaha memulai percakapan meskipun ia tahu situasi ini tidak mudah.
Nana menoleh perlahan, mengibaskan tangan Segara dari pergelangan tangannya. "Emang apa urusannya sama Gara?" tanyanya dengan nada tajam, meski hatinya merasa ragu.
Segara tersenyum, senyum yang dulu selalu membuat Nana merasa tenang, namun kini terasa seperti duri di hatinya. "Jangan jatuh hati sama Bisma ya, dia punya cewek," ucap Segara tiba-tiba, suaranya datar namun mengandung peringatan.
Nana merasa dadanya bergetar mendengar kata-kata itu. Ia menatap Segara dengan tatapan tajam, air mata yang sempat tertahan kini mengalir lagi. "Gajelas," sahut Nana singkat, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi, melangkah cepat menjauh dari Segara. Ia tak ingin mendengar lebih banyak lagi, tak ingin berhadapan dengan Segara yang seolah-olah bisa membaca pikirannya.
Bisma memperhatikan dari balik jendela villa, memandang Nana dan Segara yang berada di tepi kolam renang. Ia menyadari bahwa Nana dan Segara memiliki sejarah bersama, dan nama yang Nana sebutkan saat mereka dalam perjalanan naik motor tadi ternyata merujuk pada Segara. Tatapan Bisma penuh dengan pemahaman, namun juga sedikit keraguan. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pertemanan biasa antara Nana dan Segara, sesuatu yang mungkin Nana belum siap untuk membicarakannya.
Sementara itu, Nana menghela napas berat, berusaha menenangkan pikirannya yang masih kacau. Namun, langkah kakinya segera terhenti saat ia menyadari Segara mengikuti di belakangnya. Dengan cepat, Nana membalikkan badan dan tanpa sengaja menabrak Segara yang berjalan terlalu dekat. Tubuh mereka saling bertemu, membuat keduanya terkejut.
"Sebentar," ucap Nana, mencoba mengambil napas dan menenangkan diri.
"Segara," panggil Nana, suaranya bergetar sedikit. Ia menatap Segara dengan mata yang penuh pertanyaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
OMBAK BERSORAK
RomansaSetelah kehilangan kali ini, selanjutnya kehilangan apa lagi? Seolah semesta tak pernah mengizinkanku untuk merasakan kasih sayang yang utuh-baik disayangi maupun menyayangi. Semua yang datang terasa singkat, seperti angin yang berlalu tanpa pernah...
