Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

OON NANA

20 17 0
                                        

Deru alarm membangunkan Nana dari lelapnya. Meski libur semester satu telah tiba, pagi hari tetap tak memberinya kelonggaran. Ia tahu betul, jika tak segera bangun untuk sarapan, suara nyinyir Wina akan menggelegar memenuhi rumah.

Dengan enggan, ia menyeret tubuhnya keluar dari hangat selimut. Demi dirinya sendiri—demi sedikit ketenangan. Ia melangkah ke kamar mandi, membasuh rasa malas dengan guyuran air dingin. Usai mandi, ia menyematkan jepit rambut berwarna merah muda di sisi rambut panjangnya yang telah ia tata rapi.

Langkahnya membawa ke meja makan. Seperti biasa, ia mengoleskan selai stroberi ke atas roti tawarnya. Gerakan yang sudah menjadi kebiasaan, hampir otomatis.

Sembari menikmati sarapannya, Nana membuka layar ponsel. Jemarinya langsung menuju aplikasi WhatsApp, menelusuri bagian "blokir", dan tanpa ragu membuka kembali kontak atas nama Bisma.

Tanpa banyak pikir, ia mulai mengetik permintaan maaf. Tak ada rasa malu, hanya keinginan kuat untuk memperbaiki sesuatu yang sempat renggang.

Fiuh, syukurlah, pesan itu segera dibalas. Senyum merekah di wajah Nana begitu matanya menangkap balasan yang menenangkan hati—Bisma telah memaafkan tingkah lakunya yang, menurutnya sendiri, memang aneh akhir-akhir ini.

Nana:
Bisma, lagi apa?

Bisma:
Main game Mobile Legends.

Nana yang masih menggigit rotinya nyaris tersedak saat membaca balasan itu.

Gila... Sepagi ini? pikirnya, matanya membulat heran.

Nana:
Bisma, sore mau ketemu Nana?
Beli telur lilit di alun-alun.
{Read}

Tak ada balasan.
Hanya centang biru. Terbaca. Tapi tetap hening.

Raut wajah Nana berubah muram. Ia menaruh ponsel perlahan di atas meja, mencoba menahan rasa kesal yang mulai menguar. Dengan napas berat, ia memilih fokus menghabiskan rotinya—meski rasanya kini tak lagi manis seperti selai stroberi yang menempel di permukaannya.

˖°𓇼🌊⋆

Langit sore tampak sedikit mendung, menambah kesan kelam pada suasana hati Bisma. Ia memegang sekantong plastik berisi telur lilit, permintaan Nana yang selalu membuatnya merasa tersentuh. Meskipun sudah diblokir oleh adiknya, Bisma tak bisa begitu saja marah atau menjauh dari Nana. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya tetap ingin hadir, meskipun itu terasa sulit.

Bisma tersenyum tipis saat Wina membuka pintu untuknya. Wina tak mengajak Bisma duduk, malah berdiri di ambang pintu seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan, tapi juga enggan mengungkapkan. Bisma tertegun sejenak, bingung dengan sikap Wina.

"Nananya ada, Tante?" tanya Bisma, mencoba memecah kesunyian yang canggung.

"Kamu anaknya Yuli?" Wina menatapnya dengan tajam. Bisma hanya mengangguk pelan.

Wina tampaknya tak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya. "Jauhkan dirimu dari Nana," katanya dengan nada yang tegas. "Aku nggak suka kalau dia dekat dengan anak yang hasil dari perselingkuhan suaminya itu."

Bisma terdiam, hati kecilnya tercekat. Wina menghela napas pelan. "Kamu kakaknya Nana dari hasil perselingkuhan ayah?"

Kata-kata Wina seperti petir yang menyambar tubuhnya. Bisma hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Yuli, ibunya, tak pernah sekalipun menceritakan hal itu. Bisma merasa seolah dunia yang selama ini ia kenal runtuh begitu saja.

"Mama bukan orang seperti itu, Tante," bantah Bisma, mencoba membela ibunya yang selama ini ia hormati.

Wina mengusap dahinya dengan frustasi. "Pokoknya, setelah ini, jauhkan diri dari Nana. Aku nggak suka lihat kamu."

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang