Yuli memerhatikan putranya sejak kemarin hanya bermain game tanpa henti. Dengan rasa kesal, ia memutuskan untuk memasuki kamar Bisma dan mematikan komputernya secara sengaja.
"Ma!" ringis Bisma, terkejut dengan tindakan ibunya.
Yuli berdiri tegak di samping meja komputer. Seharusnya, Bisma sudah pergi ke sekolah, namun dia lebih memilih menghabiskan waktu dengan hal yang disukainya.
"Kamu mau jadi apa? Sekolah belum waktunya libur!" kata Yuli, nada suaranya tegas dan penuh kemarahan.
Bisma hanya diam, tidak merespons teguran ibunya. Yuli terus melanjutkan, "Ada masalah apa? Sampai kamu tidak mau masuk sekolah? Coba ceritakan ke Mama."
Namun, Bisma tetap membisu. Ia melangkahkan kakinya menuju kasur, lalu membaringkan badannya dan menutup diri dengan selimut hijau kesayangannya. Yuli merasa hatinya semakin tertekan melihat sikap putranya.
Yuli duduk di samping kasur Bisma, berusaha menurunkan nada suaranya dan menunjukkan kelembutan. Ia mengelus-elus kepala Bisma dengan penuh kasih sayang. "Lagi ada masalah apa? Sampai kamu tidak mau masuk sekolah?"
Dari balik selimut, Bisma menjawab dengan suara serak, "Bisma ketemu adek Bisma dari Bunda Wina."
Yuli terdiam sejenak, mencoba mencerna jawaban putranya. "Adek Bisma dari Bunda Wina?" tanyanya lembut, penasaran. "Kamu merasa cemas tentang itu? Atau ada masalah lain yang membuatmu sulit untuk pergi ke sekolah?"
Bisma tidak langsung menjawab, hanya menggerakkan tubuhnya sedikit di bawah selimut. Yuli semakin khawatir, mencoba mencari cara agar Bisma mau terbuka. "Mama di sini untuk membantu, Bisma. Kalau ada masalah, kita bisa cari solusinya bersama."
Bisma akhirnya mengeluarkan kepala dari balik selimut dan menatap ibunya dengan tatapan yang penuh kekhawatiran. "Aku cuma bingung, Ma."
Yuli menghela napas lega karena Bisma akhirnya mulai berbicara. Ia merangkul putranya dan berkata, "Kalau kamu merasa cemas, kita bisa berbicara lebih lanjut tentang itu. Mama ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian dan kita bisa menghadapi ini bersama."
Yuli menyuruh Bisma untuk terbangun terlebih dahulu agar bisa melihatnya dengan jelas. Dengan sedikit paksaan, Bisma akhirnya membuka matanya dan melihat ibunya terduduk di hadapannya. Rasa malu menyelimuti wajahnya saat ia menghadapi wanita paruh baya ini.
"Dia satu sekolah sama Bisma," Bisma memulai dengan nada ragu. "Dia sepertinya suka juga sama Bisma dan sering cerita tentang kebahagiaannya bareng Ayah. Sepertinya bunda Wina juga masih merahasiakannya."
Yuli mendengarkan dengan cermat, berusaha memahami situasi yang dihadapi putranya. "Bisma bingung harus berbuat apa, Ma. Bisma hanya ingin menghindari dia tanpa mengecewakan siapapun, entah itu Ayah, bunda Wina, atau pun Bisma sendiri," jelas Bisma, nada suaranya menunjukkan kepedihan.
Yuli menatap Bisma dengan penuh perhatian. "Siapa namanya?"
"Yang kemarin ke sini, Nana," jawab Bisma, wajahnya menunduk.
Mendengar nama itu, Yuli merasa terkejut. Gadis yang kemarin datang bermain ke rumah ternyata adalah adiknya. Yuli sempat berpikir yang tidak-tidak, karena sebelumnya Bisma sering membawa Amel, pacarnya, dan kemarin membawa perempuan yang berbeda. Yuli khawatir Bisma tidak ingin sekolah karena urusan tersebut, namun kenyataan ini jauh lebih mengejutkan daripada yang ia duga.
Yuli duduk di samping Bisma, mencoba menenangkan dirinya dan putranya. "Jadi, Nana adalah adik kamu dari bunda Wina. Ini memang situasi yang rumit, tapi kita harus mencari cara untuk menyelesaikannya tanpa menyakiti siapapun."
Bisma mengangguk perlahan, merasa sedikit lega karena ibunya akhirnya memahami situasinya. "Aku hanya ingin semuanya beres, Ma. Tanpa harus ada yang merasa terluka."
KAMU SEDANG MEMBACA
OMBAK BERSORAK
RomansaSetelah kehilangan kali ini, selanjutnya kehilangan apa lagi? Seolah semesta tak pernah mengizinkanku untuk merasakan kasih sayang yang utuh-baik disayangi maupun menyayangi. Semua yang datang terasa singkat, seperti angin yang berlalu tanpa pernah...
