Sebuah kafe bergaya industrial di sudut kota Bandung, senja baru saja turun, mengguratkan cahaya jingga yang menelusup melalui jendela besar. Segara dan Nana duduk berdampingan di meja pojok, atmosfer di antara mereka begitu tegang namun sunyi.
Dentang lonceng di atas pintu berbunyi—dan masuklah Cika, rambut pink mencoloknya kontras dengan langit mendung di luar. Langkahnya pelan, namun penuh percaya diri. Ia menarik kursi dan duduk di antara Segara dan Nana tanpa sepatah kata.
"Wah," gumamnya pelan, mata terpaku pada wajah Nana. "Lo ternyata kayak gini, ya."
Segara merengut. "Lo apa-apaan, sih, Cik?" nada suaranya mulai meninggi, menyiratkan kekesalan yang telah lama dipendam.
Cika tidak menjawab. Tatapannya kosong, melesat jauh menembus jendela seakan ingin lari dari percakapan yang tak terelakkan. Segara memijit pelipis, menahan amarah.
"Klarifikasi, Cika. Sekarang." desaknya, penuh tekanan.
Cika menoleh pelan. "Buat apa? Lo udah pilih dia."
Tiba-tiba, ponsel Cika bergetar hebat. Nama 'Om Yoga' berulang kali muncul di layar. Dengan enggan, ia mengangkat.
"Iya, Om... Aku lagi sama Segara." Suaranya merendah, namun terdengar getir. Setelah beberapa detik mendengarkan, ia menutup telepon. "Om nyuruh kita pulang. Sekarang."
˖°𓇼🌊⋆
Di ruang tamu rumah keluarga Segara, ketiganya duduk berhadapan dengan Om Yoga. Aura ruangan terasa berat.
"Ada apa sih, Pa?" tanya Segara, mencoba membuka pembicaraan.
Om Yoga tak langsung menjawab. Ia menatap tajam ke arah Cika. "Cika, Om mau tanya. Apa ini maksudnya?" Nada bicaranya berat, penuh penekanan. "Amel cerita soal kamu. Om kecewa."
Wajah Cika menegang. Ekspresi percaya dirinya lenyap.
"Walau kamu punya masalah sama Nana, bukan berarti kamu boleh bawa-bawa nama baik orang. Apalagi kamu selebgram, Cik. Dampaknya besar."
"Tapi Om... dia rebut Segara dari aku!" Cika menunjuk Nana, suaranya bergetar.
Nana menatap Cika dengan tenang. "Enak aja. Justru kamu yang rebut."
Segara bangkit dari duduknya, langkahnya mantap, berdiri di depan keduanya.
"Gue nggak suka lo, Cika." tegasnya. "Apalagi lo masih main ke diskotik, mabuk-mabukan. Gue enggak bisa."
Om Yoga menatap putranya. "Bener itu, Cika?"
Cika buru-buru menggeleng. "Nggak, Om! Dia ngada-ngada!"
Segara mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan video—Cika yang sedang mabuk, tertawa-tawa tanpa kendali. Cika pucat.
"Gue bilang dari awal. Gue suka Nana." lanjut Segara, tangannya merangkul punggung gadis itu.
Om Yoga terkekeh pelan. Ada bayangan nostalgia di matanya. "Mirip banget sama cinta pertama Om dulu..."
Segara menatap ayahnya serius. "Tapi bukan itu aja, Pa. Perusahaan Cika udah bangkrut."
Cika membelalak. "Segara!"
"Gue lihat sendiri, waktu dia chattingan sama ibunya. Nggak bisa bohong lagi, Cik."
Om Yoga menarik napas panjang, lalu bangkit berdiri. Sorot matanya teduh, namun tegas. "Om batalkan perjodohannya. Sekarang."
Cika tak sanggup berkata apa-apa. Air mata jatuh berderai, membasahi pipinya yang dulu selalu tersenyum di depan kamera. Tanpa sepatah kata, ia berbalik dan keluar dari rumah itu.
Sunyi menyelimuti ruang tamu.
"Aku sama Nana berarti, ya?" tanya Segara, suara pelan namun pasti.
Om Yoga terkekeh, kali ini tulus. "Iya. Dari dulu juga Om tahu... kalian enggak bisa dipisahin."
Segara dan Nana saling pandang, senyum merekah di wajah keduanya. Untuk pertama kalinya, hari itu terasa hangat.
Bersambung... 🦋💖
Hai teman-teman, ceritanya belum selesai, ya! Nantikan kelanjutannya saat mereka memasuki dunia kuliah—akan ada lebih banyak kejutan dan adegan tak terduga dari Segera. Jangan sampai ketinggalan!
Ditunggu yaahhhh💖🌸
KAMU SEDANG MEMBACA
OMBAK BERSORAK
RomanceSetelah kehilangan kali ini, selanjutnya kehilangan apa lagi? Seolah semesta tak pernah mengizinkanku untuk merasakan kasih sayang yang utuh-baik disayangi maupun menyayangi. Semua yang datang terasa singkat, seperti angin yang berlalu tanpa pernah...
