Ia seperti laut yang tak pernah sepenuhnya tenang—kadang hangat, kadang menggigilkan.
Namun, bersamanya selalu datang ombak—gelombang tak kasat mata yang membuatku ragu, berpikir ribuan kali sebelum berenang lebih jauh.
Sebab ombak yang tak pernah reda itu, pelan-pelan mengikis keyakinanku.
~Daisy Aurellia Najela~
Pantai Anyer, terletak di pesisir Banten, menjadi saksi bisu sebuah pertemuan sederhana. Namun kali ini, Segara memilih membawa Nana ke sebuah pantai yang lebih sepi, tak jauh dari Karawang—tempat angin berhembus lembut dan ombak berbisik lirih di antara riak air.
Senja mengintip perlahan di ujung cakrawala, sementara suara gemuruh ombak seolah meredakan gelisah yang lama bersarang di dada mereka. Wajah Nana merekah dalam senyuman, teringat pada potongan-potongan kenangan yang pernah ia simpan rapi di sudut hatinya. Segara pun tersenyum, bukan karena masa lalu, tapi karena momen ini—karena ia bisa kembali menghabiskan waktu hanya berdua bersama Nana.
Segara menatap lekat wajah Nana. Tatapan itu dibalas oleh sepasang mata yang tak asing.
"Segara, aku mau nanya," suara Nana memecah keheningan.
"Aku suka banget sama Bisma... Kemarin aku blokir nomornya. Bukan karena benci, tapi karena aku takut—takut kalau semua yang kamu dan teman-teman bilang itu benar. Tapi di sisi lain, ada juga yang menurutku nggak bener. Kalian bilang dia udah punya pacar, tapi... kalau iya, harusnya dia udah posting foto bareng, nunjukin ke dunia, kan?"
Segara diam sejenak. Nama itu menghantam dadanya seperti badai datang tanpa aba-aba. Tapi ia berusaha tetap tenang. "Kamu harus tahu seperti apa laki-laki yang benar-benar mencintaimu," ujarnya pelan, menutupi luka yang menganga.
"Kalau cowok itu serius, dia nggak akan bikin kamu menunggu, apalagi merasa bingung. Wajar suka duluan, dan kebanyakan cowok emang pengen disapa duluan. Tapi cowok yang tulus... dia nggak akan biarkan kamu meraba-raba."
Mereka kemudian berjalan menyusuri tepian pantai, mencari kayu bakar. Nana memungut beberapa ranting, dan tiba-tiba Segara menepuk pelan pundaknya. Nana menoleh.
Segara menunjuk ke arah seberang laut. "Ingat nggak, dulu aku pernah bilang, laut ini indah, seperti kamu."
Nana tersenyum.
"Kamu juga pernah bilang, langit di atas laut itu memikat... karena birunya menyatu dengan air laut, menciptakan harmoni. Terus waktu aku tanya, kalau laut ini warnanya cokelat gimana? Kamu jawab, 'Itu kayak aku kalau lagi marah. Tetap indah, walau warnanya berubah.'"
Nana tersenyum lebih dalam, matanya menatap wajah Segara yang masih mengingat percakapan lama itu dengan begitu detail.
"Indah, kan, laut di sore hari?" tanya Segara.
"Yang membuatnya indah adalah kehadiran senja," jawab Nana lirih. "Dan kalau malam, ada bintang dan bulan. Laut selalu punya teman yang menemaninya setiap waktu. Kalau mereka tak ada, apa laut ini tetap indah, Gara?"
Segara tertawa pelan. "Ia akan datar. Seperti kamu... kalau lagi sendirian."
Segara mengambil alih kayu di tangan Nana, lalu menggandeng jemarinya, membawanya mendekat ke deburan ombak. Tawa mereka pecah dalam kehangatan yang tak dibuat-buat. "Ini seru banget, Gara. Kayak dulu!" seru Nana dengan mata berbinar.
Segara hanya mengangguk sambil tersenyum. Tiba-tiba ia mencipratkan air ke wajah Nana. Gadis itu membalas, menyendok air dengan kedua tangan dan menyiramkannya ke arah Segara—namun air itu tumpah sebelum sampai.
"Kok nggak ada airnya?" gerutu Nana kesal.
Segara tertawa geli. "Harusnya kamu bawa ember, biar nggak bocor."
KAMU SEDANG MEMBACA
OMBAK BERSORAK
RomanceSetelah kehilangan kali ini, selanjutnya kehilangan apa lagi? Seolah semesta tak pernah mengizinkanku untuk merasakan kasih sayang yang utuh-baik disayangi maupun menyayangi. Semua yang datang terasa singkat, seperti angin yang berlalu tanpa pernah...
