Nana perlahan membuka matanya, dan pandangannya mengarah ke atap rumah sakit yang terpasang rapi. Cahaya redup dari lampu-lampu di sekitar ruangan menyinari wajahnya yang masih tampak lelah. Dengan perlahan, ia melirik ke kanan dan melihat keluarga Bisma duduk diam di sofa panjang, wajah mereka terpelihara kecemasan yang mendalam. Tiba-tiba, Gita, Yuli, dan Noval bergegas menghampirinya, tampak lega karena Nana akhirnya sadar.
"Ka Nana..." suara Gita terdengar lembut, penuh kelegaan.
"Alhamdulillah," Yuli berkata dengan suara bergetar, langsung memeluk Nana erat-erat sambil menangis tersedu-sedu. Nana membalas pelukan itu dengan penuh kasih, merasa hangat di dalam pelukan ibunya.
"Aku baik-baik aja, kok, Tante," kata Nana dengan lembut, mencoba menenangkan ibunya yang masih terisak.
Namun, ada satu pertanyaan yang tak bisa ditahan. "Bisma mana?" tanya Nana dengan suara khawatir, sorot matanya langsung mencari sosok yang ia cintai.
Yuli perlahan melepaskan pelukannya, dan pandangan Nana langsung tertuju pada Bisma yang terbaring di ranjang sebelahnya. Bisma tampak terkulai lemah, matanya tertutup, dan tubuhnya terbungkus selimut tebal. Nana menatap dengan penuh kekhawatiran, kemudian melirik ke arah Yuli, bertanya dengan tatapan yang mengandung sejuta perasaan.
"Bisma nggak apa-apa, kan?" tanyanya, suara gemetar penuh kecemasan.
"Enggak apa-apa," jawab Noval dengan tenang, berusaha memberikan ketenangan kepada Nana. "Bisma hanya butuh istirahat, dia akan baik-baik saja."
Air mata Gita mulai mengalir perlahan di pipinya, dan ia mengusapnya dengan punggung tangan. Nana, yang melihat itu, merasakan kepedihan yang mendalam. Dengan lembut, ia meraih tangan Gita dan menggenggamnya pelan, memberi dukungan tanpa kata-kata.
"Gita, Bisma baik-baik aja, kan?" Nana bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih khawatir, mencoba mencari kepastian.
Gita hanya menggelengkan kepalanya perlahan, tak mampu berkata-kata. Wajahnya menunjukkan betapa sulitnya melihat orang yang mereka sayangi dalam keadaan seperti itu. Nana merasakan kedalaman kesedihan Gita, namun rasa penasaran yang begitu besar menggerakkan tubuhnya.
Dengan hati-hati, Nana menarik selimutnya dan perlahan menurunkan kakinya dari tempat tidur. Tanpa menunggu lama, ia berjalan menuju Bisma, berusaha menghampiri kekasihnya meski tubuhnya masih terasa lemas. Langkahnya sedikit terhuyung, tetapi tekadnya begitu kuat. Setiap detik yang berlalu terasa seperti sebuah beban, tetapi Nana hanya ingin memastikan keadaan Bisma, untuk tahu apakah ia bisa pulih dan kembali melangkah bersama.
"Nana, sayang... kamu istirahat dulu, ya. Bisma baik-baik aja kok," ujar Yuli lembut, berusaha menenangkan hati anaknya. Noval pun turut mengangguk, mencoba meyakinkan Nana. Namun, Nana yang dikenal dengan sifat keras kepalanya, tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Ia hanya terkekeh pelan, seolah tak ada yang bisa menghentikan niatnya.
Dengan perlahan, Nana duduk di kursi samping tempat Bisma terbaring, matanya tak lepas dari wajah lelaki yang sangat ia cintai. Bisma masih terlelap dalam tidur yang dalam, wajahnya tampak tenang meski tubuhnya terluka. Nana memegang tangan Bisma dengan penuh kelembutan, menempelkan pipinya pada tangan yang terasa dingin itu, dan air mata yang sejak tadi tertahan kini mengalir tanpa bisa dibendung lagi. Setetes demi setetes air mata membasahi telapak tangan Bisma, namun ia tetap tak bergerak.
"Bisma, bangun dong..." pinta Nana dengan suara yang hampir tak terdengar, berharap suaranya bisa membangunkan Bisma dari tidurnya yang panjang.
"Bisma, bangun..." ulangnya lebih pelan, seolah berharap bahwa panggilannya akan sampai di hati Bisma.
Yuli yang melihat anaknya semakin terisak, segera menghampiri dan mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Nana. Ia memeluk Nana dengan erat, mencoba memberi ketenangan. "Nana, sayang, tenang... Semua akan baik-baik saja. Kecelakaan seperti ini memang bisa terjadi. Bisma akan segera bangun, kamu harus percaya."
KAMU SEDANG MEMBACA
OMBAK BERSORAK
RomanceSetelah kehilangan kali ini, selanjutnya kehilangan apa lagi? Seolah semesta tak pernah mengizinkanku untuk merasakan kasih sayang yang utuh-baik disayangi maupun menyayangi. Semua yang datang terasa singkat, seperti angin yang berlalu tanpa pernah...
