Dokter dan seorang suster memasuki kamar Nana, membawa beberapa alat untuk memeriksa kondisinya. Suasana menjadi sedikit hening, hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di ruangan.
"Terima kasih, Dok," ucap Segara sopan ketika pemeriksaan selesai.
Nana hanya tersenyum kecil. Entah bagaimana, kejadian-kejadian belakangan ini tampaknya membuat kecanggungan di antara mereka perlahan menghilang. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan, meski masih terselip jarak yang belum sepenuhnya rapat.
Setelah dokter dan suster meninggalkan ruangan, Segara mengambil sepiring mangga yang telah dikupas rapi di meja. Ia mengangkat sendok, mengisyaratkan bahwa ia ingin menyuapi Nana.
Namun, Nana dengan sigap meraih piring itu dari tangannya. "Bisa makan sendiri," ujarnya tegas.
Segara tersenyum kecil, mengangguk tanda mengalah. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, membiarkan Nana menikmati makanannya dengan tenang. Sementara itu, pandangan Nana beralih ke jendela. Matanya mengikuti cahaya matahari yang mulai merambat masuk, menciptakan bayangan hangat di lantai kamar.
Namun, Segara tak bisa menahan diri untuk tidak menatap gadis di hadapannya. Ia memperhatikan setiap gerak Nana, setiap ekspresi yang muncul tanpa sadar. Hingga akhirnya ia membuka suara, nadanya pelan namun jelas.
"Kamu kenal Bisma dari mana?" tanyanya tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat jantung Nana berdetak lebih kencang. Ia segera mengalihkan pandangannya dari jendela, lalu menatap Segara dengan tatapan serius, mencoba membaca maksud di balik pertanyaan tersebut.
"Oh... Bisma itu temen kamu, ya?" Nana tersenyum tipis, berusaha terlihat santai. "Kalau aku sih kenal Bisma karena kita satu sekolah dulu."
Segara mengangguk pelan, namun tatapannya tetap tak teralihkan dari Nana. "Jauhi dia ya," ucapnya tiba-tiba, nadanya berubah lebih serius. "Dia punya pacar."
Deg!
Pernyataan itu seperti petir yang menyambar di siang bolong. Nana terdiam, tubuhnya kaku. "Bohong!" pikirnya keras-keras dalam hati.
Pasti bohong, Segara!
"Aku nggak bohong," sahut Segara, seolah bisa membaca pikiran Nana. "Pacarnya namanya Amel. Dia juga seorang pendaki, sama seperti Bisma. Dan... Amel satu sekolah sama aku dulu."
Kata-kata itu menghantam hati Nana seperti pukulan bertubi-tubi.
"Bohong..." gumamnya dalam hati, menolak percaya. Pikirannya berkecamuk, mencoba mencari alasan untuk menyangkal.
Namun Segara tetap tenang. Ekspresinya meyakinkan, namun di mata Nana, ada sesuatu yang terasa janggal. Apakah ini benar, atau hanya upaya Segara untuk menjauhkan dirinya dari Bisma?
˖°𓇼🌊⋆
"NANA!" teriak tiga serangkai serempak.
Dea, Adul, dan Diki berdiri terpaku di ambang pintu ruang rawat Nana, terkejut melihat pemandangan di hadapan mereka. Segara sedang memegang kedua pipi Nana dengan ekspresi cemas, seolah dunia di sekitarnya tak lagi ada.
Adul dan Diki saling bertukar pandang, kebingungan. Wajah laki-laki di hadapan mereka sama sekali asing. Namun, Dea tak tinggal diam. Dengan langkah cepat, ia menghampiri mereka dan menepis tangan Segara dari pipi Nana.
"Lo... cowok waktu itu, kan?" seru Dea mengingat Segara yang ia temui di pantai waktu itu, menunjuk ke arah Segara dengan penuh tuduhan.
Segara memandang Dea, mencoba mengingat siapa perempuan yang kini berdiri di depannya. Namun, ingatan itu tak kunjung datang. Justru rasa pusing mulai menyerang kepalanya, membuat pandangannya sedikit kabur.
KAMU SEDANG MEMBACA
OMBAK BERSORAK
Storie d'AmoreSetelah kehilangan kali ini, selanjutnya kehilangan apa lagi? Seolah semesta tak pernah mengizinkanku untuk merasakan kasih sayang yang utuh-baik disayangi maupun menyayangi. Semua yang datang terasa singkat, seperti angin yang berlalu tanpa pernah...
