Patutkah untuk Membenci?

21 14 0
                                        

Menyukai dan membenci, bukankah itu hal yang lumrah bagi manusia?

Aku mencintai lautan, bukan semata karena keindahannya, melainkan karena seseorang yang kucintai juga mencintainya. Ombak yang datang dan pergi seolah menjadi bahasa yang menghubungkan aku dan dia, membuatku betah memandangnya tanpa jeda.

Namun kini, kamu lebih mencintai gunung—puncak-puncak tinggi yang menjulang menantang langit. Aku, yang tak pernah menyukai dinginnya pendakian, merasa asing dengan pilihanmu. Tapi, demi kamu, aku rela melangkah menapaki jalur terjal yang tak pernah kusinggahi sebelumnya.

.

.

.

.

Segara melangkah mantap menuju ruang rawat Bisma, hatinya dipenuhi berbagai perasaan yang tak mudah untuk diungkapkan. Sesampainya di sana, ia melihat teman-teman Bisma yang masih ramai berkumpul, menyempatkan diri untuk menjenguk keadaan temannya yang tengah terbaring lemah. Namun, pandangan Segara langsung tertuju pada Bisma, matanya terfokus pada sosok yang begitu ia kenal. Dalam benaknya, berbagai kalimat ingin segera terlontar, namun ia merasa harus berhati-hati.

Dengan langkah tegas, Segara mendekati tempat Bisma terbaring, tatapannya sempat bersinggungan dengan Amel yang duduk di sisi Bisma. Ia mengangguk perlahan, memberikan isyarat agar Amel meninggalkan mereka berdua. Segara ingin berbicara lebih pribadi, sebuah pembicaraan yang tidak ingin ada orang lain yang mendengarnya.

"Mau apa?" tanya Bisma dengan nada santai, meski ada sedikit rasa penasaran yang tergambar di wajahnya.

Arul yang sedari tadi asyik mengoceh, tak menyadari ekspresi kesal yang tergurat jelas di wajah Segara. Sambil mencoba menghibur, Arul malah semakin membuat suasana semakin panas, hingga tak terasa Segara melontarkan kata-kata kasar dengan nada kesal.

"Aihhh, berisik lu anjir!" seru Segara dengan sedikit emosi, membuat Arul terdiam sejenak.

Bisma yang mendengar itu, hanya bisa mengernyitkan dahi. "Kenapa sih?" tanyanya, penasaran dengan apa yang sedang terjadi.

Segara menatap Bisma dengan serius, ada kegelisahan yang terpancar di matanya. "Lu tau?" tanyanya, suara berat, seperti memendam banyak hal.

Bisma hanya menggelengkan kepala, bingung dengan pertanyaan mendalam Segara. Tentu saja ia tidak tahu apa yang akan dibicarakan, dan itu semakin membuatnya penasaran.

"Nana itu orang yang gue sayang sejak lama, jangan sakitin dia. Awas aja! Kalau lu nggak suka, lepasin aja," kata Segara dengan tegas, nadanya penuh peringatan, seolah memperingatkan bahwa ia tak akan tinggal diam.

Bisma hanya tersenyum kecut, geli sekaligus sedikit tersinggung mendengar kata-kata Segara. "Harusnya gue yang bilang kayak gitu ke elu, Gara," ujarnya dengan nada santai, meski ada ketegangan yang tersirat.

"Asal lu tahu! Gue kakaknya Nana," tegas Bisma, membuat Segara terkejut mendengarnya. Rasa terkejut itu tergambar jelas di wajahnya, seolah baru menyadari kedalaman hubungan mereka.

"Ha?" Segara terdiam, mencoba mencerna kata-kata itu.

Arul, yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, akhirnya menghampiri mereka setelah melihat perubahan ekspresi di wajah keduanya, yang jelas menunjukkan ketegangan yang tak nyaman. "Apa-apaan sih, Gara? Bisma lagi sakit," ucap Arul, berusaha meredakan suasana.

"Tau gue juga, kali," jawab Segara dengan nada yang sedikit kesal, namun tetap berusaha menjaga ketenangannya.

"Sialan," gumam Bisma dalam hati, masih merasa kesal dengan percakapan yang tak diinginkannya itu.

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang