Cuaca terasa begitu terik, suhu mencapai 38 derajat. Memang begitulah kota ini, kota yang terkenal dengan panasnya. Nana bahkan memesan ojek online untuk mengunjungi rumah Bisma di tengah cuaca seperti ini. Shit!Pikir Nana kesal, melihat make-up dan pakaiannya yang sudah rapi kini sedikit berantakan akibat perjalanan yang melelahkan.
Di depan rumah Bisma, Gita sedang menyapu halaman. Sorotan matanya tertuju pada seorang wanita yang kira-kira sebaya dengan kakaknya, yang berhenti di depan rumah. Wanita itu turun dari motor, membuka helm, dan melangkah mendekati Gita sambil merapikan pakaiannya.
"De, boleh tanya, ini rumah Bisma, bukan?" tanya Nana, mencoba tersenyum meskipun keringat mulai membasahi dahinya.
Gita menghentikan aktivitas menyapunya, lalu berjalan mendekati Nana yang berdiri di balik gerbang. Ia membuka gerbang dan mengizinkan Nana masuk.
"Iya, ini rumahnya," jawab Gita penuh semangat.
Gita terkesima melihat penampilan Nana yang sangat manis dan cantik. Rambut Nana yang tergerai rapi, wajahnya yang berseri, membuat Gita merasa kagum. Sementara itu, Nana juga tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada gadis di depannya. Kulit Gita yang bersih, rambutnya yang panjang dan tampak lembut, serta senyum manis di wajahnya, membuat Gita tampak sempurna di mata Nana.
"Ayo ka, masuk," ajak Gita ramah, mempersilakan Nana masuk ke dalam rumah.
Nana mengikuti langkah Gita memasuki rumah. Matanya menjelajahi isi rumah yang terlihat rapi dan nyaman. Ia terkejut ketika melihat seorang wanita paruh baya datang menghampiri. Dengan cepat, Nana tersenyum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Temannya Bisma ya?" tanya wanita itu ramah, yang ternyata adalah Yuli, ibu Bisma.
"Iya, tante," jawab Nana sambil mengangguk sopan.
Nana membawa lebih dari sekadar nasi goreng untuk Bisma. Ia juga membeli donat untuk keluarga Bisma, sebagai tanda perkenalan. Yuli tersenyum hangat menerima pemberian dari Nana, merasa senang dengan perhatian kecil dari teman anaknya.
"Terima kasih banyak, ya. Bisma ada di kamar" ujar Yuli sambil menuntun Nana ke ruang tamu, menyuruhnya duduk di sofa yang empuk.
Yuli meminta Gita mengantar Nana ke kamar Bisma. Nana mengikuti langkah Gita menelusuri lorong dan menaiki anak tangga. Nana merasa kagum melihat ukuran rumah Bisma yang cukup besar dan terasa nyaman.
"Ka," Gita mengetuk pintu kamar Bisma pelan, lalu memutar engsel pintu dengan hati-hati. "Masuk aja, Ka," kata Gita, mempersilakan Nana.
"Terima kasih," balas Nana dengan senyum, meski dalam hatinya masih merasa canggung.
Gita tersenyum tipis sebelum pergi meninggalkan Nana sendirian di ambang pintu. Nana ragu-ragu, berdiri sebentar di depan pintu, merasa agak canggung untuk langsung masuk ke kamar Bisma. Ia lebih memilih untuk berbicara di ruang tamu atau tempat lain yang lebih umum. Namun, sebelum Nana bisa berpikir lebih jauh, suara Bisma memanggil dari dalam.
"Masuk sini," kata Bisma, setengah menyuruh.
"Enggak apa-apa nih?" Nana bertanya untuk memastikan, ingin tahu apakah Bisma benar-benar nyaman dengan kehadirannya di dalam kamar.
Bisma mengangguk pelan, tersenyum menenangkan. "Enggak apa-apa, masuk aja. Ini juga kan kayak rumah sendiri."
Merasa lebih tenang, Nana akhirnya melangkah masuk. Matanya langsung berkeliling, mengamati kamar Bisma. Kamar itu terasa seperti dunia lain, hampir seperti hutan kecil. Banyak sekali boneka dinosaurus berbagai ukuran yang menghiasi sudut-sudut kamar, sementara beberapa pigura bergambar dinosaurus menghiasi dinding. Nuansa hijau mendominasi kamar, menciptakan suasana segar dan alami. Nana tersenyum kecil melihat semua itu. Kamar ini terasa hidup dan menyenangkan, dengan sentuhan personal yang membuatnya unik.
"Wow, kamarmu keren banget, Bisma," puji Nana dengan tulus. "Suka banget sama tema hijaunya. Seger banget kayak di hutan."
Bisma tersenyum, bangga dengan reaksinya. "Makasih, Nana. Aku memang suka dinosaurus dan nuansa alam. Rasanya tenang aja di sini."
Nana meraih salah satu boneka dinosaurus yang tergeletak di lantai dan menaruhnya kembali ke tempatnya, lalu meletakkan tas serta barang-barangnya, kecuali bekal nasi goreng. Setelah itu, ia mendekati Bisma yang tengah sibuk bermain game di meja belajarnya.
"Kok sakit malah main game sih?" tanya Nana sambil tertawa kecil.
"Aku sakit, bukan stroke, Na," jawab Bisma, tertawa pelan.
Bisma menoleh ke arah Nana, melihat kotak bekal pink yang dibawanya. "Bawa apa tuh?"
Nana mengangkat kotak bekal pink itu, memperlihatkannya dengan senyum bangga. Mata Bisma berbinar melihatnya, mengingatkannya pada masa kecil. Pasti itu nasi goreng buatan Bunda Wina, pikirnya. Nasi goreng kesukaannya sejak kecil. Dulu, ayah selalu membawa nasi goreng buatan Wina, dan ia selalu mencoba nasi goreng buatan Wina. Rasanya memiliki ciri khas yang tak bisa ia temukan di nasi goreng lainnya.
"Kamar kamu bagus banget. Suka banget sama tema dinosaurusnya," puji Nana sambil melihat sekeliling kamar. Kesan nyaman dan segar terpancar dari nuansa hijau yang mendominasi kamar Bisma.
Bisma hanya tersenyum tipis mendengar pujian itu, merasa sedikit bangga karena Nana menyukai kamarnya.
Nana duduk di kursi di sebelah Bisma yang masih asyik bermain game. Pandangannya tanpa sengaja tertumbuk pada foto yang terletak di meja Bisma, tepat di sebelah komputer. Foto itu menampilkan Bisma bersama seorang perempuan di atas gunung, terlihat bahagia. Meski indah, perasaan gelisah menyeruak di dalam hati Nana setelah melihat foto tersebut.
Secara refleks, Nana meraih foto itu untuk melihat lebih dekat. Bisma yang menyadari pergerakan Nana langsung menghentikan permainannya, matanya membulat saat melihat Nana hampir memegang foto tersebut. Itu adalah foto dirinya dengan Sinda, mantannya.
Bisma bergerak cepat, sebelum Nana bisa meraih foto tersebut, tangannya sudah terlebih dahulu mengambilnya. Dengan sedikit gugup, Bisma mengambil foto bersama Sinda yang terpajang di sebelah kanan, lalu menggeser tangan ke kiri untuk meraih foto lain—foto dirinya bersama ayahnya.
Tanpa berkata apa-apa, Bisma menyimpan kedua foto itu ke dalam laci meja dengan tenang, meskipun detak jantungnya terasa lebih cepat. Ia tidak takut jika Nana tahu bahwa ia masih menyimpan foto mantannya, tapi ada hal lain yang lebih berarti baginya—foto ayahnya yang ingin ia sembunyikan dari Nana.
Nana memandang Bisma dengan tatapan ingin tahu. "Kok, buru-buru disimpan?" tanya Nana, sedikit curiga. Namun, nada suaranya tetap lembut.
Bisma berusaha tersenyum santai, menutupi kegugupannya. "Cuma foto lama, enggak penting kok. Lagipula, aku lebih suka lihat kamu di sini daripada foto-foto itu," jawab Bisma sambil menatap Nana, mencoba mencairkan suasana.
Nana tersenyum tipis, meski hatinya masih penasaran. Namun, ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. "Oke, kalau gitu. Yuk makan dulu, nanti nasi gorengnya keburu dingin," ajak Nana, mengangkat kotak bekal pink yang dibawanya.
Bisma mengangguk, merasa lega. Ia bangkit dari kursi dan berjalan mendekati meja, siap untuk menikmati nasi goreng spesial dari Nana. Meskipun ada sedikit kekhawatiran tentang apa yang telah dilihat Nana, Bisma tahu satu hal pasti: momen ini adalah tentang mereka berdua, bukan tentang masa lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
OMBAK BERSORAK
RomanceSetelah kehilangan kali ini, selanjutnya kehilangan apa lagi? Seolah semesta tak pernah mengizinkanku untuk merasakan kasih sayang yang utuh-baik disayangi maupun menyayangi. Semua yang datang terasa singkat, seperti angin yang berlalu tanpa pernah...
