Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Problem Diki & Bisma

16 10 0
                                        


Hari itu, di tengah-tengah jam istirahat, kantin SMP itu terasa lebih ramai dari biasanya. Diki duduk di meja bersama teman-temannya, wajahnya terlihat tegang. Matanya melirik ke arah Bisma yang sedang duduk di meja seberang, tampak asyik berbicara dengan teman-temannya.

Diki merasa panas di dadanya. Sejak seminggu yang lalu, pacarnya, Nadya, mulai menunjukkan sikap yang aneh. Nadya sering bicara tentang Bisma, bahkan tanpa sadar sering melirik ke arah Bisma saat mereka ngobrol. Itu yang bikin Diki curiga.

"Nadya itu bukan cewek sembarangan," pikir Diki, menahan amarah. "Kenapa sih dia malah tertarik sama Bisma?"

Diki akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja Bisma. Tanpa basa-basi, dia segera menghampiri Bisma.

"Lo jangan deket-deket sama cewek gue, Bisma!" Diki melemparkan kata-kata itu dengan nada tinggi, membuat semua orang di sekitar mereka berhenti bicara dan menatap heran.

Bisma yang sedang tertawa dengan teman-temannya segera terdiam. "Apa maksud lo, Diki?" jawabnya bingung, matanya melihat Diki yang tampak emosi.

"Lo deket sama Nadya, kan?" Diki melanjutkan, suara semakin meninggi. "Lo pikir gue nggak tahu apa-apa?"

Bisma masih bingung. "Gue nggak tahu apa-apa, Diki! Gue nggak deket sama Nadya! Kenapa lo marah-marah gitu?"

"Jangan pura-pura nggak tahu!" Diki mendekat dengan wajah merah. "Gue tahu lo suka sama dia! Jangan coba-coba deketin cewek gue, Bisma!"

Bisma berdiri dari kursinya, mulai kesal dengan tuduhan Diki. "Gue nggak pernah ngapa-ngapain sama Nadya! Lo yang terlalu over, Diki!"

"Jadi lo bilang gue salah, huh?!" Diki mendorong Bisma dengan keras. "Lo kira gue goblok?"

Bisma membalas dengan dorongan keras juga, membuat Diki terhuyung mundur. "Gue nggak ada niat jahat, Diki! Cuma temenan sama dia, lo yang baper!"

Keributan mereka semakin memanas. Teman-teman yang tadi mengamati mulai mendekat, beberapa mencoba melerai, namun gagal. Diki dan Bisma saling pukul, hingga akhirnya suara sirine BK terdengar, dan guru BK keluar dengan wajah cemas.

Di ruang BK, Diki dan Bisma duduk dengan muka babak belur. Kedua mata mereka bengkak, wajah penuh luka gores. Pak Herman, guru BK yang biasanya tenang, kini terlihat sangat serius.

"Ada apa ini, Diki? Bisma?" tanya Pak Herman dengan suara berat, menatap keduanya.

Diki menunduk, masih merasa marah. "Dia, Pak! Bisma deket sama cewek gue, Nadya! Gue nggak terima itu!"

Bisma yang sebelumnya diam, akhirnya berkata, "Pak, saya nggak tahu kenapa Diki marah. Saya nggak deket-deket sama Nadya. Cuma ngobrol biasa."

"Lo jangan ngomong begitu, Bisma!" Diki langsung memotong. "Lo tahu kok, Nadya sering banget bicarain lo! Lo pasti ada niat jelek!"

Bisma terdiam, frustasi. "Gue cuma temenan, Diki! Nggak ada maksud apa-apa! Lo yang over!"

Pak Herman menghela napas panjang. "Coba tenang dulu, kalian berdua. Diki, Bisma, ini masalah komunikasi dan rasa curiga yang nggak perlu."

Diki membentak, "Gimana bisa tenang, Pak? Gue lihat sendiri cewek gue sering ngeliatin Bisma!"

Bisma pun membalas, "Gue juga nggak tahu kenapa Nadya sering ngomongin gue, Diki. Kalau lo curiga, itu urusan lo sama Nadya, bukan sama gue!"

Pak Herman menatap keduanya dengan serius. "Diki, Bisma. Jangan biarkan emosi kalian menghancurkan persahabatan ini. Kalau ada masalah, selesaikan dengan bicara baik-baik. Kalau terus begitu, kalian cuma bakal musuhan dan nggak ada yang untung."

Namun, suasana sudah terlalu panas. Diki menatap Bisma dengan tajam. "Gue nggak mau temenan sama orang yang deket sama cewek gue."

Bisma balas menatap dengan penuh amarah. "Gue juga nggak butuh temen yang selalu curiga sama gue tanpa alasan jelas."

Pak Herman menghela napas lagi. "Baiklah. Kalau itu pilihan kalian, nggak ada yang bisa saya lakukan lagi. Tapi ingat, ini bukan jalan yang benar."

Setelah itu, Diki dan Bisma keluar dari ruang BK dengan hati masing-masing penuh amarah. Mereka nggak saling berbicara lagi sejak hari itu. Persahabatan yang dulu erat, kini retak hanya karena sebuah kesalahpahaman yang tak terpecahkan.

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang