Izin ke Bunda

27 17 0
                                        

Pukul 16.30, bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, menandakan akhir dari hari yang panjang. Biasanya, Nana segera bergegas menuju halte depan sekolah, ingin segera pulang. Namun, hari ini berbeda. Dia tetap duduk di kursinya di dalam kelas, seolah ada yang menahannya untuk pergi.

Dea, yang baru saja keluar dari ruang organisasi, melihat Nana yang masih duduk di tempatnya. Keheranan, dia mendekat dan berseru dari pintu, "Lo ngapain jam segini belum pulang, Na? Biasanya lo buru-buru keluar."

Nana menatap Dea dengan ekspresi datar, lalu bangkit dari kursinya dan mendekat.

"Anak organisasi udah pada pulang ya?" tanyanya, seolah mencari-cari alasan.

Dea segera menepak jidatnya sendiri, merasa gemas dengan tingkah sahabatnya itu.

"Lo udah gila ya? Gua tahu banget akal bulus lo, Na. Lo pasti nungguin Bisma pulang dari perkumpulan organisasi, kan?" katanya dengan nada sedikit kesal.

Nana hanya menjulurkan lidahnya dengan ekspresi nakal, membuat Dea semakin kesal.

"Wle," ejek Nana sambil tersenyum jahil.

"Nunggu Bisma, mau pulang bareng," jawab Nana akhirnya, dengan nada polos tapi penuh arti.

Dea hanya bisa menghela napas. Dugaannya memang benar—Nana ternyata sudah terjebak dalam perasaan yang semakin dalam terhadap Bisma. Ini pertama kalinya Dea melihat sahabatnya begitu bucin sampai rela menunggu di sekolah hanya untuk pulang bersama Bisma.

"Ya ampun, Nana... Lo udah enggak ada obat!" seru Dea, setengah jengkel tapi juga setengah geli melihat tingkah Nana yang begitu terang-terangan.

Namun, Nana tak menghiraukan omelan Dea. Dia segera berlari kecil ke arah parkiran sekolah, tak sabar ingin bertemu dengan Bisma. Sesampainya di sana, Nana melihat Bisma yang sedang menunggu di dekat motornya. Senyum manis terulas di wajahnya ketika ia menghampiri Bisma.

"Na, makasih ya buat nasi gorengnya tadi siang," ucap Bisma sambil memberikan kotak bekal yang kosong kepada Nana.

Nana menerima kotak bekal itu dengan senyum kecil. "Sama-sama, Bisma. Kamu suka, kan?"

Bisma mengangguk sambil tersenyum, lalu dengan lembut Nana menarik tangan kanan Bisma yang masih terbalut perban. Dengan hati-hati, dia membalikkan tangan Bisma sehingga telapaknya menghadap ke atas, lalu mengelus-elusnya dengan penuh perhatian.

"Masih sakit?" tanya Nana, suaranya lembut, hampir berbisik.

Bisma sedikit terkejut dengan sentuhan Nana yang begitu lembut, namun dia berusaha tetap tenang.

"Udah mendingan kok," jawabnya, meskipun jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati momen sederhana ini. Bagi Bisma, perhatian Nana yang tulus terasa begitu hangat, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Sementara bagi Nana, berada di dekat Bisma seperti ini membuat hatinya terasa nyaman, seolah semua kekhawatirannya hilang begitu saja.

Namun, momen itu tak berlangsung lama. Bisma menarik tangannya pelan, lalu menatap Nana dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya.

"Yuk, kita pulang," ajaknya.

Bisma tersenyum tipis mendengar kekhawatiran Nana yang begitu tulus. Sambil mengenakan jaketnya, dia mendekat dan mengambil helm berwarna putih yang tergantung di stang motornya. Dengan lembut, ia memasangkan helm itu di kepala Nana, memastikan talinya terikat dengan aman.

"Aku enggak pa-pa, Na. Bisa ko bawa motor," ujar Bisma sambil menatap Nana dengan pandangan lembut, mencoba meyakinkannya.

Namun, Nana masih tampak ragu. "Tapi kenapa helm-nya dipasangin ke aku? Kamu aja yang pake, kan kamu yang bawa motor," protesnya, nada suaranya penuh dengan kekhawatiran.

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang