Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Kecilakaan???

21 13 0
                                        

Mengapa kau kembali?
Saat hatiku telah belajar mencintai yang lain,
dan luka tentangmu perlahan mulai sembuh.
Mengapa kini, ketika rasaku telah berpindah,
kau hadir seolah tak pernah pergi?
Daisy Aurellia Najela

Mobil dari arah depan melaju tak terkendali, menabrak pembatas jalan dan mengarah lurus ke arah Nana dan Bisma. Kedua sahabat itu terbelalak, tak menyangka akan terjebak dalam situasi yang begitu mencekam.

"Brakkkk!" Suara tabrakan keras terdengar, menggetarkan tanah di sekitar mereka.

"Nana!" Suara lirih Bisma terdengar memanggil, namun dengan tubuhnya yang terluka parah, Bisma hanya bisa tergeletak lemah di jalan, darah segar mengalir deras dari wajahnya.

Bola mata Nana membesar, terpaku pada sosok Bisma yang terluka. Tubuhnya tak mampu bergerak, hanya bisa menatap nanar. Darah yang bercucuran di wajah Bisma membuatnya merasa dunia seakan berhenti berputar. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya, namun tubuhnya seperti terikat oleh ketakutan yang luar biasa. la ingin menghampiri Bisma, namun jarak yang begitu jauh membuatnya merasa tak berdaya.

Motor-motor yang melaju di jalan tiba-tiba berhenti dengan keras, seiring dengan kehadiran para pengendara yang terkejut melihat kecelakaan tersebut. Beberapa pengendara turun dan berlari menghampiri korban. Polisi pun segera datang, berlari menuju lokasi kecelakaan untuk mengevakuasi Bisma dan Nana. Dengan cekatan, mereka mengamankan kedua korban dan mengarahkan petugas medis untuk memberikan pertolongan pertama.

Nana yang masih terisak menangis, dipapah oleh petugas menuju ambulans. Dalam keadaan yang sangat panik, ia melihat Bisma yang juga segera dibawa oleh ambulans ke rumah sakit terdekat di Bandung. Hatinya hanya bisa berdoa, berharap sahabatnya itu akan selamat. Dunia terasa begitu gelap saat itu, hanya harapan yang tersisa di benaknya.

˖°𓇼🌊⋆

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 01:15. Wina masih duduk gelisah di ruang tamu, menunggu kedatangan Nana, gadis tunggalnya, yang belum juga pulang. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ponselnya sudah dia panggilkan beberapa kali, namun setiap kali hanya terdengar suara notifikasi panggilan yang tak terjawab. Wina menggigit bibir, khawatir.

"Kenapa nggak diangkat-angkat, sih?" gumam Wina pelan, semakin cemas.

Dengan tangan yang gemetar, ia kembali mencoba menelepon Nana. Namun, lagi-lagi hanya nada dering yang terdengar. Wina memandang ke luar jendela, berharap melihat mobil Nana berhenti di depan rumah, tapi yang terlihat hanya kegelapan malam.

Di saat itu, ponsel Yuli tiba-tiba berdering, mengalihkan perhatiannya. Ia cepat-cepat mengangkat telepon tersebut, dan begitu mendengarkan suara di seberang, wajahnya seketika pucat. "Apa? Kecelakaan?" suaranya tercekat, tak percaya. "Ya Allah... Bisma dan Nana?" Dengan tangan yang masih menggenggam ponsel, Yuli bangkit dan berlari menuju kamar suaminya.

"Noval! Noval!" Yuli membangunkan suaminya dengan panik. "Ada yang terjadi pada Nana dan Bisma! Mereka kecelakaan!"

Suaminya yang masih setengah terjaga segera duduk dan menatap Yuli dengan bingung. "Apa? Kecelakaan? Dimana?"

"Di Bandung! Mereka di rumah sakit sekarang!" Yuli mulai menangis, hatinya semakin cemas. "Bisma dan Nana..."

Gita yang mendengar keributan itu segera terbangun. Melihat ibunya yang cemas, ia langsung mendekat. "Ibu, kenapa? Apa yang terjadi?"

"Ibu, mereka kecelakaan, Gita. Bisma dan Nana. Kita harus ke Bandung!" jawab Yuli, suaranya parau.

Gita meraih tangan ibunya, berusaha menenangkan. "Ibu, tenang. Mereka pasti baik-baik saja. Kita harus tetap tenang." Gita mencoba memberi ketenangan, meski hatinya sendiri berdebar hebat.

Setelah beberapa saat, keluarga itu akhirnya bersiap. Noval dan Yuli, bersama Gita, segera bergegas menuju Bandung. Di sepanjang perjalanan, Yuli terus memikirkan keadaan Nana. Hatinya lebih cemas pada putrinya dibandingkan Bisma. Walaupun tahu Bisma juga terluka, namun Nana adalah satu-satunya anak perempuan yang dimilikinya.

"Ibu, tenang. Nana pasti baik-baik saja," Gita berusaha menenangkan kembali. "Kita harus sabar."

Sesampainya di rumah sakit, Yuli langsung berlari masuk, diikuti Noval dan Gita. "Permisi, Bisma dan Nana... mereka ada di ruang inap nomor berapa?" Yuli bertanya dengan suara terbata-bata, berharap mendapat kabar baik.

Petugas rumah sakit yang melihat mereka segera mengarahkan tangan. "Ruang inap 204, di lantai dua," jawabnya singkat.

Mereka langsung menuju ke sana dengan langkah terburu-buru. Waktu berjalan begitu lambat, tetapi harapan masih ada di benak mereka, berharap Bisma dan Nana bisa segera pulih.

˖°𓇼🌊⋆

Yuli dan Noval berdiri di luar ruang inap, menatap kedua anak mereka yang sedang beristirahat di dalam. Nana terbaring di tempat tidur dengan perban di beberapa bagian tubuhnya, namun kondisinya cukup stabil—hanya mengalami luka ringan. Sedangkan Bisma, meskipun tak seberuntung Nana, terluka lebih parah. Kakinya dibalut dengan perban tebal, dan dokter memberi tahu bahwa cedera di kakinya cukup serius, sehingga Bisma harus berbulan-bulan menjalani perawatan dan tidak bisa berjalan tanpa bantuan.

"Alhamdulillah, Nana baik-baik saja," kata Noval, suaranya penuh rasa syukur. Ia memegang tangan Yuli dengan erat, berusaha memberi ketenangan. "Tapi Bisma... semoga dia bisa cepat pulih. Aku nggak bisa bayangin kalau dia nggak bisa jalan lama."

Yuli menghela napas panjang, wajahnya penuh rasa haru. "Iya, kita bersyukur mereka selamat. Semua ini bisa lebih buruk, Noval," jawab Yuli dengan suara yang serak, matanya sedikit berkaca-kaca.

Di sisi lain, Gita duduk di kursi samping tempat tidur Nana. Tangan Gita memegang ponsel milik Nana yang tergeletak di sampingnya. Tiba-tiba, ponsel itu bergetar berkali-kali. Gita melihat layar ponsel dan membaca nama yang tertera: Bunda tercinta. Tanpa berpikir panjang, Gita segera mengangkat telepon tersebut dan mendekatkannya ke telinga.

"Assalamualaikum, Bu," suara Gita terdengar tegas meskipun sedikit terputus-putus.

Di seberang sana, suara Wina terdengar penuh kecemasan. "Gita, apa benar Nana dan Bisma kecelakaan? Bagaimana keadaan mereka? Aku dengar kabar yang sangat buruk..."

"Waalaikumsalam, Bu," Gita menjawab dengan tenang meski cemas. "Nana hanya terluka ringan, dia baik-baik saja. Tapi Bisma... kakinya cedera parah. Dia harus menjalani perawatan lama, mungkin beberapa bulan, Bu."

Wina terdiam sejenak, mendengar kabar tersebut. Rasa cemas yang menggebu berubah menjadi rasa lega karena Nana selamat. Namun, mendengar kondisi Bisma membuat hati Wina semakin resah. "Aku... aku harus segera ke Bandung, Gita. Aku nggak bisa tenang kalau belum melihat keadaan mereka dengan mata kepala sendiri."

"Bu, tenang. Nana dan Bisma akan segera pulih. Ibu bisa datang nanti, mereka pasti butuh istirahat," Gita mencoba menenangkan Wina, meskipun hatinya sendiri juga penuh kecemasan.

"Ya, aku akan berangkat sekarang juga," Wina berkata dengan tekad bulat, suara tangis mulai terdengar. "Aku akan segera sampai di sana, Gita."

Setelah menutup telepon, Wina segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke Bandung. Hatinya terasa terombang-ambing antara rasa lega dan khawatir. Di tengah perjalanan yang panjang, hanya doa yang bisa ia panjatkan untuk keselamatan anak-anaknya.

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang