Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Menuju Rumah Bisma

34 21 1
                                        

Wina membuka gorden, membiarkan sinar mentari pagi menerobos masuk, membanjiri kamar dengan kehangatan lembut. Cahaya itu jatuh tepat di wajah Nana, memaksa matanya perlahan terbuka. Dalam balutan kantuk, pandangannya menangkap sosok Wina yang tengah sibuk merapikan gorden di sudut kamar.

"Good morning, putri bunda," sapa Wina lembut.

Nana mengusap matanya yang masih berat dengan kantuk, lalu melirik jam dinding. Jarum pendeknya sudah menunjuk angka delapan. Terkejut, ia segera melompat turun dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi, tak ingin membuang lebih banyak waktu.

Usai membersihkan diri, seperti kebiasaannya, Nana melangkah menuju dapur. Di sana, ia menemukan bundanya yang masih sibuk menyiapkan sesuatu. Meski waktu sarapan telah berlalu, kehangatan kebersamaan di meja makan tetap menjadi rutinitas kecil yang tak ingin ia lewatkan.

"Bunda, aku mau buat nasi goreng," pinta Nana dengan semangat.

"Itu ada nasi goreng yang udah bunda buat, makan itu saja," jawab Wina sambil menunjuk piring di meja.

"Bukan yang itu, bunda. Aku mau buat yang baru. Nana mau bikin sendiri," protes Nana sambil tersenyum manis.

"Buat siapa?" tanya Wina curiga.

"Buat Bisma. Bisma bilang dia suka nasi goreng, dan dia sakit gara-gara kehujanan semalam," jelas Nana polos.

Wina memperhatikan putrinya dengan saksama, matanya menelusuri penampilan Nana dari ujung kaki hingga kepala. Nana mengenakan rok putih selutut yang lembut, rambutnya tergerai rapi dengan sentuhan jepitan berwarna pink yang serasi dengan blusnya. Riasan tipis menghiasi wajahnya, memberikan kesan anggun yang sederhana namun memikat. Wina mengernyit kecil. Jika hanya untuk bermain dengan Dea, Nana biasanya tak pernah serapi ini, pikirnya. Ada sesuatu yang terasa berbeda pagi ini.

Menghela napas pelan, Wina menyadari kerapian putrinya bukan sekadar untuk bermain santai. Ada alasan lain yang belum ia ketahui, dan itu membuat pikirannya dipenuhi berbagai dugaan.

"Bunda kok malah bengong? Boleh kan, Nana masak?" tanya Nana lagi, menyadarkan Wina dari lamunannya.

"Iya, boleh, sayang. Tapi hati-hati ya, jangan sampai kena minyak panas," jawab Wina akhirnya, tersenyum tipis melihat antusiasme putrinya.

Setelah mendengar penjelasan Nana tentang Bisma yang sedang sakit, Wina akhirnya mengangguk setuju, meski sedikit ragu. Ia mengizinkan putrinya memasak nasi goreng sendiri, meskipun sebenarnya sudah ada sepiring nasi goreng yang ia buat sebelumnya. Mendapat persetujuan itu, Nana tak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Dengan sigap, ia mengambil celemek dan mulai menyiapkan bahan-bahan di atas meja dapur. Tomat, cabai, bawang bombai, telur, serta berbagai bumbu lainnya tersusun rapi, menunggu disentuh tangan terampilnya.

Dengan penuh konsentrasi, Nana mengiris bawang bombai dan cabai, jemarinya bergerak cekatan. Namun, sesekali senyum kecil tersungging di wajahnya, seolah pikirannya melayang ke tempat lain. Dalam diam, ia membayangkan ekspresi Bisma saat menerima bekal darinya nanti. Pipi Nana perlahan memerah, tersipu oleh khayalan yang tak mampu ia kendalikan, menambah kehangatan pagi ini.

"Pasti enak buatan Nana," gumamnya penuh percaya diri setelah mencium aroma harum dari wajan, meski belum mencicipi masakannya.

Setelah nasi gorengnya matang, Nana menuangkannya ke dalam kotak bekal berwarna merah muda favoritnya, yang sering ia bawa ke sekolah. Kotak bekal itu tampak istimewa dengan stiker lucu—menempel di bagian tutupnya. Nana memastikan hiasan irisan tomat dan mentimun tertata rapi di atas nasi goreng, membuatnya terlihat semakin menggugah selera.

Selesai memasak, Nana melepas celemek dan segera mengecek ponselnya yang sejak tadi terabaikan di atas meja dapur. Ia bermaksud menghubungi Bisma untuk meminta petunjuk arah ke rumahnya. Namun, saat membuka layar ponsel, matanya langsung membulat sempurna. Tangan Nana menutup mulutnya, menahan rasa terkejut. Di layar ponselnya terpampang balasan pesan dari Bisma yang tak pernah ia duga.

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang