Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Kembalinya ke Sekolah

23 18 0
                                        

Di sekolah, Nana memperhatikan Bisma yang duduk di kursi taman, hanya terdiam membisu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bisma, yang biasanya ceria dan penuh canda, kini tampak berbeda. Pandangannya kosong, seolah pikirannya melayang entah ke mana.

"Ke Bandung yuk besok, kita libur dua hari, Sabtu Minggu," ajak Nana, mencoba memecah keheningan di antara mereka. Dia berharap Bisma akan tertarik, seperti saat mereka spontan memutuskan pergi ke Dieng libur kemarin.

Namun, alih-alih menjawab dengan antusias, Bisma hanya mengangguk pelan. Tanpa sepatah kata pun, ia berdiri dan berjalan meninggalkan taman, membiarkan Nana termangu sendirian. Nana menatap punggung Bisma yang semakin menjauh, rasa heran menyelusup ke dalam hatinya.

"Gue ada salah, kah?" gumam Nana dalam hati. Respon dingin Bisma membuatnya gelisah. Bukan kali pertama mereka menghabiskan waktu bersama, tapi baru kali ini Bisma terlihat begitu acuh.

Dengan langkah malas, Nana beranjak dari taman dan kembali ke kelas. Wajahnya cemberut, tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Sesampainya di dalam kelas, Dea yang duduk di dekat pintu langsung menyadari perubahan ekspresi sahabatnya itu.

"Kenapa lu?" tanya Dea penasaran, memiringkan kepalanya sambil mengamati wajah Nana yang murung.

Nana hanya mengangkat bahu, memilih diam dan sibuk dengan ponselnya. Ia membuka aplikasi pesan dan mengetik cepat, berharap bisa sedikit melegakan perasaannya.

Nana anak IPS:
Bisma, pulang bareng ya?

Pesan itu terkirim, namun menit demi menit berlalu tanpa ada balasan. Nana menggigit bibirnya, berusaha menahan kesal. Hatinya semakin tidak tenang. Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Bisma? Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah?

Nana mendesah panjang, pandangannya kosong menatap layar ponsel. Kegelisahan makin menghantuinya seiring berlalunya waktu tanpa ada respon dari Bisma. Sesuatu yang tak terungkap jelas membayangi pikiran Nana, membuatnya merasa terjebak dalam kebingungan yang tak berujung.

"Gue ada salah kayanya," gumam Nana.

Sepanjang jam pelajaran, pikiran Nana melayang ke mana-mana. Rasanya suasana hatinya mendung. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Bisma. Biasanya, Bisma selalu merespon ajakan Nana dengan antusias, bahkan sering kali mengusulkan ide-ide menarik lainnya. Namun hari ini, seolah ada dinding yang tak terlihat memisahkan mereka.

Saat bel berbunyi menandakan akhir pelajaran, Nana merasa lega. Dia membereskan buku-bukunya dengan cepat dan bergegas keluar dari kelas. Dalam hatinya, ia berharap bisa menemukan Bisma dan bertanya langsung apa yang sedang terjadi. Namun, saat dia sampai di tempat biasa mereka menunggu, Bisma sudah tidak ada di sana.

Dea yang berjalan di belakangnya, segera menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. "Nana, lu beneran kenapa sih? Dari tadi pagi lu nggak fokus, kayak ada yang ganggu pikiran lu," tanya Dea dengan nada cemas.

Nana berhenti sejenak, berusaha menenangkan pikirannya. "Gue nggak tau, Dea. Tadi pagi gue ngajak Bisma ke Bandung, tapi dia cuma ngangguk terus langsung pergi gitu aja. Nggak kayak biasanya," jawab Nana dengan wajah bingung.

Dea mengangguk mengerti. "Mungkin dia lagi ada masalah, Na. Cowok kan kadang suka gitu, nggak cerita langsung. Coba kasih dia waktu, nanti juga pasti cerita," hibur Dea sambil menepuk bahu Nana.

Nana hanya mengangguk pelan, berusaha menerima saran Dea. Namun, hatinya masih gelisah. "Gue udah coba nge-chat dia buat pulang bareng, tapi sampai sekarang belum dibales," kata Nana sambil memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan pesan terakhirnya kepada Bisma. Dea memandang pesan itu dan mencoba tersenyum untuk menghibur Nana.

"Udah, sabar aja. Mungkin nanti dia bales. Lagian, kalaupun dia lagi ada masalah, gue yakin bukan sama lu. Mungkin ada urusan lain yang lagi ganggu pikirannya," ujar Dea mencoba berpikir positif.

Sambil melangkah menuju pintu keluar sekolah, Nana masih terus memikirkan tentang Bisma. Apa yang bisa membuat laki-laki yang biasanya ceria itu berubah sedingin es? Dia ingin tahu, tetapi tidak tahu bagaimana cara menanyakannya tanpa membuat situasi semakin canggung.

Langkah Nana terhenti ketika Bisma tiba-tiba muncul di hadapannya, menghentikan langkahnya yang terburu-buru.

"Ayo pulang bareng," ajak Bisma dengan suara datar, wajahnya tetap tanpa ekspresi.

"Iya," jawab Nana singkat. Ia mengikuti Bisma menuju parkiran dengan perasaan campur aduk. Rasanya aneh melihat Bisma begitu dingin, seolah-olah ada sesuatu yang dipendam di dalam hatinya.

Setibanya di parkiran, Bisma menaiki motornya dan menyerahkan helm kepada Nana. Namun, kali ini dia tidak membantunya memasangkan helm putih seperti biasanya. Tidak ada candaan, tidak ada senyum, hanya kesunyian yang menyelimuti mereka.

"Ya enggak papa sih, enggak harus dipakein helm," ucap Nana berbisik pada dirinya sendiri, berusaha meyakinkan hati bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, ia tetap merasa ada yang janggal.

"Kenapa, Na?" tanya Bisma tiba-tiba, memecah keheningan. Tapi suaranya tertelan oleh deru motor dan angin kencang yang berhembus, tanda-tanda hujan akan turun.

Nana tidak sempat menjawab. Mereka melaju di bawah langit yang mulai gelap, seolah mendung turut merasakan kecanggungan di antara mereka. Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan, hanya suara mesin motor yang menjadi pengiring.

Sesampainya di depan rumah Nana, ia turun dari motor dengan hati-hati. "Makasih ya, Bisma," ucap Nana sambil tersenyum tipis, meski hatinya masih bertanya-tanya.

Bisma mengangguk tanpa berkata apa-apa. Nana menatap langit yang mulai menitikkan gerimis. Ia merasakan dinginnya tetesan air di tangannya.

"Bisma, hujan nih. Nunggu di sini aja dulu, ya?" pintanya, berharap Bisma mau berteduh sejenak di rumahnya.

Namun, Bisma hanya menggeleng dan menghidupkan kembali motornya. "Enggak apa-apa, Na. Aku kuat kok," jawabnya dengan nada tenang, berusaha meyakinkan Nana.

Nana menghela napas, sedikit kecewa. "Nanti sakit kena hujan," katanya, masih mencoba membujuk.

"Enggak akan, Na. Aku baik-baik saja," ucap Bisma sekali lagi, sebelum memutar gas dan melaju pergi. Nana hanya bisa menatap punggung Bisma yang semakin menjauh, perasaan tak menentu masih menyelimuti hatinya. Rasanya ada jarak yang tak kasat mata mulai memisahkan mereka, dan Nana hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja.

Ketika Nana hendak memasuki rumahnya, hujan deras mengguyur bumi. Tetesan air hujan membasahi rambut dan seragamnya dalam sekejap.

"Tuh kan, hujan. Bandel sih," gerutu Nana sambil berlari kecil memasuki rumahnya, mencari perlindungan dari derasnya hujan. Hatinya masih khawatir memikirkan Bisma yang tadi menolak untuk berteduh. Ia berharap Bisma benar-benar baik-baik saja dan tidak jatuh sakit karena kehujanan.

Di sisi lain, Bisma yang mengendarai motor tak mempedulikan hujan deras yang semakin mengguyurnya. Dia hanya fokus pada pikirannya sendiri, memikirkan bagaimana cara terbaik untuk memberitahu Nana bahwa dia adalah kakaknya. Kenyataan itu terus menghantuinya, membuat suasana hatinya murung dan gelisah.

"Sial," umpat Bisma ketika akhirnya memberhentikan motornya di depan rumahnya. Tubuhnya sudah basah kuyup, air hujan menetes dari ujung rambut hingga ke ujung sepatunya.

Dari balik pintu, Yuli, ibu Bisma, menggeleng melihat putranya yang basah kuyup. "Kan udah Mama bilang, sekarang musim hujan. Kalau keluar rumah ya pakai jas hujan!" tegurnya dengan nada cemas sambil mengulurkan handuk ke arah Bisma.

Namun, Bisma hanya melengos. Tanpa banyak bicara, dia menerima handuk dari ibunya dan segera berjalan menuju kamarnya, membiarkan tubuhnya yang basah membasahi lantai. Pikirannya terlalu penuh untuk mendengarkan nasihat Yuli. Yang ada di benaknya hanyalah Nana dan rahasia besar yang selama ini disimpannya. Bisma tahu, semakin lama dia menunda, semakin sulit rasanya untuk mengungkapkan kebenaran itu.

Masuk ke kamarnya, Bisma melempar handuk ke atas tempat tidur. Ia duduk di sudut kamar, menatap kosong ke jendela yang berembun karena hujan. Perasaan bersalah dan bingung berkecamuk dalam hatinya, membuat dadanya terasa sesak.

"Haruskah gue bilang? Tapi, gimana kalau Nana marah?" pikirnya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya yang dingin.

OMBAK BERSORAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang