45. (yg tdi salah up gaiss)

3.7K 75 1
                                        

Cecily sudah pasrah, sudah hampir seminggu tapi mereka masih belum mendapatkan donor paru-paru.

Dokter sebelumnya juga sudah mengatakan jika seminggu lagi, masih tak ada donor paru-paru, maka alat-alat yang ada di tubuh Gerrad akan dikeluarkan.

Bahasa kasarnya besok adalah hari terakhir pria itu di dunia ini.

Sedangkan Gerrad sendiri sudah di pindahkan ke ruangan yang tak boleh mereka kunjungi.

Cecily menghela napas, tinggal menghitung hari juga ia akan melahirkan.

Begitu juga dengan Lisandro, pria itu tak ada kabar, Cecily sudah mencoba menghubungi pria itu, tetapi tak ada jawaban dari Lisandro.

Rasanya semuanya bertambah berat tanpa ada Lisandro di sisinya.

Biasanya ada Lisandro yang menghibur dan menyemangati Cecily.

Cecily menatap layar tv di depannya dengan tak minat.

Cecily sudah pasrah dengan hidupnya.

Tak ada Gerrad, tak ada Lisandro.

Cukup sudah menderita Cecily saat ini, Cecily hanya bisa terkekeh tanpa tahu harus melakukan apa.

Air mata Cecily sudah kering menangisi itu semua, matanya seperti mata panda karena kurang tidur, dan jangan lupa pula mata itu juga bengkak karena saking banyak dan lamanya ia menangis.

Cecily memperhatikan jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Sudah waktunya Cecily untuk tidur, ia harus mempunyai waktu tidur yang cukup dan pergi ke rumah sakit lebih awal.

Agar menyiapkan dirinya dengan segala kemungkinan pada pria itu di hari esoknya.

Cecily terbangun, dengan perlahan-lahan Cecily mulai membuka matanya, ia menatap sekitar kamar yang beberapa bulan ini ia tempati.

berbeda rasanya saat tak ada Alessandro saat ia terbangun di pagi hari, tetapi jika anak itu tetap di sini, pasti Cecily tak akan leluasa nantinya untuk mengurus Gerrad.

Cecily menghela nafas dan kemudian berdiri dari tempat tidur dan kemudian membersihkan diri, Cecily akan pergi ke rumah sakit lebih awal.

Cecily terdiam sejenak saat merasakan perut dan area di bawahnya terasa keram seperti kontraksi ringan.

Tetapi Cecily berusaha mengabaikannya dan menganggap itu adalah hal yang biasa. Mengingat jadwal Cecily lahiran masih beberapa hari ke depan, sesuai perkiraan dokter.

Dua puluh menit kemudian, barulah Cecily selesai membersihkan diri dan kemudian berpakaian.

Ia memesan memberhentikan sebuah taksi yang lewat, mengingat rumah Lisandro berada di dekat jalan raya.

Cecily berusaha mengambil nafas, sambil berusaha menikmati perjalanan ke rumah sakit.

Sayangnya di atas mobil, Cecily lagi dan lagi malah merasakan keram luar biasa seperti kontraksi.

Tetapi Cecily berusaha menahan sakit itu, Cecily teringat saat ia merasakan ada air yang keluar dari sela-sela pangkal pahanya.

Mata Cecily langsung terbuka lebar, Cecily panik.

"Pak, ke rumah sakit nya lebih cepat bisa kan, saya mau melahirkan." Ucap Cecily sambil menggigit bibir menahan sakit.

Cecily berusaha mengambil nafas dalam-dalam, berusaha menahan sakit yang menenangkannya.

Cecily meraih ponselnya di dalam tas yang ia bawa tadi dan memanggil sang mertua.

"Bu, Cecily mau lahiran."

LAST OPTIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang