Cecily menatap tubuh Gerrad dari luar, dari dinding kaca yang tembus pandang itu.
Mata Cecily berkaca-kaca saat melihat pria itu seperti tersiksa dengan segala alat-alat yang ada di tubuh nya.
Cecily tak tahu harus melakukan apa selain menunggu berita dari mertua nya.
Sudah beberapa hari ini Cecily tak bertemu dengan Alessandro, anak nya itu sekarang bersama Dian.
Paling tidak jika tak ada Dian masih ada para pembantu yang mengurusi Alessandro.
Cecily menoleh saat mendengar suara langkah kaki.
Cecily berjalan ke arah Dian saat ternyata mertuanya lah yang muncul.
"Ma, udah dapet belum?." Tanya Cecily penasaran.
Dian menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan sang menantu.
Cecily menghela nafas, ia tak tahu lagi harus berkata apa.
Apa benar ia harus mengiklaskan suami nya itu?.
Apakah Cecily siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi?. Kemungkinan yang mungkin akan ia sesali seumur hidup.
Cecily menghela nafas, rasanya ingin menyerah dengan semua ini.
Cecily bangun, dan kembali menatap Gerrad dari luar dengan mata yang berkaca-kaca.
"Cecily udah makan siang?." Cecily menoleh saat mendengar pertanyaan dari sang mertua.
Cecily menggeleng.
"Ayo, kamu makan di kantin rumah sakit gih, biar mama yang jagain Gerrad."
Lagi dan lagi Cecily menggeleng sebagai jawaban.
Ia tak nafsu untuk makan, Cecily lebih suka untuk tetap di sini.
Di sini menatap Gerrad yang entah sampai kapan akan terbangun.
☆
Cecily bermenung di balkon rumah nya, tanpa tahu yang harus ia lakukan.
Sudah tiga minggu lebih Gerrad ada di rumah sakit, tetapi pria itu tak kunjung bangun.
Bukan, bukan karena tak kunjung bangun, tetapi pria itu sudah di ambang sekarat.
Dokter telah mewanti-wanti apabila mereka tak mendapat pendonor paru-paru dalam satu minggu lagi, maka terpaksa mereka mencabut seluruh alat yang ada di tubuh Gerrad.
Yang berarti pria itu tak ada lagi di dunia ini.
Mengapa seberat ini hidup nya, Cecily tak tahu harus berkata apa.
"Ayah, ibu, tolong bantu doain suami Cecily."
"Cecily rasanya gak sanggup jika nanti juga kehilangan mas Gerrad."
"Ayah benar, Gerrad emang orang baik."
"Tolong Ayah, buat Cecily kuat untuk menjalani semua ini."
Cecily menghela nafas saat seseorang mengetuk pintu nya, entah siapa yang bertamu di malam seperti ini.
Dengan cepat Cecily turun dan berjalan ke ruang tamu untuk membuka pintu yang ada.
Cecily tersenyum tipis saat ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Lisandro.
Cecily membuka pintu dan mempersilahkan Lisandro untuk masuk.
"Ayo, gue bawa makanan, kata mertua lo, lo belum makan sejak siang." Ucap Lisandro sambil memperlihatkan sekantong makanan yang ia bawa.
Sedangkan Cecily sendiri langsung menggeleng mendengar suara Lisandro.
"Kenapa?, kenapa gak mau?, kasih gue alasan yang logis yang bisa gue terima." Cecily terdiam mendengar ucapan pria itu.
"Karena gak nafsu?, karena laki lo yang gak bangun-bangun?, itu semua bukan alasan Cecily, lo harus makan biar punya tenaga buat rawat laki lo yang udah sekarat itu, jangan lupain lo juga gak sendiri sekarang." Lanjut Lisandro.
Cecily menghela nafas dan kemudian mengangguk.
Mereka berjalan ke meja makan, Lisandro mendahului langkah Cecily dan mengambil piring untuk menyusun makanan yang ia bawa tadi.
Lisandro meletakkan piring itu di depan Cecily saat wanita itu sudah ada di meja makan.
Cecily mulai memakan makanan itu dengan malas.
"Semangat dong makan nya, nih kayak gue, makan tuh harus semangat, gimana mau semangat lanjutin hidup kalau makan aja kek babi yang hampir mati." Ucap Lisandro setelah itu ia menyuap makanan itu ke mulut nya dengan tergesa-gesa.
Cecily yang melihat tingkah pria itu hanya bisa terkekeh pelan.
Setelah itu Cecily mulai makan dengan lahap.
Lisandro memperhatikan semua itu, ia menghentikan acara makan nya dan lebih memilih menatap wajah wanita cantik yang berarti di dalam hidup nya ini.
Lisandro berdiri dan mengambil sebuah karet, kemudian Ia ikat rambut wanita itu agar Cecily tak kesusahan untuk makan.
"Thank you." Ucap Cecily saat ia telah selesai makan.
Lisandro tersenyum tipis dan kemudian mengemasi piring yang ada di meja makan.
Saat ia kembali ke meja makan, wanita itu malah kembali dengan wajah murung nya.
Lisandro menghela nafas dan kemudian berjalan ke arah sana.
"It's ok, semuanya bakalan baik-baik saja." Ucap Lisandro sambil duduk di samping wanita itu.
Lisandro menarik Cecily dalam pelukan nya.
"Aku gak kuat Lisandro."
"Aku takut terjadi sesuatu sama Gerrad."
"Rasanya hidup aku berat banget tanpa dia."
"Aku pikir hidup aku akan baik-baik aja tanpa dia."
"Tapi kenyataannya malah sebaliknya."
"Lo yakin?, setelah semua yang dia lakuin sama lo?."
Cecily mengangguk dengan cepat saat mendengar pertanyaan dari pria itu.
"Aku yakin penyakit dia adalah alasan dari semua ini."
"Aku pengen Gerrad temenin aku lahiran, aku gak mau kejadian Lessa keulang lagi."
"Aku-aku gak kuat Lisandro."
"Ok, gue di sini."
"Jangan pernah ngerasa sendiri, gue bakalan selalu ada di samping lo."
"Gue jamin, suami lo bakalan bangun."
"Nyawa gue sendiri yang gue jaminin."
☆
long time no see gaisss, maaf yaa lama bngt ga upppp, vote dan komen nya jangan lupa yaaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
LAST OPTION
FantasiJika Gerrad sang suami hanya tak mencintai nya, Cecily masih dapat menerimanya, tetapi mengapa pria itu juga mengabaikan anak mereka?, apakah waktu 5 tahun ini tak cukup untuk menumbuhkan sedikit rasa cinta di dalam hati pria itu?.
