Warning :
Part ini mengandung unsur 18+. Harap bijak dalam memilih bacaan yang sesuai umur ya
•
•
•
Aura dingin dan gelap yang keluar dari tubuh pria milik Olivia ini sudah mulai menghilang. Pelukkannya kini tidak seerat tadi dan digantikan dengan pelukan hangat. Wajah itu juga masih betah terbenam diantara bagian bahu dan ceruk leher Reina. Membuat wanita yang selendangnya sudah turun setengah dari bahu itu merasa geli karena hembusan napas berat dan panas milik Niels.
"Apa yang terjadi ?" tanya Reina penuh perhatian. Walaupun dalam hati dia juga cemas tentang apa yang diungkapkan Duke tua bangka itu.
"Ayah memintaku mempercepat pernikahan. Dan dia juga memintaku melepaskanmu. Sayang sekali tombak ini tidak berhasil menembus kepalanya," Niels mengangkat telapak tangannya hingga kumpulan kabut hitam keluar dan membentuk tombak kecil nan runcing. Hanya sebentar karena tubuh Reina mengerut pasrah kala Niels mempererat lagi pelukannya sambil mendengus kesal.
*****
Flashback
Suara langkah kaki seseorang menggema mengisi lorong kastil utama tepatnya di lantai 3. Dia berjalan dengan biasa menuju pintu diujung sana. Jendela-jendela besar disisi kiri tidak membuat lorong itu terang sedikit pun. Sebab jarak antara jendela cukup jauh sehingga penerangan hanya masuk di beberapa titik.
Diluar langit pun sudah menunjukkan sore hari, siluet yang terbentuk dari bayangan pria itu pun mengikuti layaknya lukisan yang menampilkan kegagahan sang empunya tubuh.
Tepat saat ia menginjakkan kaki di kastil, Daniel, tangan kanan ayahnya menghampiri kereta mereka dan meminta Niels untuk menghadap Sang Duke. Alhasil disinilah dia. Mengetuk pintu ruang kerja ayahnya hingga dipersilahkan masuk.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah visual pria paruh baya dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Wajahnya tampak lelah karena sibuk memeriksa laporan bulanan. Ketika tubuh itu merasakan eksistensi kekuatan sang anak, Willoun mengangkat wajahnya.
"Kau sudah datang," ucapnya kemudian meletakkan pulpen bulunya pada botol tinta.
Niels dan tatapan datarnya hanya bergumam kecil sebagai balasan. Dia tidak ingin berlama-lama disini karena ada banyak hal yang perlu dia periksa termasuk menara timur.
"Duduklah," Willoun mengarahkan pandangannya pada sofa di belakang Niels.
Tanpa berlama-lama dia pun duduk dan menunggu ayahnya merapihkan beberapa dokumen.
Willoun meletakkan kacamatanya dan berjalan mendekati sang anak. "Laporkan padaku laporan hari ini,"
Pria tua itu duduk melipat kakinya dengan tangan menyilang sambil memperhatikan Niels. Anak yang sedarah dengannya ini sudah besar. Anak yang dia besarkan tanpa seorang ibu. Karena Willoun menyingkirkan wanita itu akibat keserakahannya. Wanita yang hanya ia manfaatkan demi keturunan.
"Pemasokan barang persediaan akan tiba minggu depan, mungkin akan lebih lambat dari seharusnya tapi masih bisa tepat waktu. Aku pastikan seminggu sebelum turnamen semua sudah siap. Dan acara penyambutan kerajaan Arstary serta tempat singgah untuk keluarga kerajaan sudah disiapkan. Potra yang akan mengawasi."
"Bagus,"
Hening tidak ada pembahasan lagi, Niels pun merasa dia harus pergi. "Kalau tidak ada lagi, aku pergi"
"Tunggu sebentar," ucap Willoun bersamaan dengan seorang pelayan mengetuk pintu menginterupsi keduanya.
Dia membawa troli yang berisikan teh dan kue sebagai teman diskusi anak dan ayah itu, dengan cekatan pelayan itu pun langsung menyajikan tanpa membuat kesalahan sedikit pun atau takut-takut menyinggung keduanya. Bisa-bisa dia keluar tidak bernyawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Duke Carlov
Historical FictionReina Stankof tidak pernah menyangka kalau dirinya kini masuk ke dalam tubuh seorang maid kepercayaan sang Tuan muda di mansion besar ini. Lebih parahnya lagi, dia masuk ke dalam tubuh maid yang cintanya pertepuk sebelah tangan dan harus mati tragis...
