Happy Reading All
Isabel LaRosa - Girl of Your Dreams
•
•
•
"Semoga matahari selalu menerangi Putra Mahkota, selamat datang di kediaman Noeviel,"
"Selamat datang Lord Carlov, suatu kehormatan bagi kami mendapatkan kunjungan tak terduga ini,"
Erriel adalah orang pertama yang angkat bicara. Dia dengan anggun memimpin anak-anak disana untuk melakukan penghormatan yang sama. Kemudian kembali mengalihkan topik agar suasana disana tidak semakin memburuk karena teman-temannya masih terkejut atas hadiah tak terduga dari calon penguasa Redwick.
"Mungkin putra mahkota asing denganku, perkenalkan aku Lady Erriel Doerien dan ini adikku Lady Asha Doerien."
Asha melangkah sedikit tanpa tahu ancaman apa yang sedang mencekik kelompok anak-anak disana. "Selamat datang putra mahkota, Lord Carlov, " sapa Asha si kecil di antara mereka.
Erriel menyenggol jemari Sarah agar dia juga turut memberikan penghormatan. Menyadari ketertegunannya ia pun turut membungkuk melebarkan gaunnya pada putra mahkota dan Lord Carlov.
"Suatu kehormatan bagiku sebagai tuan rumah mendapatkan kejutan darimu, Your Highness. Perkenalkan aku Sarah Noeviel, Putri dari Count Noeviel, My Lord"
Niels hanya melihat sejenak dan menunduk sebelum memperkenalkan dirinya. "Nielsen Carlov,"
Sarah kemudian membiarkan teman-temannya memperkenalkan diri seperti dirinya juga. Setelahnya ia mengajak kedua tamu kehormatannya itu duduk di meja minum teh.
Zelda dan Carla saling melempar pandangan. Mereka bingung harus membuka percakapan seperti apa disaat anak laki-laki saja hanya sibuk menilai sosok yang paling ditakuti seredwick. Sedangkan Asha, bocah kecil itu sibuk terpanah dengan ketampanan Nielsen karena baru pertama kalinya dia melihat anak berperawakan seperti Niels.
"Bukankah ini hari yang indah untuk berburu, apakah Anda juga akan bergabung berburu, My Lord?" Erriel membuka percakapan. Zelda dan Carla tidak bisa lebih lega dari ini.
"Ya, My Lord. Apakah Anda akan ikut berburu? Senjata apa yang akan ada gunakan nanti?" kali ini Carla ikut menimpali walaupun terkesan dipaksakan.
Sarah mengamati, dia telah meminta beberapa pelayan untuk menambah satu cangkir teh di meja mereka. Mereka menunggu pendapat Niels dengan berharap dimana Theon adalah orang pertama yang terkekeh pelan melihat betapa takutnya mereka jika dirinya menang.
"Bagaimana cousin? Apakah kau ingin bermain?"
Theo meminum tehnya anggun. Dia melirik wajah Niels dengan seksama. "Jujur aku masih kekurangan satu orang. Tapi jika kau malas aku tidak akan memaksa," Theo dan sikap congkaknya membuat Niels tersenyum lurus.
"Benarkah?"
Lihat ! Mata itu bahkan menyiratkan Niels untuk 'Hei! Bukankah kita sudah sepakat?'
KAMU SEDANG MEMBACA
Duke Carlov
Ficción históricaReina Stankof tidak pernah menyangka kalau dirinya kini masuk ke dalam tubuh seorang maid kepercayaan sang Tuan muda di mansion besar ini. Lebih parahnya lagi, dia masuk ke dalam tubuh maid yang cintanya pertepuk sebelah tangan dan harus mati tragis...
