Chapter 21 : The Sisters'Plans

7.9K 562 6
                                        

Jeng jenggg akhirnya lunas juga utangku wkwkwkw maaf ya dah php-in aku bilang uploadnya senin pagi TT aku lupa astaga saking hecticnya sama kerjaan + badan juga lagi gak fit alhasil lupa buka laptop buat upload 🤧🙏 maaf bngt belum bisa menghibur Senin pagi klean ya🙏


Pokoknya makasih udah nungguin cerita ini 💕💕 jangan lupa vote and comment ya hihihi komen kalian bakal aku bacain satu-satu makasih juga buat kalian yang terus semangat-in aku kmrn kmrn cintah bngt dah pokoknya 😘😘


Oke langsung aja jangan lupa pasang ost terbaik kalian atau bisa pake ost yang aku pake selama nulis 😉

Ost :

Castle by Halsey

(Btw aku gak hubungin ke link di atas ya ribet bngt soalnya pokoknya kalian bisa play di platform musik kalian)


Happy Reading All >_<


Pagi itu terasa lebih menyegarkan dibandingkan pagi sebelum-sebelumnya. Ia menggeliat dalam selimut, menulikan pendengarannya dari gesekan tirai kamar yang mulai di buka. Reina semakin menenggelamkan diri di balik selimut ketika merasakan udara pagi mulai mengelitiki kulitnya.

Ia masih ingin memejamkan mata beberapa menit lagi karena akan ada banyak kegiatan hari ini dan dia setidaknya harus bisa mengisi energi terlebih dahulu.

Semalaman suntuk dia habiskan untuk menafsirkan ramalan Odiets. Dia menulis ulang kembali isi ramalan itu ke dalam buku kosong di meja belajarnya.

'Segel hanya bisa dihancurkan oleh darah sang pembuat. Sihir hitam yang sangat mengenali tuannya. Darahnya adalah kunci dan Anda harus cepat atau selamanya Anda akan terikat'

Jika dia tidak salah mengartikan. Segel kontrak itu hanya bisa dibuka atau hancurkan melalui darah si pembuat.

Niels.

Reina harus mendapatkan darah Niels untuk membuka segel itu. Jika ia ingin bebas, berarti dia harus menghancurkannya sebelum perjanjian kontrak mereka habis. Dan itu tinggal beberapa hari lagi dari sekarang.

Seketika Reina langsung menyibakkan selimutnya. Rambut merahnya yang sedikit megar layaknya singa mulai ia rapihkan.

Dia sudah tidak selera tidur lagi. Memikirkan kenyataan itu membuat dirinya jadi tidak tenang.

Tak lama setelahnya, seorang pelayan masuk mengantarkan troli berisi teh dan cemilan pagi. Dia juga membuka pintu balkon kamarnya agar sirkulasi udara pagi bisa masuk lebih leluasa.

Seketika indera penciuman Reina langsung disuguhi aroma bunga mawar yang  bermekaran di taman mereka, lambang dari keluarganya.

Sampai sekarang Reina tidak mengerti kenapa mawar adalah lambang keluarga Olivia. Tidak ada cerita khusus dalam novel mengenai itu. Dia hanya mengetahui kalau ibu Olivia adalah wanita pencinta mawar, untuk itulah ayah wanita itu selalu memenuhi mansion mereka dengan berbagai jenis mawar untuk mengenang mendiang istrinya.

"Selamat pagi, My Lady. Apakah aku mengganggumu ?"

Laura, salah satu maid yang biasa melayani adiknya kini juga turut melayaninya juga. Gadis itu tampak sepantaran dengan Cassandra.

Duke CarlovCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang