Chapter 30 : The Mission

7.6K 559 15
                                        

Malam semakin larut, satu per satu manusia disana bukannya pulang, mereka malah semakin berdatangan membuat seseorang yang sudah banyak menghabiskan waktu hanya untuk mengintai pun mulai kebosanan.

Banyak mata yang melirik sosok yang sengaja memojokkan diri agar tidak terganggu menatap dirinya penasaran. Bahkan sang bertender pun, Liam, merasakan hal yang sama. Tidak ada pergerakan aneh selain memanggil pelayan untuk mengisi ulang gelas birnya.

Dari balik tudung dia juga merasa penasaran sudah selarut ini tetapi dua orang yang masuk ke wilayah terlarang itu bahkan belum keluar juga. Cuman satu yang ada dikepalanya saat ini, mereka juga anggota kelompok gelap. Karena tidak mungkin seorang wanita tua kuat menghabiskan waktunya lama-lama jika dia adalah seorang pelanggan.

Theo melihat seseorang turun dari tangga yang menuju lantai atas. Sosok bertubuh besar tuh berbisik pada sang bertender yang menampilkan wajah terkejutnya, bahkan ke arah marah. Dengan cepat pria berbadan besar itu menahan bahu si bertender untuk tidak naik ke atas.

Cukup lama bagi pria yang hampir seharian dibalik meja itu menenangkan diri, sampai akhirnya dia berjalan ke depan, berteriak mengatakan bar harus ditutup karena alasan pribadi.

Theo yang memperhatikannya pun mengangkat sebelah alisnya tertarik. Apa dia akan mendapatkan sesuatu yang menarik malam ini ?

Pria bersurai silver itu tidak turut bangun seperti yang lainnya. Mereka kebanyakan mengeluh dan meminta bertender itu untuk membuat kompensasi yang diangguki sang bertender dengan senyum palsunya agar mereka semua pulang dengan cepat karena dia ingin buru-buru ke atas.

Saat semuanya sudah pulang kedua iris mata yang berbeda itu pun akhirnya bersitatap. Liam menghampiri pria bertudung itu. "Maaf Tuan, bar kami harus segera ditutup. Silahkan datang lagi lain Waktu," ucapnya sopan meskipun ada nada penasaran disana.

Theo kemudian bangkit sedikit merapihkan letak pedangnya, Hunter, dibalik jubah. "Bisa aku berbicara dengan pimpinan kalian ?" ungkap Theo membawa keterkejutan ke dalam wajah Liam.

"Maaf tapi kami juga sedang tidak bisa menerima permintaan, Tuan-" Liam mencari rupa pria di depannya yang tertutup tudung dengan rapih. Namun ketika wajah itu terangkat lurus menatapnya, seketika itu pula ketakutan merambat ke seluruh tubuh pria muda itu.

Meskipun wajahnya penuh luka, tetapi Liam tidak bisa bersuara saat mengetahui siapa sosok didepannya hanya dengan memandang Ruby yang menyala terang menghunus matanya.

"Hei, apa yang lakukan ? Kenapa lama sekali? Tinggal usir dia atau seret kalau per-" pria bertubuh besar itu melebarkan bola matanya menampilkan keterkejutan yang sama dengan rekannya. Mereka kedua pun refleks menunduk hormat.

"Salam Pangeran Theodore Redwick," ucap mereka bersamaan dengan sebelah tangan menyentuh dada. keduanya belum ada niatan mengangkat kepala mereka sampai sosok agung di depan sana membuka suara. Mereka bahkan lebih mengumpat karena telah kecolongan setan silver Redwick itu.

Sedangkan Theo, dia berdehem saat namanya tiba-tiba disebut dengan lengkap. Dia agak malu takut-takut ada orang melihat wajahnya yang sialan buruk rupa.

"Hm. Sekarang bawa aku ke pimpinan kalian,"

"Maaf Pangeran, saat ini pimpinan akan mengadakan rapat inti,"

Buggh.

Jose, pria bertubuh besar itu baru saja memukul bahu Liam karena sudah membocorkan kegiatan pimpinan. "Oh kalau begitu aku akan beritahu Raja,"

Belum sempat dia berbalik tangannya langsung ditahan dengan pria bertubuh lebih kecil, "Maaf atas kelancangan saya Pangeran. Kami akan memberitahukan kedatangan Anda terlebih dahulu. Mohon ikut kami ke ruang tunggu,"

Duke CarlovCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang