Chapter 50 : A Boy In The East Tower (4)

4.1K 202 55
                                        

Happy Reading All

Ost :
Nour - Elles Dansent

Lyrics

We never hurt each other
I know no goodbye without tears
Even when the melody is pretty
We destroyed what we found beautiful
Of our laughter, only the echoes remain
I have my faults too.

I would have preferred my heart to come with the instructions.
Can we really stop love from asking too much?
Alone on the pillow when my eyes are wet, sometimes I imagine
See us again

They dance, they dance, they dance
On my cheeks in silence, my tears do not flow
They dance, they dance, they dance
I watch them act as if they were us through
They dance, they dance
On my cheeks in silence my tears do not flow
They dance, they dance, they dance
Even without the light for you

Happy Reading All >_<

•

•

•

Ruby kecilnya mulai terbuka perlahan. Dia memandangi langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Rasa perih pada matanya yang indah akibat terlalu banyak menangis telah diabaikannya.

Dia melihat ke sekelilingnya, tidak ada siapapun. Dan ini bukanlah kamarnya. Dimana dia ?

Niels kecil bangun dari tidurnya, berusaha keras menahan rasa sakit pada kepalanya. Kristal merahnya membola saat rangkaian kejadian yang menimpa dirinya dan sang pengasuh berputar-putar di dalam otaknya.

Spontan bocah itu turun dari kasur besar entah milik siapa kemudian berlari bak orang kesetanan. Mukanya pucat pasih, air matanya kembali mengalir. Dimana Gertha ?

Niels berlari di sepanjang lorong, membuat beberapa pelayan yang berniat mengganti sprei sang Duke terkejut bukan main. "Young Master ! Young Master sudah bangun !" teriak pelayan tersebut.

Semua pekerja yang mendengar teriakan itu ikut mencari arah teriakan serta objek yang dimaksud, begitupun Daniel yang baru saja berniat untuk menuju ruang kerja sang Duke yang hanya berjarak beberapa ruangan saja dari kamarnya.

"Tuan Muda, berhentilah berlari ! Anda sedang sakit !" teriak Daniel sambil mengejar kemana bocah itu pergi.

Langkahnya cepat hingga membuat pria dewasa seperti dirinya cukup kewalahan. Niels berlari menuruni tangga menuju ke luar kastil. Bocah itu seakan berniat untuk pergi ke tempat pembantaian kemarin.

"Tuan Muda ! Anda mau kemana ?!" tanya Daniel lagi. Semua orang melihat bagaimana tangan kanan sang Duke berlarian mengejar sosok anak kecil yang berlari sambil berlinangan air mata.

"Jangan melihat saja bodoh ! Hentikan Tuan Muda !", perintah Daniel saat mereka sudah berada di halaman depan kastil.

Para prajurit yang terkejut pun sigap menghadang bocah kecil itu membentuk barisan. "Tuan Muda, Anda mau kemana ? Anda sedang sakit, Tuan Muda." Ucap prajurit tersebut.

Duke CarlovCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang