Chapter 49 : A Boy In The East Tower (3)

2.8K 144 6
                                        

Happy Reading All 

Ost : 

Chris Grey - if i had you

Cara biar musiknya bisa keputer waktu kalian baca :

 Waktu pertama kali kalian buka BAB yg mau dibaca, kalian langsung cepet-cepet scroll ke bawah ya, nanti tunggu sampe musiknya ke puter, kalo mau di keatasin jangan sampe ngelewatin judul utama yang gede diatas biar musiknya gak tiba-tiba berhenti. Aku bener-bener saranin kalian baca sambil dengerin playlist aku selama aku nulis biar kebawa suasana.



Malam telah menguasai bekas tempat pembantaian tersebut. Suara-suara binatang pun mulai menggema, mengisi keheningan hutan yang nampak lebih menyeramkan dari biasanya.

Tubuh kecil itu masih memeluki jasad yang terkapar tanpa nyawa. Niels kecil masih terlelap dalam pingsannya hingga tak lama kemudian derap langkah kaki kuda mulai terdengar mendekati pusat pembantaian yang telah dilaporkan prajurit yang sempat kabur saat bersama anak itu.

Sesosok pria berusia tiga puluhan, bersurai hitam dengan gagah memimpin pasukan. Tatapan matanya menajam pada tubuh yang tergeletak tak jauh dari bangkai monster di ujung sana. Ekspresi pria itu tidak terbaca, kilau rubynya mulai menggelap ketika mendapati putranya terkapar bersimbah darah. Para prajurit pun sama terkejutnya dengan pria itu.

Duke Carlov spontan melompat dari kudanya, menghampiri tubuh kecil itu hampir berlari. Dirinya terdiam menyaksikan jasad sang Nany yang mengenaskan disamping putranya.

Entah darah siapa yang telah melumuri pakaian putranya, tetapi mata Willoun tidak terlepas sedikitpun dari posisi Niels yang memeluk erat tubuh pengasuhnya. Kabut tipis sang putra tengah melindungi tubuhnya dan sang pengasuh agar melukai siapa saja yang berani memisahkan bocah kecil itu dari Nany-nya. 

Ya, keduanya berselimutkan kabut milik Niels.

Kristal merah Willoun kemudian beralih ke arah kekacauan yang terjadi. Pohon-pohon penuh cipratan darah, beberapa bagian tubuh prajuritnya bahkan tergeletak di jalanan dan beberapa juga bergelantungan di ranting pohon. Willoun lalu melihat bangkai raksasa itu disana, bangkai monster yang ukuran tubuh berkali-kali lipat dari ukuran putranya mati mengenaskan dengan  ranting pohon menancap dibagian wajah makhluk tersebut.

Willoun masih bisa merasakan kabut hitam milik putranya pada tubuh bocah itu. Dia juga mendapati ranting yang masih menyangkut pada wajah monster disana penuh serangan lain berupa kristal hitam buatan Niels persis seperti miliknya.

Jadi semuanya benar. Kekuatan putranya telah aktif.

Dan yang lebih mengejutkannya lagi, kekuatan itu aktif karena ingin menyelamatkan Nany-nya. Bocah itu memiliki potensial yang tidak bisa diabaikan oleh Willoun. Seharusnya kekuatan tersebut tidak muncul diusia secepat itu.

Setelah ini apa yang akan terjadi dengan anak itu saat mengetahui Nany-nya telah tiada ?

Willoun terdiam. Para prajurit yang terus menerangi tempat kejadian dengan obor masih menanti perintah pria yang sibuk dengan pikirannya. 

Setelah memikirkan solusi dari segala rentetan kekacauan yang terjadi, Willoun pun akhirnya bersuara. 

"Bawa bangkai monster itu ke kastil sebagai barang bukti. Dan bawa juga jasad-jasad yang tersisah serta pengasuh putraku,"

Duke CarlovCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang